Andi Arsyil, Pernah Dari Mobil Mewah Jadi Mobil Angkot

2
1051

Jakarta,Nawacitapost.com – Asumsi akan kata profesionalitas dan loyalitas mungkin sering terbesit dan diucapkan. Oleh setiap pengusaha dan pekerja. Termasuk juga Andi Arsyil Rahman Putra atau yang akrab disapa Andi Arsyil. Pria kelahiran tahun 1987 mengungkapkan. Kepada salah satu jurnalis Nawacitapost, Ayu Yulia Yang. Tentang perkara dua hal itu.

Dikatakannya di kantornya yang berlokasi di jalan Cempaka Putih Barat, Jakarta Pusat kemarin. Dua – duanya perlu adanya. Loyalitas dan profesionalitas. Loyal tanpa profesional omong kosong. Profesional lebih berfokus pada skill, bidang dan pekerjaan. Loyal itu lebih kepada kesetiaan. Kedua hal itu memang berbeda. Profesional lebih ke arah kinerja. Loyalitas lebih ke arah culture. Hal ini biasanya berhubungan erat dengan dunia bisnis.

Pria yang memang juga menggeluti dunia bisnis dan menjadi pengusaha. Memandang dua sisi berbeda yang diterapkan. Dalam hal culture, diterapkan yang dinamakan ICARE pada usahanya. Sementara dalam membangun bisnis, Andi mencari karyawan berdasarkan apa yang dibutuhkan. Bukan mencari seseorang paling pintar. Diumpamakan seperti mencari pasangan. Mencari yang cocok dan sesuai yang dikuasai.

Baca Juga : Putra Nias Berkarya, Covid 19 Bukan Halangan

Andi membangun beberapa diantaranya usaha travel, penerbitan, aplikasi baca dan rumah produksi. Semuanya bukan semata – mata trendy dan ikut – ikutan. Bukan sekedar monkey business atau bisnis kacang goreng. Walaupun memang bisnis demikian gampang dapat uang, balik modal dan dapat untungnya. Tapi dirasa tidak akan bertahan lama. Sumber daya manusia tidak akan bodoh terus menerus. Tentu akan berkembang.

Konsep dasar usaha Andi menyesuaikan sesuatu yang menjadi hobinya untuk dirintis. Bukan sekadar musiman. Andi memang memiliki beberapa hobi yang menarik. Diantaranya suka ka jalan – jalan, membaca dan syuting. Dalam hal membaca, semua genre buku pernah dibacanya. Baik itu novel, agama atau motivasi.

Andi meraih semua bukan tanpa jerih payah. Pria kelahiran Makassar memulai karir sudah lama. Sekitar sudah dari SMA kelas 2 atau 3. Berbekal dari dunia modeling. Awalnya, Andi memang tidak suka dunia entertainment.

Andi agak sedikit tidak fokus kesana. Fokus pada pendidikan dan organisasi. Tapi, setelah itu ada teman yang mengajak Andi ke dunia modeling. Andi memang hanya ikut – ikutan saja. Tidak menyangka bakal menjadi juara. Andi mengikuti ajang modeling bukan hanya modal jual tampang atau fisik. Dirinya menjadi duta pariwisata dan duta teknologi contohnya. Dirinya memang harus menjual otak pula.

Baca Juga :  Tingkatkan Rasa Peduli, Brigadir Nuhbatul Fikar Siregar Bagikan Takjil Untuk Berbuka Puasa Kepada Warga Desa Sigalapang

Dunia modelingnya berlanjut sampai Andi mendapat peran antagonis. Perannya ditampilkan di salah satu film tv swasta. Kemudian Andi harus mengikuti ujian nasional. Memutuskan untuk berhenti dari dunia itu.

Kemudian Andi sibuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Strata 1. Dirinya menempuh pendidikan pada tiga kampus dengan tiga jurusan berbeda. Karena dirinya merasa bodoh.

Dia juga tetap menyambi bekerja. Bekerja di perusahaan telekomunikasi. Dalam hal pendidikan, dia berusaha mencari untuk bisa mendapatkan beasiswa. Beasiswa yang diincarnya adalah super smart. Kesibukan dia memang begitu padat. Senin sampai Minggu selalu saja berutinitas.

