Rugi Rp 59 Triliun, Dana Pensiun Gugat Allianz

0
201
Rugi Rp 59 Triliun, Dana Pensiun Gugat Allianz

NAWACITAPOST- Sejumlah dana pensiun (dapen) yang mengelola dana milik pengemudi truk, guru, dan karyawan perusahaan jaringan kereta bawah tanah mengajukan tuntutan hukum di Amerika Serikat (AS) terhadap Allianz Jerman, salah satu perusahaan global pengelola dana investasi. Tuntutan itu diajukan lantaran Allianz dianggap gagal melindungi investasi mereka selama krisis yang terjadi akibat dampak pandemi virus corona (Covid-19). Pada Maret lalu, Allianz SE (kode saham ALVG.DE) juga terpaksa menutup dua hedge fund mereka setelah mengalami kerugian besar, memicu gelombang litigasi yang menurut perusahaan gugatan tersebut cacat secara hukum dan faktual. Berbagai gugatan hukum dari dana pensiun di AS pun ramai diajukan di Distrik Selatan, New York, AS, mengklaim bahwa investor kehilangan total dana sekitar US$ 4 miliar atau setara dengan Rp 59,20 triliun (kurs Rp 14.800/US$.

Manajemen Allianz mengungkapkan dampak buruk tuntutan itu juga memicu pertanyaan dari regulator pasar modal AS (Securities and Exchange Commission/SEC). Seorang juru bicara Allianz Global Investors kepada Reuters mengatakan pada dikutip Selasa (29/9/2020). Meskipun kerugian [para investor] membuat kecewa, tuduhan yang dibuat oleh para penggugat cacat hukum dan faktual, dan akan membela diri dengan keras terhadap mereka. Para penggugat berasal dari investor profesional yang sebetulnya berinvestasi dengan melibatkan risiko sepadan dengan keuntungan yang lebih tinggi. Dalam istilah di pasar modal, high yield high return.

Baca Jua : Indonesia Corruption Watch : DPR Gagal Pilih Ketua KPK

Allianz dan unit manajemen investasinya, Allianz Global Investors, pekan lalu datang dari salah satu dana pensiun karyawan perusahaan sistem transportasi New York, Metropolitan Transportation Authority (MTA).

MTA ini memiliki 70.000 karyawan dan melakukan investasi awal sebesar US$ 200 juta. Gugatan serupa telah diajukan terhadap Allianz oleh dana pensiun serikat pekerja Teamster, Blue Cross dan Blue Shield, dan para guru Arkansas. Gugatan tersebut saat ini dalam proses pencarian juri di pengadilan untuk menuntut ganti rugi.

Allianz Global Investors, melalui pengelolaan dana produk Structured Alpha, dituding menyimpang dari strategi pengelolaan dana mereka karena tak mampu melindungi dana investor dari penurunan akibat volatilitas pasar keuangan dalam jangka pendek. Penyelidikan SEC saat ini masih berlanjut dan Allianz juga menegaskan tetap bekerja sama. SEC tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters. Dalam salah satu gugatan, disebutkan Allianz menarik minat investor dengan pendekatan investasi di berbagai kondisi. Menarik investor dengan pendekatan investasi , kondisi apapun, Allianz  mempertaruhkan aset [para penggugat] dan karena keserakahan mengorbankan dana pensiun dan tunjangan yang diperoleh dengan susah payah dari para pekerja MTA, yang pada saat itu mempertaruhkan hidup mereka di bawah pandemi Covid-19 di New York yang tetap hidup.

Seorang juru bicara MTA mengatakan.  Dana pensiun karyawan tidak berisiko. Kasus-kasus tersebut merupakan litigasi kedua untuk Allianz, salah satu perusahaan asuransi terbesar di Eropa. Perusahaan yang berbasis di Munich itu, bersama dengan para pesaingnya menghadapi tuntutan karena tidak membayar klaim terkait penutupan bisnis selama penguncian atau lockdown saat pandemi.

Bisnis asuransi perusahaan secara keseluruhan tengah tertekan karena menghadapi klaim atas event-event bisnis yang dibatalkan, dan penurunan permintaan untuk asuransi mobil dan asuransi perjalanan. Pada akhir Maret, Allianz memberi tahu investor bahwa mereka melikuidasi dua hedge fund, serta dana pengumpan luar negeri atau offshore. Investor kehilangan 97% di salah satu dana, kata gugatan itu. Pada April, lembaga pemeringkat reksa dana global, Morningstar menurunkan peringkat untuk sisa dana pengelolaan Allianz menjadi negatif , karena kegagalan dalam protokol manajemen risiko dan ketidakpastian.

Allianz membantah peringkat tersebut dan pada Juli menerbitkan laporan internal yang menyebutkan. Kerugian tersebut bukanlah akibat dari kegagalan dalam strategi investasi portofolio atau proses manajemen risiko.