Skandal ASABRI

6
378
Jakarta, NAWACITA - Menurut Pak Mahfud diperkirakan kerugian ASABRI mencapai Rp. 10 triliun. Saya akan menyoroti masalah amburadulnya management ASABRI. Lagi lagi ini bukan hanya kesalahan menejemen dalam mengelola portfolio, tetapi juga kesalahan komisari, OJK dan kementrian BUMN.
Skandal ASABRI

Jakarta, NAWACITA – Menurut Pak Mahfud diperkirakan kerugian ASABRI mencapai Rp. 10 triliun. Saya akan menyoroti masalah amburadulnya management ASABRI. Lagi lagi ini bukan hanya kesalahan menejemen dalam mengelola portfolio, tetapi juga kesalahan komisari, OJK dan kementrian BUMN. Mengapa saya ingin bahas.? karena ada pertanyaan besar. Mengapa bukan oleh Menteri BUMN yang membukan borok ASABRI. ? Mengapa bukan oleh menteri Keuangan?. Mengapa bukan oleh OJK? Tentu ada kekuatan besar yang menghalangi otoritas yang terkait untuk membukanya. Itu sebab sampai Pak Mahfund bicara. Maklum pak Mahfud orang yang sangat dipercaya Jokowi. Mari kita lihat kasus ASABRI di bawah ini.

Baca Juga: Indonesia Surga bagi Koruptor

Berdasarkan informasi Bursa Efek Indonesia, dari 14 saham emiten yang ada dalam portfolio ASABRI anjlok hingga 80%. Padahal kepemilikan saham emiten itu diatas 5%. Jadi nilainya cukup besar yang loss. Ambil contoh saham dari Emiten PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP). Mengacu laporan keuangan Maret 2019, saham terbesar IIKP ialah ASABRI sebesar 11,58% atau sebanyak 3,89 miliar saham senilai Rp 38,89 miliar. Pada bulan Mei 2019 IIKP masuk unusual market activity/UMA. Artinya harga jatuh engga wajar. Secara mingguan, saham IIKP minus 29,21%, sementara secara tahun berjalan atau year to date (ytd) minus 74%. Praktis saham yang dipegang oleh ASABRI nilainya tinggal 26% saja. Itupun tidak likuid.

Umumnya Emiten yang jadi penempatan dana ASABRI adalah emiten yang masuk katagori small cap. Pergerakan harganya di Bursa menggunakan pola Pump and Dump. Ini cara untuk mainkan saham yang tidak mengikuti mekanisme pasar, yang bertujuan untuk menguntungkan pihak tertentu. Hebatnya PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), juga adalah emiten yang menjadi penempatan dana oleh Jiwasraya. Saya menduga, penempatan dana kepada IIKP, ada yang ngatur. Ini pasti berhubungan dengan kekuasaan. Karena engga mungkin saham gocap bisa menjadi wahana investasi oleh kedua perusahaan Asuransi BUMN itu.

Dalam audit BPK, menyebutkan nama HI ( Hanson International) terlibat sebagai penerima aliran dana Jiwasraya lewat pembelian MTN senilai Rp 680 miliar. Walau HI sudah clarifikasi laporan BPK karena MTN telah dilunasi, namun hasil audit BPK berkata lain. Kan engga mungkin BPK salah mengaudit, apalagi itu audit forensic. Itu pasti menggunakan standar yang teruji. Nah, ASABRI ternyata juga pemegang saham 6,06% dari HI. Pembelian saham HI dilakukan pada tahun 2016. Saya tidak tahu berapa harga saham yang dibeli ASABRI. Kita tunggu hasil audit BPK nanti. Anda bisa bayangkan, Jiwasraya aja dikerjain oleh HI apalagi ASABRI sebagai pemegang sahamnya yang duitnya banyak.

Baca Juga: Membongkar Jiwasraya

Bukan itu saja, HI juga melakuka kegiatan menghimpun dana dari masyarakat. Menurut Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) kegiatan tersebut melanggar UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan UU Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Sebab, hanya bank yang boleh menghimpun dana. MAKI mengadvokasi para investor retail yang jadi korban. Mengadukan HI ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri dengan dugaan tindak pidana perbankan dan pasar modal. Kalau pengaduan ini valid dan HI dibubarkan, kebayang engga berapa kerugian ASABRI.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), per 13 Desember 2019. Dato Sri Tahir pemilik Mayapada, PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) akan mengakuisisi anak usaha PT Hanson International Tbk (MYRX) dan PT Rimo International Lestari Tbk (RIMO). Keduanya merupakan perusahaan yang dinahkodai Benny Tjokrosaputro. Ada apa?. Padahal semua tahu HI itu bermasalah. Tahun 2016, OJK menemukan bukti HI melakukan penipuan neraca tetapi hanya kena denda tanpa proses lebih lanjut. Mengapa diakuisisi oleh Tahir? Tapi kemarin Tahir bantah beriita itu. Dia bilang HOAX. Lantas apakah BEI yang mengeluarkan informasi itu hoax?

Kemarin Ibu Srimulyani bilang bahwa kasus Jiwasraya terindikasi sistemik. Artinya berpotensi di bailout, tentu akan sama juga dengan ASABRI. Saran saya kepada pemerintah. Focus sajalah kepada proses hukum. Engga usah ada wacana sistemik segala. Segera lakukan penyitaan sementara harta mereka melalui PG (personal Guarantee ) sebelum masuk proses pengadilan. Jadi kerugian bisa diminimalis.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.