Kamis, 4 Juni 2026

Arab dibalik Konflik AS-Iran

Photo Author
Admin 1, Nawacita Post
- Selasa, 7 Januari 2020 | 08:19 WIB
Jakarta, NAWACITA - Tahun 2015, AS merencanakan keluar dari kesepakatan yang membatasi program nuklir Iran dan memberlakukan kembali sanksi. Setelah itu team inti Trumps dipecat dan diganti dengan tim yang berpaham keras dalam menyelesaikan masalah Iran. Mengapa ? ini terjadi berkat lobi Israel dan Arab kepada elite politik yang dekat dengan Trump. “ Harus ada tindakan militer kepada Iran. “ demikian saran team kepada Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton. Tahun 2018, itu benar benar dilakukan. Sejak itu ketegangan antara AS dan Iran semakin memuncak. Arab dan Israel happy.
Baca Juga: China, Iran dan Indonesia Negara Adidaya Masa Depan

Namun pada 28 desember 2018, Trump terbang ke Irak. Ia berpidato di depan pasukan AS di sebuah pangkalan udara di Irak barat. Bahwa dia mendukung rencana untuk menarik pasukan AS dari Suriah. Arab Saudi tentu keberatan sekali. Karena bila AS keluar dari Suriah, maka praktis secara politik, Suriah dikuasai oleh Iran dan Rusia. Ini jelas mengancam eksistensi Arab Saudi. Rasa kawatir ini disikapi berlebihan oleh ring satu Trump, yang sudah dikuasai oleh Saudi. Menteri Pertahanan Amerika dan utusan khusus AS untuk koalisi anti-ISIS mengundurkan diri setelah Trump membuat keputusan tanpa konsultasi dengan mereka.

Ditahun 2018 ketegangan antara Rusia dan Ukraina mencapai titik didih. Tapi Trump tidak merespon dengan baik. Ini tentu membuat sekutunya Eropa sangat kecewa. Karena ancaman Rusia jauh lebih besar daripada ISIS dan Al Qaeda. Putin dianggap presiden yang ekspansionis. Perbatasan Eropa terancam. Kemudian, Angkatan Laut Kerajaan Inggris menyita tanker Iran di lepas pantai Gibraltar pada 4 Juli 2019, dengan tuduhan membawa minyak untuk Suriah, di mana itu merupakan pelanggaran terhadap sanksi Uni Eropa sesuai maunya AS. Iran membalasnya dengan merebut tanker berbendera Inggris, Stena Impero, yang sedang berlayar di Teluk Persia. AS tidak berbuat banyak. Bahkan Trump tetap memaksa agar inggirs terus menahan kapal Iran di Gibraltar tanpa peduli dengan kapal inggris yang disandera Iran. Akhirnya inggris terpaksa membebaskan kapal Iran tanpa peduli permintaan Trump.

Ketegangan juga meningkat di Laut Cina Selatan antara AS dan Cina. November 2018, Wakil Presiden Mike Pence ditanya tentang kegagalan China untuk memenuhi tuntutan AS atas praktik perdagangan yang tidak adil. Tanggapan Pence, AS tidak akan menarik kapal induknya dari Laut China Selatan. Tidak akan ada kompromi sebelum China tunduk dengan kesepakatan dagang yang menguntung AS. Dampaknya mitra dagang Eropa di ASEAN berbalik mendukung China dan menolak proposal indopacific yang diajukan AS. Karena bagi negara ASEAN, lebih baik berunding dengan China daripada AS. Apalagi kehadiran kapal perang AS di Laut China selatan akan semakin menyulitkan bagi negara ASEAN untuk menarik investor untuk berinvestasi atas SDA yang ada di ZEE. Ini tentu membuat Eropa kecewa. Terutama sikap Jakarta yang menghentikan ekspor bahan baku tambang. Eropa sangat dirugikan. Kunjungan Menteri Luar negeri AS ke Jakarta tahun lalu gagal menekan Jokowi.
Baca Juga: Class Action untuk Anies Baswedan

Sikap kecewa Eropa kepada AS-- akibat kebijakan Trump yang tidak setia teman -- inilah yang dimanfaatkan oleh Arab Saudi untuk menekan Trump dalam menghadapi ancaman Iran, dari akibat akan keluarnya pasukan AS dari konflik Suriah. Desember 2019, Donald Trump menjadi presiden AS ketiga dalam sejarah yang dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS. Mudah ditebak, ini berkat lobi elite politik dari Eropa yang mempengaruhi DPR AS. Nasib Trump sebagai presiden masih akan ditentukan dalam persidangan di Senat. Nah, lobi Arab Saudi dan Israel dengan Senat AS sangat kuat. Apalagi Senat AS terkesan konservatif dalam menghadapi masalah Timur Tengah. Trump tersudut. “ Serang Iran atau Trump dimakzulkan”.

