Disiplin F. Manao Rasakan Ada Peredaran Narkoba di Kepulauan Nias, Pemda?

0
669
Foto : Menteri Hukum dan HAM Yasonna, Dewan Penasehat HIMNI Disiplin F. Manao dan Kak Seto

Jakarta, NAWACITAPOST – Dewan Penasehat HIMNI (Himpunan Masyarakat Nias Indonesia) Disiplin F. Manao merasakan benar adanya peredaran narkoba di Kepulauan Nias. Lantaran memang Kepulauan Nias merupakan kampung halamannya. Dia juga hampir 3 bulan sekali datang kesana. Bahkan dia menyatakan bahwa kemungkinan orang yang jarang pulang atau tidak tinggal disana, sebenarnya tidak mengerti situasi kondisi yang sebenarnya terjadi disana. Hal itu disampaikan kepada Nawacitapost pada (04/02/2021). Dia menanggapi isu yang santer mengenai maraknya peredaran narkoba di Kepulauan Nias. Pemerintah Daerah (Pemda)?

Foto : Dewan Penasihat HIMNI Disiplin F. Manao

“Kalau orang yang tidak atau jarang pulang, sebetulnya tidak ngerti persoalan bagaimana peredaran narkoba di Nias. Kebetulan saya itu hampir setiap 3 bulan sekali saya pulang. Dan saya merasakan bagaimana peredaran narkoba di Nias itu luar biasa dalam bentuk yang macam – macam ya. Bisa itu sabu, bisa itu juga dalam bentuk minuman keras ya. Yang pelakunya itu sebetulnya saya kasihan ya, anak – anak. Yang ya dibawah umur. Mulanya itu dia disupport oleh teman. Lama – lama dia harus beli. Dan ketika bandarnya ditangkap oleh polisi, dia lari. Lebih menyedihkan sebetulnya. Ketika aparat penegak hukum merupakan bagian dari peredaran narkoba di Nias,” ungkap Manao.

Foto : Dewan Penasehat HIMNI Disiplin F. Manao

Disiplin pun menegaskan bahwa disinyalir ada target kepolisian di Nias untuk mendapatkan 3 kasus perbulan. “Dan ini juga sebetulnya disinyalir karena ada target kepolisian itu kalau tidak salah 3 kasus perbulan. Dan kalau tidak tercapai ini bisa dapat hukuman dari atasan. Sehingga apa yang terjadi. Barang bukti bisa jadi dijual. Kemudian rakyat membeli, habis itu ditangkap. Ini modusnya kan luar biasa. Sebagai hamba Tuhan, saya sedih. Ini kan karena tidak ada kasih di Nias itu. Tidak ada kasih. Yang ada adalah bagaimana meraup uang sebanyak – banyaknya dengan menghalalkan segala cara dengan mengorbankan anak – anak yang tak berdosa di Nias ini,” lanjutnya.

Foto : Dewan Penasehat Disiplin F. Manao

“Dan peredaran narkoba di Nias itu, bukan anak SMA, sampai anak SMP, anak SD tahu narkoba. Merinding saya. Ya ampun. Yang lebih menggerikan lagi, kalau sampai aparat desa ikut menjadi bagian dari peredaran ini. Tokoh – tokoh masyarakat, tokoh si ila, si ulu pun ada yang pakai di Nias itu. Jadi menurut saya, ini tidak bisa main – main lagi. Kalau mau menyelamatkan Nias, segera harus bertindak. Polisi jangan jadi bagian dari peredaran narkoba di Nias ini. Tanpa menyebutkan nama. Ada polisi dicelakai oleh rakyat beberapa tahun yang lalu. Si polisi ini terkenal bagian dari peredaran narkoba di Nias ini. Dibalok dia. Karena sudah muak rakyat itu. Tapi apa satu polisi mati, urusan selesai sudah? Tidak,” terangnya.

