Klarifikasi Kalapas Kelas III Teluk Dalam atas Meninggalnya Telius Halawa

12
6962
Teluk Dalam, NAWACITA -  Peristiwa kematian Felius Halawa (sebagaimana disebut dalam pemberitaan sebelumnya), telah ramai di Media sosial dan mengundang pro-kontra di antara netizen. Sesungguhnya Felius Halawa, bernama Telius Halawa (Ama Putri Halawa) sebagaimana disampaikan oleh Kalapas Kelas III Teluk Dalam, Eben Haezer Depari, A.Md. IP., SH., MH. (4/1/2020).
Klarifikasi Kalapas Kelas III Teluk Dalam atas Meninggalnya Telius Halawa

Teluk Dalam, NAWACITA –  Peristiwa kematian Felius Halawa (sebagaimana disebut dalam pemberitaan sebelumnya), telah ramai di Media sosial dan mengundang pro-kontra di antara netizen. Sesungguhnya Felius Halawa, bernama Telius Halawa (Ama Putri Halawa) sebagaimana disampaikan oleh Kalapas Kelas III Teluk Dalam, Eben Haezer Depari, A.Md. IP., SH., MH. (4/1/2020).

Baca Juga: Anggota DPRDSU, Thomas Dakhi, Prihatin atas Meninggalnya Napi Kelas II B di Nisel

Dalam pernyataan resminya kepada nawacitapost, Kalapas menyampaikan bahwa pemberitaan sebelumnya yang beredar di Media Massa dan memancing emosi publik perlu diklarifikasi agar masyarakat mendapat informasi yang berimbang.

“Kasus ini sudah kita sampaikan kepada Kemenkumham melalui Kakanwil Sumut dan KadivPas Sumut pada hari ini 4/1/2019 dengan Nomor W2.34.PK.01.07.01-28”, kata Depari.

Dalam Keterangan resminya yang diterima oleh nawacitapost, pihak Lapas Kelas III Teluk Dalam menjelaskan kronologi kejadian yang sebenarnya, sbb:

Bahwa napi an. Telius Halawa, pada tanggal 21/12/2019 melarikan diri bersama dengan seorang lainnya dari Lapas. Pada hari yang sama, salah satu napi yang melarikan diri itu ditangkap kembali. Sementara yang satunya, an. Telius melarikan diri ke arah hutan.

Bersama dengan tim dari Lapas, petugas berusaha melakukan pengejaran kepada Telius Halawa ke arah hutan yang dianggap sebagai tempat pelariannya, namun tidak berhasil ditemukan.

Pada tanggal 31/12/2019, pukul 22.00 WIB, berdasarkan keterangan dari informan, diketahui bahwa DPO tersebut ada di rumah keluarganya di desa Sifaoroasi. Setelah berkoordinasi dengan pihak Polres setempat, Polres Teluk Dalam, maka tim menuju lokasi untuk melakukan penangkapan terhadap DPO Telius Halawa.

Tepat tanggal 1/1/2020 pukul 02.30 WIB Tim dari Lapas bersama dengan beberapa personil Polres Nias Selatan menggerebek rumah tersangka di Desa Sifaoroasi, Kecamatan Amandraya dan ditemukan DPO sedang berada di bawah tempat tidur.

Pukul 03.00 WIB, DPO dibawa ke Polres untuk dimintai keterangan. Pada pukul 04.00 WIB, DPO dibawa kembali ke lapas. Tiba-tiba DPO melalukan perlawanan dengan menyikut petugas dan berusaha lari lagi menuju hutan di samping lapas.

Petugas yang standby lari ke arah hutan samping lapas dan melakukan pencarian. Pukul 05.00 WIB, DPO ditemukan di bawah bukit dengan kondisi yang sudah telungkup.

Setelah itu, DPO diantar kembali ke Lapas untuk Straff sell dengan kondisi masih terborgol.

Kalapas menyampaikan bahwa pada pukul 07.00 Wib, beliau mendapat laporan bahwa alm. Telius Halawa mencoba bunuh diri dengan menghantamkan kepalanya ke tembok dan jerjak, dan hal ini terdengar oleh petugas WBP.

Dalam kondisi tubuh yang sudah lebam-lebam, Telius diarahkan untuk diperiksa kondisinya oleh petugas. Tepat pada pukul 08.00, Telius dibawa ke puskesmas terdekat dan pukul 09.00 wib dinyatakan meninggal dunia.

Baca Juga: Nawacitapost Kepnis Kunjungi DERLI LAOLI, Korban Penganiayaan Kepala Sekolah

Pukul 15.00 wib, Petugas melakukan penyerahan jenazah kepada pihak keluarga.

“Tidak benar bahwa alm. Telius meninggal karena dianiaya”, tegas Kalapas.

“Dari kronologi kejadian maka dapat disimpulkan bahwa luka memar yang terdapat pada tubuh Telius, disebabkan karena terjatuh dari hutan di samping lapas yang kondisinya berbatu dan kaki yang agak pincang dikarenakan Telius melompat dari atas pagar tembok Lapas. Sementara bengkak yang terdapat di kepala karena hantaman dari tindakan percobaan bunuh diri”, sebut Kalapas.

Terkait pemberitaan di beberapa media mengenai tidak dilakukannya otopsi, itu tidak benar.

“Kita sudah meminta persetujuan keluarga apakah jenazah perlu diotopsi? Namun, pihak keluarga menolak untuk melakukan otopsi, dan ini dibuktikan dengan surat pernyataan tidak dilakukan otopsi dengan nomor: W2.E34.PK.01.01.02-07, yang ditandatangani oleh pihak keluarga an. YYB, RH dan TH di atas materai 6000.”, tegas Kalapas.

Menurut Kalapas, peristiwa ini jangan sampai dibesar-besarkan. Karena menurut beliau, hal ini dapat mempengaruhi statemen publik yang simpang siur dan berbahaya bagi kenyamanan bersama. Kita berharap, Telius bisa menemukan kebahagiaan di surga, katanya mengakhiri.

Kariaman Zebua

12 KOMENTAR

Comments are closed.