Terbukti Hasil Swab Warga Binaan Negatif Covid 19

4
597
Foto : Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), Kombes Pol. Drs. Reynhard Saut Poltak Silitonga, SH, MSi

Jakarta, NAWACITAPOST  –  Direktur Jenderal Pemasyarakatan (Dirjen PAS), Reynhard Silitonga, menegaskan saat menggelar rapat pimpinan di Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Selasa (12/5). Hingga kini belum terdapat warga binaan positif COVID-19 di Rutan Pondok Bambu dan Lapas Gorontalo.  Warga binaan dengan hasil reaktif terhadap rapid test akan dikarantina. Ditempatkan didalam rutan atau lapas yang telah disiapkan di setiap wilayah. Dilanjutkan dengan swab dan tes Polymerase Chain Reaction (PCR).

Menkumham, Yasonna dalam rapat

Dirjen PAS menambahkan. Sebelumnya rapid test telah dilakukan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Pondok Bambu dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Gorontalo. Diikuti petugas dan warga binaan.  Hingga saat ini masih menunggu laporan dari kepala kantor wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta dan Gorontalo. Terkait hasil swab warga binaan yang reaktif saat rapid test. Baik di Rutan Pondok Bambu maupun Lapas Gorontalo. Rapid test hanya digunakan untuk screening awal karena bagaimanapun lapas dan rutan menjadi salah satu tempat yang rawan penyakit menular.

Foto : Warga binaan rapid test

Dilanjutkan, rutan Pondok Bambu menyelenggarakan rapid test selama 3 hari pada 9-11 Mei 2020. Kepada  115 orang petugas, 2 orang petugas kantor wilayah Kementerian Hukum dan HAM DKI Jakarta, 309 warga binaan, 2 anak bayi, 9 orang pegawai kejaksaan dan 12 orang pihak eksternal. Pelaksanaan pemeriksaan merupakan hasil kerja sama dengan suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur dan Puskesmas Duren Sawit. Terdapat 2 orang petugas dan 24 orang warga binaan yang hasil rapid test-nya reaktif. Hingga saat ini sebanyak 12 warga binaan Reaktif telah menjalani tes PCR dan dikarantina di Rumah Sakit Pengayoman. Hasil swab yang rencananya akan dilakukan pada 12 Mei 2020 oleh Puskesmas Duren Sawit Sudinkes Jaktim. Sedangkan dua petugas menjalani isolasi mandiri di rumah dan diperintahkan melapor ke puskesmas atau rumah sakit rujukan COVID-19.

Foto : Warga binaan usai rapid test, berjemur

Sementara di Lapas Kelas IIA Gorontalo rapid test dilakukan kepada 489 warga binaan yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Gorontalo. Pengamanan oleh Polresta Gorontalo dan Kodim 1304 Gorontalo, Senin 11 Mei 2020. Dari pemeriksaan sebanyak 3 orang petugas dan 25 orang warga binaan hasilnya reaktif atau terduga positif. Dikarantina di Lapas Perempuan Kelas III Gorontalo. Ditunjuk sebagai Lapas untuk isolasi di wilayah Gorontalo. Untuk sementara 33 orang warga binaan LPP Gorontalo dipindahkan ke LPKA Kelas II Gorontalo. Pengawasan dilakukan secara maksimal. Termasuk dengan memberikan asupan makanan bergizi tinggi dan tambahan multivitami. Tentu agar daya tahan tubuh tetap baik.

Foto : Pelaksanaan rapid test

Dirjen PAS pun menekankan bahwa  semua penghuni Lapas, Rutan dan LPKA akan ditangani serius. Terlebih dalam hal potensi penyebaran COVID-19. Sesuai dengan Protokol Kesehatan Penanganan COVID-19. Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Dirjen PAS terus bekerja keras dalam mengkoordinir pencegahan, penanganan, pengendalian dan penanggulangan COVID-19 di UPT Pemasyarakatan. Pada khususnya Lapas, Rutan dan LPKA. Bekerjasama dengan BNPB dan Gugus Tugas Penanganan Covid- 19. Mengenai adanya 1 orang warga binaan Lapas Bojonegoro yang sempat terkonfirmasi positif COVID-19. Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Dirjen PAS, Yuspahruddin,  menyampaikan. Warga binaan sebelumnya dirujuk ke rumah sakit luar lapas pada 5 April 2020. Yaitu karena penyakit jantung, diabetes melitus dan hipertensi.

Foto : Rapid test untuk petugas dan warga binaan

Yuspahruddin mengungkapkan. Sejak awal bulan Maret Dirjen PAS telah mengeluarkan kebijakan 12 langkah pencegahan dan penanganan COVID-19. Penyediaan fasilitas kesehatan dan kebersihan terus dilakukan. Begitu juga dengan langkah lainnya yang telah dilakuka. Seperti pembatasan kunjungan dan persidangan dengan video call. Penundaan penerimaan tahanan maupun narapidana baru selama pandemic COVID-19  untuk mengurangi resiko penularan. Menerapkan pula SOP penanganan COVID-19 secara ketat. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Comments are closed.