AS menuduh milisi di bawah Kataeb Hezbollah dianggap bertanggung jawab atas serangann roket di pangkalan militer Irak., yang melukai kontraktor warga negara AS. Padahal tuduhan itu tidak beralasan. Bagaimana mungkin?. Milisi Kataeb Hezbollah diakui keberadaannya oleh pemerintah Irak. Ia akan menjadi bagian dari angkatan bersenjata Irak setelah proses pembentukan tentara nasional Irak. Tetapi tanpa melalui investigasi atau memberikan hak kepada pemerintah Irak untuk mengusut, AS malah membalas dengan mengebom lima wilayah di Irak dan Suriah. Yang mengakibatkan 25 orang pejuang milisi yang didukung Iran di Irak, di bawah Kataeb Hezbollah tewas.

Belum cukup? AS juga mengirim rudal melalui dron yang menewaskan Qasem Soleimani, pemimpin Pasukan Qud elit Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC). Yang merupakan pemain kunci menghabisi pasukan ISIS di Irak dan Suriah. Akibatnya keadaan semakin memanas. Kini Trump bukannya melaksanakan rencana keluar dari Irak, bahkan mengirim pasukan tambahan sebanyak 5000 ke Irak. Walau Parlemen Irak sudah mengesahkan UU mengusir AS dari Irak, namun AS balik mengancam Irak. Arab Saudi kini bisa tersenyum. Bagi Arab Saudi , Iran atau Irak sama saja. Karena keduanya dikuasai oleh elite Syiah.
Baca Juga: IRAN: Trump adalah Teroris, Lebih Kejam dari ISIS, Hitler dan Jenghis Khan

Lantas apa yang ditakuti oleh Arab Saudi ? Ada lima penyebabnya, Pertama, Iran adalah negara yang memimpin komunitas Syiah dalam komunitas Muslim dan Arab Saudi adalah negara yang memimpin komunitas Sunni dalam komunitas yang sama. Dua cabang utama Islam ini memiliki konfrontasi agama yang kuat sejak dahulu kala, dan konfrontasi masih ada sampai sekarang. Kedua, Sebagai pemimpin dari dua komunitas Muslim yang berbeda ini, Iran dan Arab Saudi ingin menjadi kekuatan dominan di Timur Tengah, dan ini adalah alasan untuk konfrontasi yang kuat antara kedua negara.

Ketiga, Arab Saudi adalah salah satu sekutu AS yang paling relevan di Timur Tengah, dan Iran adalah musuh terkuat AS di kawasan yang sama. Keempat, posisi kedua negara terhadap Israel berbeda. Iran memiliki oposisi kuat terhadap keberadaan Israel di kawasan itu, sementara Arab Saudi memiliki posisi yang lebih toleran terhadap keberadaan negara ini. Kelima, Iran tidak suka dengan sistem kerajaan yang menjadi pengawal dua kota suci ( Makkah dan Madinah). Artinya Iran punya rencana untuk membubarkan dinasti Saud, menggantinya dengan sistem republik. Sehingga demokrasi hidup. Umat islam punya hak yang sama terhadap dua kota suci.

Satu-satunya cara kedua negara ini dapat berkontribusi pada stabilitas di Timur Tengah adalah jika kedua negara menemukan solusi untuk perbedaan mereka dan berhenti dikendalikan oleh negara lain. Arab harus keluar dari dominasi AS. Dan Iran harus keluar dari dominasi China dan Rusia. Itu saja. Selagi, mereka tidak bisa berdamai, apapun alasan mereka bertikai, itu hanya menguntungkan negara yang mengendalikan mereka. Ini soal ekonomi, AS, China, dan Rusia. Tiga negara inilah yang mendapatkan keuntungan dari konflik yang ada. Semoga ini jadi pelajaran bagi Indonesia, agar tetap berada dalam posisi politik bebas aktif. Berteman dengan siapapun selagi menguntungkan dalam negeri.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Editor: Admin 1

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Trump Menyerah Pada Iran Demi Pasokan Minyak

Rabu, 8 April 2026 | 16:23 WIB