Calon Bupati Nias Selatan Idealisman Dachi Tak Hafal Pancasila

0
1012
Foto : Pancasila dan Idealisman Dachi

Jakarta, NAWACITAPOST – Tidaklah mudah menjadi calon kepala daerah seperti gubernur, bupati dan walikota. Adapun beberapa syarat yang diatur dalam Undang – Undang no 22 tahun 2014. Syarat utama adalah seorang warga Negara Indonesia. Kemudian ada beberapa syarat lainnya. Diantaranya setia kepada Pancasila sebagai Dasar Negara, Undang – Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia tahun 1945, cita – cita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ada pula syarat baru. Mahkamah mengabulkan sebagian permohonan uji materi atas Pasal 7 ayat 2 huruf g Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2016. Yang mana tentang Pemilihan gubernur, bupati dan walikota. Permohonan diajukan oleh lembaga Indonesian Corruption Watch (ICW) dan Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi. Formulasinya pun berubah karena tidak berlaku bagi semua bekas narapidana. Intinya, mantan narapidana dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara tidak boleh langsung mencalonkan diri sebagai kepala daerah setelah keluar dari penjara. Harus menunggu selama lima tahun dan wajib pula mengumumkan rekam jejaknya. Aturan tidak berlaku bagi bekas narapidana politik dan kasus pidana karena kealpaan.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Idealisman Dachi dan Sozanolo Ndruru

Sepertinya ada salah satu calon kepala daerah untuk jabatan bupati di Kepulauan Nias tidak pantas maju Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Yaitu salah satu calon bupati Nias Selatan (NIsel) Idealisman Dachi. Seorang bupati tidak asal memperoleh jabatan, duduk bersandar di kursi mewah dengan ruangan nan megah. Akan tetapi harus bisa mewujudkan aspirasi rakyatnya. Tentunya bisa melaksanakan aspirasi yang sudah tertuang didalam sila – sila Pancasila. Bukan sekadar gombalan di awal. Bukan sekadar marketing program saja. Sebab sudah banyak yang ditawarkan dalam program – program tapi nol dalam realisasinya. Sebut saja istana rakyat yang terbengkalai alias mangkrak. Kemudian ada program pendidikan gratis yang jluntrungan tidak jelas arahnya. Ada pula janji – jani manis lainnya yang dikemas secara praktis menarik simpati didalam kontestasi politik. Bahkan kesombongan yang terlupakan. Jargon kampanye dipilih tak dipilih pasti menang hanya dianggap angin lalu tanpa dijadikan pelajaran. Kampanye Pilkada 2020 tentunya bisa menjadi tolak ukur kembali. Pantas atau tidaknya dipilih. Salah satunya tidak hafal Pancasila sebagai Dasar Negara. Isinya tidak hafal, terus dipertanyakan kesetiaannya. Dasar Negara saja tidak hafal, lantas dipertanyakan hal – hal lain yang lebih fundamental dalam pelaksanaan masa jabatannya. Seorang calon kepala daerah Nisel Idealisman Dachi tidak hafal Pancasila. Salah mengucapkan urutan sila dalam Pancasila. Disebutkannya saat dirinya melakukan orasi kampanye didepan para pendukungnya. Ketika menyebutkan sila kedua, justru terucap isi dari sila kelima Pancasila. Semestinya sila kedua adalah Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Namun dirinya justru menyebutkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Terawan Dibela, Najwa Shihab Tuai Citra Buruk, Kadrun Kram Otak?