Ormas di Garut, Serasa Bikin Negara dalam Negara

0
307
Foto : uang yang dicetak Tunggul Rahayu

Jakarta, NAWACITAPOST – Mengundang kontroversi, ada sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) di Garut, Jawa Barat. Menamakan ormasnya dengan Paguyuban Kandang Wesi Tunggul Rahayu. Rupanya ormas bikin heboh. Lantaran mengubah lambang negara Garuda Pancasila. Bahkan, ormas juga mencetak uang sendiri. Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) kabupaten Garut, Jawa Barat, Wahyudijaya tidak menampik kiprah ormas pada 8 September 2020. Memang melakukan banyak pelanggaran. Hebohnya, uang yang bergambar Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno diganti. Tak lain dengan foto penanggung jawab ormas Tunggul Rahayu. Ormas juga mengubah lambang Garuda Pancasila dengan kepala burung Garuda menghadap ke depan. Ditambah dengan mahkota di atas kepalanya. Ada kalimat lain di bawah Bhinneka Tunggal Ika. Yaitu Soeneta Logawa. Namun sebenarnya serasa ormas di Garut bikin negara dalam negara.

BACA JUGA: Penolakan Laporan Anies Bisa Berujung Pecat

Foto : Penjelasan Garuda Pancasila

Bakesbangpol Jawa Barat dan Bakesbangpol kabupaten Garut beserta pihak terkait lainnya akan menggelar rapat. Rapat akan membahas tentang temuan ideologi. Yang mana merupakan gerakan baru di masyarakat yang dinilai berbahaya. Ormas Tunggul Rahayu mengajukan legalitas dengan menjanjikan kompensasi. Memprihatinkan memang. Disinyalir pengikut ormas Tunggul Rahayu sudah mencapai ribuan orang. Bukan hanya di kabupaten Garut. Tetapi sudah menyebar ke daerah lainnya hingga kabupaten Majalengka. Perlu diketahui, lambang Negara Indonesia bukanlah Pancasila, melainkan Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berbentuk Garuda Pancasila. Kepalanya menoleh lurus ke sebelah kanan, perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher Garuda. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika ditulis di atas pita yang dicengkeram oleh Garuda. Penghinaan terhadap lambang Negara diatur dalam Pasal 154a Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP). Berbunyi barang siapa menodai Bendera Kebangsaan Republik Indonesia dan Lambang Negara Republik Indonesia, dihukum. Yakni dengan hukuman penjara selama – lamanya empat tahun atau denda setinggi – tingginya tiga ribu rupiah. Sehingga kini masih terus melakukan pendataan. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: 4 Pasangan Bacakada Kepulauan Nias Membunuh sebelum Berkuasa?