Bea Cukai Bisa Menambah Daftar Panjang Resesi

0
162
Foto : Benih lobster yang mati

Jakarta, NAWACITAPOST – Ekspor lobster mengalami kegagalan. Sebab terjadi pencekalan berupa ekspor. Dilakukan pemeriksaan terhadap eksportir. Yang mana dilakukan oleh Bea Cukai. Mungkin memang ada beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh eksportir. Diketahui juga benih lobster memang lagi gencar diekspor ke Vietnam dalam beberapa bulan. Para nelayan lobster yang tergabung di PBNLI menyayangkan. Ketua Dewan Penasihat PBNLI (Perkumpulan Budidaya dan Nelayan Lobster Indonesia), Kris Budihardjo pun akhirnya menyampaikan pada 19 September 2020. Memang pihaknya mengapresiasi langkah Bea Cukai. Namun pemeriksaan tidak berada di waktu yang tepat. Justru Bea Cukai menggagalkan ekspor 2,7 juta ekor baby lobster diprediksi merugikan. Terlebih terhadap devisa negara mencapai Rp 36 miliar atau setara USD 2,7 juta hilang. Demikian mengacu pada data Bea Cukai apabila 2,7 juta ekor lobster yang saat ini menjadi barang bukti tidak dapat diekspor. Penyitaan barang bukti mati dengan barang bukti hidup berbeda. Kalaupun masih hidup, kualitasnya pasti menurun. Sebab pengalamannya sebagai pengekspor, kualitas akan menurun bila lebih dari tiga hari tak ditangani. Apabila sudah diborder harusnya sudah dapat NPE. Pihak yang mengeluarkan NPE adalah Bea Cukai. Kalau memang kelebihan jumlah harusnya ada mekanismenya. Bukan justru langkahnya mematikan ekonomi. Membuat keresahan ribuan nelayan khususnya anggota PBNLI. Kemudian juga setelah berdiskusi dengan para eksportir, ada kendala berupa cargo. Cargo hanya satu yang bisa melayani benih lobster yang diekspor ke Vietnam. Ada sesuatu yang aneh. Peraturan ekonomi memang ditegakkan. Namun juga memperhatikan asset negara. Ekonomi harus bergerak, tak boleh terjadi resesi. Namun kini justru mengakibatkan anjloknya harga dan lesunya pasar. Ini merupakan salah satu ciri menuju ke resesi. Sehingga Bea Cukai bisa menambah daftar panjang resesi.

BACA JUGA: Najwa Shihab Terkesan Provokasi, Antek Orde Baru?

Foto : Benih lobster yang mati

Diketahui belakangan eksportir merupakan perusahaan berizin. Baby lobster sudah legal. Sehingga mempertanyakan status perusahaan yang gagal ekspor. Karena takut dianggap kerja sama dengan penyelundup. Kebingungan ini pun menambah beban di tingkat nelayan. Apalagi di tengah pandemi Covid 19. Pangsa pasar ekspor menjadi harapan nelayan di tengah lesunya pasar dalam negeri. Berharap pemerintah lebih bijaksana dalam bertindak dan mengambil langkah – langkah. Masih ada pencegahan dan pembinaan supaya tidak lagi ada gagal ekspor. Sebab gagal ekspor sudah mematikan benih lobster juga. Bukan hanya sekali dialami. Proses administrasi, pengecekan, pemeriksaan dan lain sebagainya dilakukan sekitar 24 jam. Sehingga sudah keburu mati benih lobsternya. Jaraknya pun bisa menyebabkan kekurangan oksigen. Pemain eksportir pun banyak pemain baru. Mungkin bisa saja Bea Cukai kurang berpengalaman. Bisa juga tidak berkoordinasi dengan baik. Kasihan nelayan, kalau jual lokal harganya tidak sesuai sama modal, nelayan pun merugi. Sebelumnya, berdasarkan hasil perhitungan Bea Cukai yang disampaikan lewat jumpa pers pada 18 September 2020. Menggagalkan 1,2 juta ekor baby lobster yang tidak sesuai dengan dokumen ekspor milik 14 perusahaan justru menguntungkan. Berlainan yang dirasakan Mirojudin, Pengurus Koperasi Delta Mas Bahari. Efek domino kegagalan ekspor turut dirasakan nelayan di kawasan Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Baru dibayar setengahnya. Biasanya kalau barang (baby lobster) sudah terkirim (ekspor) baru nanti perusahaan melunasi sisanya. Satu hari setelah sidak Bea Cukai, harga benih lobster turun drastis. Biasanya nelayan mampu mendapat bayaran Rp 9.000 per ekor. Namun setelah 14 perusahaan pemegang hak ekspor lobster dinyatakan sebagai penyelundup, harga baby lobster hanya dibandrol Rp 2.500 per ekornya. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?