Minta Rizieg Dibebaskan, Kader Utama SBY – AHY Membela Radikalisme? 

0
507
Andi Arief Kepercayaan Utama SBY dan AHY (kiri), Rizieq Shihab (kanan)

Jakarta, NAWACITAPOST – Pembebasan Jumhur Hidayat, disambut gembira oleh orang kepercayaan  utama SBY dan AHY, Andi Arief. Padahal, Jumhur turut diduga sebagai salah satu orang yang mau menjatuhkan pemerintahan Jokowi melalui kabar hoaks berantai di medsos.

Baca Juga : Rizieq Shihab Diusir Di Tanah Milik PTPN 8 Bogor 

Kembali ke Andi Arief. Dulunya melekat sebagai  Aktivis Pro Demokrasi yang menjatuhkan rezim Orde Baru, Soeharto. Sebelum reformasi, pria asal lampung ini bergulat erat dengan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Semacam pemikir gerakan mahasiswa, yang menjatuhkan Presiden RI ke – 2 Soeharto.

Pengenalannya dengan Presiden RI ke – 6, saat dirinya masih menjadi aktivis mahasiswa , dan SBY kala itu menjabat  Komandan Resor Militer 072/Pamungkas di Yogyakarta pada tahun 1995.

Wataknya semakin berubah dan liar, ketika dipercaya era SBY, sebagai Komisaris di PT Pos Indonesia dan Staf Presiden Bidang Bencana. Segala cara mulai dimuntahkan oleh orang ini.

Kala, sebagai Sekjen Jaringan Nusantara, semacam penanggung jawab kampanye internet pasangan Capres SBY – Boediono. Beredar kabar, tentang penggelembungan  suara ke capres tertentu, namun hal tersebut tak bisa dibuktikan dengan dukungan data yang akurat.

Kali ini, kita soroti, sosok Andi Arief yang boleh dibilang hampir sama dengan eks Sekum FPI, Munarman dari aktivis Pro Demokrasi menjadi anti dan cenderung bersama dengan rezim yang dia dulu jatuhkan, Orde Baru – Cendana.

Jadi tidak aneh, Andi Arief kini sudah berubah 180 derajat, dari yang dulu  berada dalam garis perjuangan reformasi berbalik menjadi anti.

Buktinya, Andi meminta pembebasan Jumhur Hidayat, serta Rizieg Shihab, dan Munarman. Padahal dua orang terkahir yang disebut penganjur utama pembaiatan eks FPI ke ISIS. Apakah Andi mau menggiring mereka (polisi)  yang melanggar HAM? Padahal melalui dua orang itu, dugaan teror bom Makasar dan teror bom lainnya terjadi. Itu menurut temuan dari tim Densus 88 yang menangkap sejumlah eks FPI.