BACA JUGA: Sekjend FORNISEL : Kepulauan Nias Darurat Narkoba, Serukan Ormas, LSM dan Instansi Jangan Kendor Berantas

Foto : Dewan Penasehat HIMNI Disiplin F. Manao

Manao pun berpesan pada Natal tahun lalu. “Natal yang lalu, saya berpesan betul ini ke guru sekolah Minggu. Anak – anak yang sekolah Minggu, saya sedih kalau mereka ini tidak dijaga. Makanya saya titip tolong anak ini aset gereja, aset bangsa, ini harus dilindungi dari peredaran narkoba. Harus ditanamkan sejak dini betapa bahayanya narkoba. Dari segi perundangan, tetapi yang terjadi adalah kurangnya sinergi dan komitmen baik aparat desa, para penatua, bangsawan, aparatur penegak hukum, masyarakat harus bahu membahu. Harus kerja keras bersama. Harus solidaritas stakeholder semua. Saya menangis melihat bagaimana peredaran narkoba di Nias ini. Saya berharap ini semua harus sampai kepada kesadaran. Ini bahaya, kalau tidak ditangani secara tuntas. Penegak hukum harus menjadi yang utama, jangan menjadi bagian dari peredaran narkoba di Nias ini,” imbuhnya.

Foto : Dewan Penasehat HIMNI Disiplin F. Manao

“Saya tanya beberapa tokoh masyarakat. Mereka mengakui tapi mau dibilang apa. Hanya ini yang bisa menghasilkan uang sekarang. Oleh karenanya menurut himbauan saya, pembangunan rohani melalui gereja – gereja itu penting. Pendeta – pendeta tidak sekadar khotbah tentang sorga. Tetapi bicaralah bagaimana bahaya narkoba yang ada di sekitar. Para penatua, para si ila si ulu sadar bahwa mereka punya tanggung jawab. Lalu orang kepolisian, kalau ini benar disinyalir dari tokoh – tokoh masyarakat bahwa orang kepolisian merupakan bagian dari peredaran, ini luar biasa. Bukan saja tidak mengenal kasih, tapi ini sudah bejat betul. Harusnya mereka menjadi pelindung, pengawal masyarakat. Tapi kalau mereka bagian dari peredaran, ini betul – betul luar biasa jahat,” tambah Manao.

Foto : Dewan Penasehat HIMNI, Disiplin F. Manao

“Makanya benar kata Firman Tuhan. Orang yang cinta uang adalah akar segala kejahatan. Jadi ketika orang cinta uang di Nias itu maka segala cara akan ditempuh. Nah, tadi saya bilang, kenapa orang tertarik jual beli narkoba di Nias? Karena itulah yang sekarang menghasilkan. Oleh karenanya ini kepada Pemda, saya pesan, supaya ekonomi rakyat itu dibangun. Bayangkan sekarang, harga karet di Nias itu sangat rendah. Saya punya pengalaman. Saya beli kemarin setandang pisang raja yang delapan sisir. Sudah tiga sisir matang pohon. Saya beli. Saya tanya ibu itu. Berapa harganya? 20 ribu. Saya kaget. Maksudnya 20 ribu itu persisir atau setandan. Dia menjawab setandan. Saya jujur ya ampun kalau di Jakarta, satu sisir saja 75 ribu. Masa’ satu tandan delapan sisir hanya 20 ribu,” ungkap Manao.

Foto : Dewan Penasehat HIMNI Disiplin F. Manao

Lebih lanjut menurut Manao, Pemda harus lebih membangun ekonomi rakyat. “Saya tidak tega, saya bayar 100 ribu. Jadi ekonomi rakyat ini macam mana. Apalagi Nias itu kena virus babi. Mati ribuan babi di Nias. Itu kan masalah ekonomi. Jadi menurut saya, ini Pemda harus membangun ekonomi rakyat. Rakyat harus sadar, tidak dengan narkoba. Justru dengan narkoba semua bisa mati dan binasa. Itu penting. Kepada generasi muda Nias tanpa terkecuali, sadarlah bahwa kebebasan yang kita inginkan bukan kebebasan agar kita terbelenggu. Tapi kebebasan apa kehendak Tuhan, apa yang jujur, apa yang kudus, apa yang benar. Kalau narkoba itu tidak benar, tidak kudus, jangan dikerjakan. Jangan menunggu. Sekaranglah harus diberantas peredaran narkoba di Nias,” lanjutnya.

