AHY Bicara Kakek Penumpas PKI, Rekonsiliasi, Gantikan Jokowi?

0
340
Foto : AHY bersama Presiden Jokowi

Jakarta, NAWACITAPOST – Di tengah ramai pembahasan sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI), Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memposting. Yang mana dipostingnya sebuah foto hitam putih bersejarah. Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo tengah berdiri di podium. Memberikan pengarahan kepada jajaran. Sarwo Edhie Wibowo (SEW) merupakan kakek dari AHY. Dia ayahanda Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono) atau mertua mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).Dia teringat waktu kecil. Orang – orang di kompleks Cijantung mengenalnya sebagai cucunya Ageng (SEW). Ageng adalah penumpas PKI. SEW merupakan tokoh militer penting dalam pembasmian PKI setelah peristiwa yang dikenal sebagai G30S/PKI tahun 1965.AHY melanjutkan cerita. Dia ingat benar kakeknya bercerita tentang suasana mencekam ketika terjadi G30S/PKI. Benturan ideologi telah memakan korban anak bangsa sendiri. 30 September adalah satu dari banyak catatan sejarah Pancasila dipertahankan dengan keringat, air mata dan nyawa.

BACA JUGA: Najwa Shihab Bincang Kursi Kosong Menkes Terawan, Jurnalis Gagal?

Foto : Presiden Jokowi bersana istri dan AHY bersama istri

Waktu terus berputar. Rekonsiliasi nasional, dipandang sebagai salah satu langkah untuk merajut sejarah bangsa. Upaya sudah ada sejak era Presiden Gus Dur, Megawati, SBY hingga kini dipimpin Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Tetapi memang tidak mudah, jika meletakkan rekonsiliasi pada satu catatan sejarah saja. Rekonsiliasi harus menjadi kehendak seluruh elemen bangsa. Termasuk para keluarga ulama, aktivis dan masyarakat yang menjadi korban ketidakadilan dalam lintasan sejarah bangsa. Namun, sebelumnya, AHY menilai bahwa kualitas demokrasi Indonesia mulai menurun di sejumlah negara. Disampaikan AHY dalam pidato resminya kepada seluruh kader Partai Demokrat dalam rangka memperingati hari jadi Partai Demokrat ke 19 pada (25/9/2020) pukul 19.00 WIB. AHY mengajak para kader Partai Demokrat untuk mencegah penyimpangan dan kemunduran kualitas demokrasi. Terlebih yang terjadi di sejumlah negara. Penurunan bisa dilihat dari kebebasan sipil yang semakin rapuh, eksploitasi politik identitas, menjadikan masyarakat terbelah, independen dan netralitas sebagian media juga semakin dipertanyakan. Setiap warga negara memang memiliki hak untuk menyampaikan pendapat, dan aspirasinya. Dikerahkan dalam Undang РUndang Dasar (UUD) 1945.

BACA JUGA: Istana Rakyat Era Idealisman Dachi Senasib Hambalang Era SBY

Foto : Presiden Jokowi dan AHY

Namun, hak harus digunakan secara bertanggung jawab. Di sisi lain, negara juga wajib mendengarkan suara rakyatnya, termasuk kritik, dan pendapat yang berbeda. Mengajak pemerintah untuk mendengarkan suara. Jika pemerintah pusat dan daerah mau mendengar rakyatnya, maka rakyat juga akan menghormati dan mencintai pemimpinnya. Pernyataan dari AHY dipertanyakan. Pasalnya terkesan pemerintah sekarang tidak demokrasi. Bahkan sesudahnya mencuatkan kembali cerita tentang PKI. Yang mana kini sedang mulai gencar lagi isu PKI digembargemborkan. Bisa jadi ingin menjadi bagian dalam penyebaran isu PKI. Seperti ada maksud terselubung dibalik cerita dan pernyataannya. Budayawan Franz Magnis Suseno alias Romo Magnis menyatakan pada (30/9/2020). Isu kebangkitan PKI harus segera diakhiri. Isu ini membuat rekonsiliasi tidak mungkin. Orang yang masih bicara seperti itu (PKI bangkit) tidak bonafit. G30S adalah peristiwa sangat kejam, dan pelarangan paham komunisme perlu dilakukan. Namun, bukan berarti seluruh anggota PKI kejam, banyak juga menjadi korban dan butuh rekonsiliasi. Hanya 36 persen yang tahu pendapat bahwa sekarang sedang terjadi kebangkitan PKI di tanah air. Dari yang tahu, sekitar 39 persen (14 persen dari populasi) setuju dengan pendapat dan 61 persen (22 persen dari populasi) tidak setuju. Begitu erat rekonsiliasi dengan isu PKI. Bisa membuat rekonsiliasi tidak mungkin. Namun, justru AHY membicarakan rekonsiliasi yang sesudahnya bercerita tentang PKI, kakeknya penumpas PKI, gantikan Jokowi? (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?