Indonesia Surga bagi Koruptor

1
360
Jakarta, NAWACITA - Ada teman saya tahun 2000 dia masih kere. Pernah tunggu saya di lobi hotel selama 2 jam hanya untuk dapatkan uang beli susu anaknya. Tapi tahun 2010, dia sudah kaya raya.
Indonesia Surga bagi Koruptor

Jakarta, NAWACITA – Ada teman saya tahun 2000 dia masih kere. Pernah tunggu saya di lobi hotel selama 2 jam hanya untuk dapatkan uang beli susu anaknya. Tapi tahun 2010, dia sudah kaya raya. Bagaimana bisa? dia dapat boss besar, yang membantu dia bisnis kedelai. Kebetulan melalui ormas keagamaan dia dikenalkan dengan menteri perdagangan. Dia dapat izin impor kedelai. Belakangan dia juga dapat izin impor garam. Semua modal dari boss besar. Dia hanya terima fee. Dari fee itu setiap kali impor dia dapat miliaran rupiah. Kerjaannya hanya elus elus telor menteri dan Ketua Ormas keagamaan. Dari itu dia hidup di kawasan mewah dan bergaya hedonis.

Baca Juga: Anies Baswedan akhirnya Akui Leadership Jokowi

Ada juga teman saya yang tadinya hanya pedagang perantara obat dari Singapore. Usaha itu bangkrut karena keagenannya dipegang oleh pabrik obat di Indonesia. Istrinya minta cerai. Anaknya 3 tinggal dengan orang tuanya di Medan. Tahun 2004, dia sudah kaya raya. Itu karena kedekatannya dengan Partai dan Ormas keagamaan, dia punya akses ke pejabat BPPN. Dari sana dia dapat asset dengan harga murah. Uangnya dari cukong di Singapore dan dia dapat fee saja. Belakangan dia dapat bisnis buka hutan untuk kebun sawit. Semua modal dari Singapor. Setelah hutan dibakar, dan sawit ditanam dia dapat fee dari Singapore lewat skema akuisisi dan jasa buka lahan. Kini tiga anaknya sekolah di AS.

Cerita lain, teman saya tadinya hanya pedagang hasil bumi antar pulau. Tidak pernah berkembang. Namun ketika booming batu bara , dia kenalan dengan Ketua Partai dan Ormas. Dari sana dia dapat konsesi tambang. Duit dia dapat dari investor di China. Semua alat berat dan biaya exploitasi dari Cina, dan China pula sebagai pembeli. Praktis dia hanya duduk manis, dapat uang sekian dollar dari setiap ton batu bara yang diekspor. Setiap tahun jutaan dollar dia dapat. Terakhir saya ketemu dia, kendaraanya seharga miliaran rupiah. Katanya dia punya 11 mobil mewah di rumah dan selusin jam tangan mewah yang rata rata harganya per unit diatas USD 200.000. Artis tenar dia jadikan kucing piaraan. Punya jet pribadi.

Ada juga teman yang kaya raya karena dapat konsesi bisnis infrastruktur. Dia dapat goodwill fee miliaran rupiah dari jual konsesi itu kepada investor asing lewat skema JV dan akuisisi setelah proyek jadi. Makanya dia rajin sekali elus elus telor pejabat. Dari TNI, politisi, ormas dia rangkul mesra agar segala kemudahan dan fasilitas dia dapat. Ada juga teman yang kaya raya dari melobi BUMN yang pegang duit banyak seperti Dapen dan Asuransi. Dia atur skema investasi, atur pejabat terkait agar meloloskan skema itu. Dari sana dia dapat miliaran uang dengan mudah. Tanpa resiko. Secara legal dia tidak terlibat. Kalau terjadi apa apa dikemudian hari dia hanya senyum. Yang masuk bui direktur BUMN dan pejabat itu.

Baca Juga: Membongkar Jiwasraya

Celah korupsi di negeri ini sangat mudah. Engga perlu ngerampok APBN. Itu cara jadul. Era sekarang caranya canggih, dan selalu ikuti peraturan yang ada. Dari aturan itulah korupsi sistematis terjadi, dan membuat kita tidak pernah mandiri dan tidak pernah bisa mensejahterakan rakyat. Tahukah anda betapa buruknya korupsi semacam itu. “Seumpama korupsi di bidang pertambangan bisa dihapuskan, setiap kepala orang Indonesia mendapat uang gratis dari negara Rp 20 juta tiap bulan. Begitu kayanya. Belum lagi korupsi di bidang lainnya kehutanan kelautan, wah kaya sekali kita ini,” kata Mahfud di Perayaan Natal Kebangsaan Korps Brimob di Mako Brimob, Cimanggis, Depok, Jumat (10/1/2020) malam. Tugas Jokowi sangat berat. Dan tentu sangat mulia bila bisa mengganyang praktek korupsi semacam itu.

Saya bersyukur walau berteman dengan orang orang seperti cerita diatas, saya tidak kaya dengan cara seperti mereka. Walau karena itu saya bukan konglomerat tapi saya bahagia dengan hidup sederhana. Memang saya belum bisa berbuat banyak untuk negara tetapi setidaknya saya tidak ikut merusak negara.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.