Foto : Dewan Penasehat HIMNI, Disiplin F. Manao

Lalu Manao pun menanggapi bahwa jangan ada lagi dusta untuk peredaran narkoba di Kepulauan Nias. “Ada judul lagu jujurlah padaku. Saya memang sering ke Nias. Tapi memang seluruh Nias itu saya tidak jelajahi. Tapi paling tidak, ada tiga empat lima desa sekitar kampung saya. Kampung Bawomataluo, Orahili, Siwalawa, Onohondro dan Lahusa. Dari kelima desa ini saja ya kalau dia bilang, tidak ada peredaran narkoba, bertobatlah itu orang atau lembaga. Karena apa? Ada satu kampung justru disanalah bandarnya.  Jadi katakan sejujurnya, katakan kebenaran itu. Waktunya itu sekarang bukan untuk berdusta. Supaya kita tahu masalahnya dan tahu memberantasnya. Tapi kalau kita masih petak umpet, pura – pura tidak ada, padahal ada, ini yang bahaya,” tambahnya.

Foto : Kalapas Gunungsitoli Soetopo Berutu

“Jadi menurut saya, tolong jujur nyatakan kebenaran itu. Supaya kita tahu bagaimana menyelesaikannya. Jadi kalau kita ini masih pencak silat lidah kita, nanti kalau saya buka semua. Jadi sudahlah, bertindak sekarang, jangan pencak silat, bersilat lidah, memang kenyataan Nias tempat peredaran narkoba saat ini. Kalau pun tidak dilihat oleh mata, dirasa. Tapi kita tidak tahu, polisi kemana?” tutupnya. Sebelumnya, berdasarkan pernyataan dari Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Soetopo Berutu pada (18/1/2021) bahwa Penghuni Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II B Gunungsitoli, Sumatera Utara hingga Januari 2021 adalah salah satunya terpidana kasus narkoba 27 persen.

Foto : Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly

Demikian pun sangat menjadi perhatian bagi Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly sejak lama. Dia pernah mengatakan pada (30/01/2020). “Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) dibawah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) telah membentuk satuan tugas (satgas) untuk upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran narkoba di dalam rutan dan lapas sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika Tahun 2018-2019. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia sedang mempertimbangkan untuk melakukan pendekatan bagi pengguna narkoba tidak harus dipenjara, tapi bisa direhabilitasi,” katanya melalui keterangan tertulis.

Foto : Psikolog Kak Seto

Kak Seto sebagai seorang Psikolog pun memberikan pandangan pada (02/01/2021). Bahwa biasanya yang mudah tergelincir ketergantungan itu usia remaja. Adapun faktor – faktor penting utama yang mempengaruhinya. “Pertama faktor lingkungan, karena biasanya remaja berada pada tahap mencari identitas. Membandingkan dirinya dengan lingkungan sosial. Jadi membandingkan dengan yang sebaya. Kalau remaja melihat kelompoknya itu kemudian merasakan keren, gagah dengan narkoba maka itu yang akan menjadi modelnya. Maka itu nanti seolah – olah gaya, keren dan berani. Kemudian factor frustasi, bentuk pelarian. Seolah menjadi solusi untuk menimbulkan kebahagiaan, padahal hanya sesaat atau semu,” terangnya. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Ormas Nias Minta, Ditangkap Pengedar Bandar Narkoba di Kepulauan Nias