Rocky Gerung Layaknya Bangun Halusinasi Pikiran Sendiri, Bukan Data dan Fakta

0
370
Foto : Rocky Gerung dan Henry Subiakto

Jakarta, NAWACITAPOST – Din Syamsudin sepertinya sangat membela Rocky Gerung. Terlihat pembelaan dilontarkan usai debat seru yang melibatkan Rocky Gerung dan Henry Subiaktor. Rocky Gerung merupakan pakar filsafat Universitas Indonesia (UI). Sementara, Henry Subiakto merupakan staf ahli bidang hukum Menkominfo. Keduanya berdebat terkait dana yang digelontorkan Kemkominfo kepada influencer sebesar Rp 10,83 miliar. Perdebatan kedua akademisi berlangsung sangat seru sebagai sesama narasumber di salah satu tayangan statiun TV swasta. Namun sayangnya, perdebatan yang membahas soal anggaran influencer berujung tidak menarik. Terutama saat Henry Subiakto yang juga guru besar Universitas Airlangga menyerang Rocky Gerung secara pribadi yang hanya lulusan sarjana atau S1. Menyebutkan Rocky Gerung terlalu banyak berimajinasi. Yaitu soal tudingan anggaran Rp 90,45 miliar untuk influencer hanya untuk menutupi ektidakmampuan pemerintah. Disampaikan oleh Henry Subiakto. Keberadaan Rocky Gerung di Indonesia merupakan bukti. Bahwa negara masih menjunjung tinggi nilai demokrasi. Sebab jika tidak, mana mungkin dia bisa bicara seenaknya di sejumlah saluran media. Rocky Gerung hanya berbicara berdasarkan imajinasi dan teori yang ketinggalan zaman. Rocky Gerung selalu berimajinasi berdasarkan teori yang sudah tidak laku di kampus. Sama saja Rocky Gerung layaknya membangun halusinasi pikiran sendiri. Bukan melalui data dan fakta.

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

Foto : Rocky Gerung dan Presiden Jokowi

Henry Subiakto benar tahu soal penggunaan anggaran. Lantaran dirinya memang yang mengabdi di kementerian. Tidak ada namanya dana influencer. Kemkominfo tidak pernah membayar influencer. Dana Rp 10,83 miliar digunakan untuk membiayai program digital literasi. Dilaksanakan untuk melatih rakyat Indonesia menjadi influencer. Masyarakat sudah menggunakan media sosial (medsos). Banyak masyarakat yang dicoba untuk menjadi aktivis. Program digital literasi ditangani oleh organisasi Siberkreasi yang diketuai oleh personil grup musik Project Pop, Yosi Mokalu. Dia adalah ketua yang melatih yang namanya digital literasi kepada publik, mahasiswa dan masyarakat. Yang mana untuk dilatih cara dan tahapan menjadi influencer. Karena influencer itu rakyat. Selain program digital literasi, dana Rp 10,83 miliar juga digunakan untuk membiaya artis yang membawa obor Asean Games tahun 2018. Pihak Istana pun angkat bicara terkait dana Rp 90,45 miliar. Yang mana telah dikeluarkan pemerintah sejak tahun 2014 untuk para influencer. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Donny Gharal Adian menerangkan pada 22 Agustus 2020. Anggaran senilai Rp 90,45 miliar merupakan anggaran untuk kehumasan. Didalamnya terdapat beberapa alokasi. Seperti iklan layanan masyarakat, audio visual, membuat buku dan influencer. Memastikan bahwa pemerintahan Presiden Joko Widodo atau Jokowi tidak akan sembarangan. Utama dalam melibatkan orang – orang berpengaruh dalam menyosialisasikan program dan kebijakan pemerintah. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Sakit Parah Tak Kunjung Sembuh, Jona Ndruru Butuh Uluran Kasih Biaya Berobat