Kamis, 4 Juni 2026

Pendidikan Politik atas Korban ISIS

Photo Author
Admin 1, Nawacita Post
- Sabtu, 8 Februari 2020 | 08:31 WIB
Jakarta, NAWACITA - Kombatan ISIS adalah WNI, seperti juga WNI yang kena ancaman virus korona, mereka juga mesti diurus negara. Karena memang negara mesti hadir. Dan penanganan yang tepat justru jadi management knowledge yang mahal untuk SOP masa depan," kata Mardani dalam keterangan tertulis.

Mardani membandingkan polemik tersebut dengan pemulangan WNI dari Tiongkok yang terancam wabah virus korona. Kalau dicermati sekilas, ungkapan Mardani itu terkesan sangat bijak. Tetapi sebetulnya ungkapan itu bernuansa politik. Padahal WNI di Wuhan dan di pengungsian Suriah, dua hal yang berbeda, dalam hal esensi maupun konteks persoalannya.
Baca Juga: Sikap Pemerintah atas Ex Kombatan ISIS

Umat islam yang merupakan basis suara PKS, khususnya orang awam, langsung punya konotasi “kalau urusan dengan China, dengan orang kafir, semua gampang. Tapi kalau urusan dengan orang islam, semua jadi sulit”. Orang awam tidak paham siapa dan mengapa WNI ada di China itu. Siapa dan mengapa WNI yang ada di Suriah bersama ISIS. Kalaupun mereka sedikit paham, itu tidak mempengaruhi stigma bahwa pemerintah zolim kepada orang islam. Ini cara berpolitik yang benar benar tidak mendidik.

Mengapa ? Di dalam negara itu ada rakyat, Ormas, tokoh masyarakat, pemerintah. Semua punya tanggung jawab masing masing. Engga bisa kalau bicara negara artinya itu hanya melulu soal pemerintah. Artinya kalau negara diminta hadir dalam setiap persoalan, maka kita semua juga harus ikut bertanggung jawab terhadap persoalan bangsa ini.

Seharusnya Mardani memanfaatkan momentum polemik evakuasi WNI ex ISIS ini untuk melakukan pendidikan politik. PKS harus berkata kepada publik “ Jangan pernah percaya jargon khilafah islamiah. Itu semua adalah pembodohan dan penipuan. Lihatlahn contoh umat islam yang sekarang ada di kamp pengungsian. Mereka meratap atas kebodohannya dan berharap dipulangkan ke Indonesia.”

Seharusnya MUI dan Ormas Islam juga mengeluarkan pendapat keagamaan, bahwa mempercayai ISIS atau sejenis yang mempropagandakan khilafah adalah haram. Ini momentum yang tepat. Saat yang tepat untuk mendidik masyarakat dan sekaligus mencerdaskan masyarakat agar tidak melakukan kezoliman terhadap dirinya sendiri.

Seharusnya pemerintah, menteri agama, juga mengeluarkan pernyataan “ Ex ISIS ini adalah bukti nyata kalau rakyat tidak patuh kepada pemerintah. Dulu diperingatkan jangan ke Suriah tetapi bandel dan merasa benar dengan keyakinan beragama. Padahal salah. Kalau sudah begini kan membuat repot semua orang. Bukankah biaya kepulangan itu menggunakan uang pajak rakyat termasuk pajak umat agama lain yang dianggap kafir oleh pengusung khilafah islamiah.”
Baca Juga: Hikmahanto Juwana: Kewarganegaraan WNI eks ISIS Otomatis Gugur

Dengan sikap seperti tersebut diatas, maka polarisasi di tengah masyarakat, tidak terjadi. Masyarakat focus kepada nilai nilai kemanusiaan terhadap nasip saudaranya yang jadi korban kebodohan ISIS. Tetapi dengan cara membela mereka Ex ISIS itu, dengan alasan kemanusiaan , dan menyalahkan faktor kemiskinan dan ketidak adilan sehingga paksa pemerintah bertanggung jawab untuk evakuasi, itu semakin menimbulkan persoalan politik, bukan lagi kemanusiaan. Jangan salahkan orang lain bila beranggapan partai dan Ormas juga berperan mempropagandakan orang berangkat dan bergabung dengan ISIS. Lantas mengapa negara harus tanggung jawab memulangkan mereka.?

Lihatlah China ketika ada wabah virus corona, ini kesempatan bagi elite politik mencerdaskan rakyat agar rakyat tidak lagi mengkonsumsi hewan liar, dan mengutamakan kesehatan dengan menjaga kebersihan dan menjaga lingkungan tetap sehat. Tanpa disadari wabah ini menjadi ajang pendidikan mental terbaik secara nasional dan sekaligus upaya revolusi budaya dari hedonis menjadi egaliter seperti prinsip sosialisme. Setelah wabah virus ini, China akan menjadi lebih kuat secara mental.

Bangsa ini terpuruk dan sulit mengatasi hambatan menjadi peluang seperti China, karena para elite tidak pernah mendidik dan mencerdaskan masyarakat secara politik. Mereka justru memperbodoh rakyat dan menggiring narasi dalam setiap persoalan agar rakyat tergantung kepada elite. Ini benar benar berpolitik dengan cara cara Machiavellianisme. Sangat destruktif terhadap pendidikan mental dan akhlak. Kalau sikap ini tidak diubah, negari ini sangat renta dari pengaruh globalisasi. Kita benar benar berada diatas tungku dan setiap orang mengenggam bara.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Editor: Admin 1

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini