Baca Juga : PGI Terpesona Bualan Novel? Minta Presiden Turun Tangan
Perlu diketahui, bahwa setiap lembaga yang dibiayai APBN. Ketentuannya dalam perintah UU Kepegawaian 'jenis kelaminnya' harus menjadi ASN. Maka, untuk beralih status menjadi ASN, dilibatkan BKN, BNPT, BIN, Psikologi TNI AD, dan pihak lainnya yang dianggap cakap dan bisa dipertanggungjawabkan.
Kemudian diadakan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK), tentu muatan 4 konsesus nasional : Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
Baca Juga : PGI Melampaui Kapasitas Sebagai Organisasi Gereja
51 itu bagian dari 1350 -an orang di KPK, kemudian tak lulus 75 orang, dilakukan Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) tahap dua, 24 bisa dibina bersama yang lebih dulu lulus TWK 1200 -an, sisanya 51 itu tidak bisa dibina. Analoginya, 1300 an ternyata bisa dibina, Novel Cs dan 50 orang tidak bisa dibina.
Novel Cs pun melakukan langkah diluar ketentuan UU, terkait tidak bisa dibina. Bersafarilah, ia dan rombongan yang tidka lulus TWK - tidak bisa dibina, Kamis 27 Mei 2021 curhat ke Komnas HAM, dan Jumat 28 Mei 2021 ke Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).
Ketua umum PGI Pdt. Gomar Gultom M.Th dan Sekum PGI Pdt Jacky Manuputty S.Th terpana, terpesona, dan terbuai oleh bualan Novel. Kata Amin dari duet petinggi PGI itu disuarakan dengan nyaring, di kantor PGI yang terhormat itu.
Ferdinand Hutaehaean dilansir suara.com, awal April 2021, kesan publik terduga Novel Baswedan pro radikalisme, sehingga tak lulus TWK dan juga tak bisa dibina.
Kemudian ke PGI, eks politisi Demokrat yang kini giat di medsos, entah setan apa yang merasuki PGI ini. Visi misi PGI bukan jadi pembela orang yang ingin mempertahankan jabatannya tapi ikut-ikutan berpolitik.
Bukannya memperjuangkan hal-hal tentang gereja dan jemaatnya agar mudah beribadah, malah mengurusi bukan urusannya, tutur Ferdinand dalam cuitannya di medsos.
Kabar lainnya, hanya PGI yang menerima curhatan bualan Novel, lembaga keumatan besar lainnya pasca hasil TWK tidak bisa dibina, menutup pintu rapat-rapat. Karena lembaga keumatan yang besar itu tidak ada kata kompromi untuk orang yang tidak bisa dibina dan sudah terpapar radikalisme.
Bahkan, hanya hitungan jam setelah Novel meninggalkan kantor PGI yang diantar langsung duet PGI. Netizen banyak berujar tak sedap, dan tajam. Bahkan sampai viral, karena ada netizen yang menyatakan bahwa lebih baik Pak Gomar Gultom dan Pak Jacky Manuputty mundur dari Ketua Umum dan Sekum PGI, karena ngotot mempertahankan Novel Baswedan (dugannya pro radikalisme) harus berada di KPK.