Baginya pelajaran pada pendidikan Strata 1 berisi pelajaran sudah ada sebelumnya. Misal Fisika itu pengembangannya. Seperti hukum kecepatan dan analisis dari dasarnya. Komputer itu algoritma. Statistik yang mana ada pada matematika dasar. Yakni integral dan hukum probabilitas sebagai bentuk pengembangannya. Ekonomi lebih gampang lagi. Seperti debit kredit. Dasar dan pengembangannya saja yang perlu dipahami dan dianalisa. Pengembangan dalam bahasa yang berbeda.

Baca Juga : Usai 2000 Orang, Fornisel Siap Jangkauan Lebih Luas

Selang waktu setelah lulus, Andi mengikuti audisi casting film Ketika Cinta Bertasbih. Hampir 1 tahun prosesnya. Lolos. Itu merupakan film pertamanya. Lanjut casting film kedua, lolos lagi. Tapi memang merasa masih berat banget karena first time. Sinetron lanjut terus sampai Tukang Bubur, Dunia Terbalik hingga menjadi produser.

Selain terkenal dengan keahlian dunia aktingnya, Andi juga terbilang cukup sukses dalam usahanya. Andi menceritakan. Suatu ketika orang pelamar kerja, sudah lolos semua test berupa test psikotest dan IQ test. Kemudian test terakhir adalah ketemu dan wawancara dengan Andi. Pelamar kerja membanggakan ijazahnya. Pelamar kerja ditolak. Bukan masalah punya kertas ijazah atau tidak bagi Andi.

Menurutnya, permasalahan sebenarnya bukan pada titik itu. Lebih kepada bagaimana seseorang mengerti. Mempunyai analisa yang baik dan mempunyai teman yang banyak. Sekolah itu mencari link, ilmu dan teman. Fokus pada sesuatu yang lebih substansial. Lebih ke daya nalar atau konsep penalaran. Yang mana nantinya bakal seberapa jauh memahami dan menganalisa. Tentu usai menuntaskan pendidikan.

Pendidikan memang berat. Perlu juga adanya ujian. Itu untuk sebuah keseriusan dalam pendidikan. Demi sebuah kata kesuksesan. Ya memang istilah tidak usah sekolah bisa sukses juga ada. Tapi, tentu saja pendidikan juga banyak manfaat. Termasuk pada kehidupan sosial dasar yang baik. Memang, pakem khusus kesuksesan seperti jalan menuju Roma. Ada karena orang tua sukses, duit banyak dan sukses dari bawah. Tidak ikuti apapun terus sukses juga ada.

Baca Juga : DAMPAK COVID-19, PEMKOT GUNUNGSITOLI BEBASKAN 2 SEKTOR PAJAK SAMPAI DENGAN BULAN DESEMBER 2020

Di lain sisi, Andi memakai manajemen tersendiri dalam usaha. Tidak seperti manajemen lainnya. Saham 100 persen semua miliknya. Termasuk pengelolaan dan konsep juga. Andi memang merasa takut akan gagal dan mengalami rugi. Namun, dia tetap gigih berusaha menepis hal itu.

Ternyata, dibalik kegigihannya, Andi juga pernah mengalami hal pahit dalam meniti usahanya. Ditipu teman sendiri. Itu dijadikannya sebuah kata pembelajaran. Dia menganggap bahwa kelalaian ada dalam diri.

Disamping itu, Andi juga pernah mengalami hal yang tidak terlupakan. Membuatnya bisa survive seperti sekarang. Berontak sama orang tua karena pernah jatuh miskin. Ketika itu, dia masih SMA. Latar belakang orang tuanya memang tergolong kaya banget. Bukan kaya baru. Mempunyai pabrik pengelolaan emas, direktur BUMN dan profesor pula. Tak pelak kemudian mengalami bangkrut bak ulah ditipu teman. Andi yang tadinya merasakan kemewahan naik mobil. Menjadi hanya mampu merasakan naik angkot. Itu merupakan pembelajaran lagi dan rasa syukur baginya. Bisa survive pada akhirnya.

Luar biasa perjuangan hidup dalam dunia pendidikan dan karir. Ya yang dilalui oleh Andi Arsyil. Bisa menjadi contoh bagi semua. Tidak menyepelekan hal apapun. Menjadi sosok pemuda yang penuh inspirasi, kreasi dan inovasi. ( Ayu Yulia Yang )

Comments are closed.