Terkait Korban Pengeroyokan Berujung Maut di Desa Balohili Gomo Nias Selatan, Pengamat Hukum Hasaziduhu Moho SH, MH :  Paling Berat Pelaku Diancam Hukuman Mati

0
605
Foto Laskarmedia.com

Jakarta, NAWACITAPOSTSEBELUM korban Faogonatola Laia Alias Ama Resti Laia (55) menghembuskan nafas terakhir pada Senin 20 September 2021.  Korban diduga dikeroyok para pelaku  berinisial AL, EG, RL, dan beberapa pelaku lainnya di tepi sungai Dogou, dibelakang Desa Balohili Gomo, Kecamatan Boronadu, Kabupaten Nias Selatan, pada Sabtu 18 September 2021.

Baca Juga : Kapolres AKBP Wawan Iriawan : Pelaku Pembunuh Sadis Siswi SD di Nias Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara

Seperti dilansir laskarmedia.com dengan judul Korban Pengeroyokan Meninggal Dunia di Desa Balohilo Gomo Nias Selatan Kronologis kejadiannya, menurut keterangan warga setempat, berawal padaa 18 September 2021,  korban cekcok mulut dengan tetangga rumahnya, kemudian tetangganya itu, dan dibantu beberapa anggota keluarga lainnya mengeroyok Korban, karena tidak berdaya korban melarikan diri ke rumah warga untuk mendapatkan perlindungan.

Setelah melihat suasana aman, korban melarikan diri lewat pintu belakang, ketahuan kepada para pelaku  dan langsung mengejar korban dan mencari disekeliling desa Balohili dan akhirnya korban ditemukan oleh para pelaku.

Setelah para pelaku menemukan korban kembali dianiaya dan digelandang dibawa ke Desa, kejadian tersebut disaksikan oleh Kelapa Desa Balohili Gomo sampai ke rumah Korban, sesampai dirumah korban dia di Pasung Kakinya sampai akhirnya Korban menghembuskan nafas terakhirnya.

Dugaannya, Faogonatola Laia korban pengeroyokan dengan kekerasan berujung maut yang diduga dilakukan oleh Satu keluarga kepada Korban tetangganya sendiri di Desa Balohili Gomo Kecamatan Boronadu Kabupaten Nias Selatan, Senin (20/9/21).

Mendengar laporan masyarakat, Anggota Polisi dari Polsek Gomo langsung ke Tempat Kejadian Perkara melakukan olah TKP dan membawa jenazah korban ke Puskesmas Gomo guna melakukan Otopsi guna proses penyidikan.

Menurut Kapolsek Gomo, Ipda Johnson Sianipar ketika dihubungi nawacitapost, Jumat (24/9/2021) “Penyebab kematiannya korban lagi menunggu visum, kan kejadiannya Sabtu 18 September 2021 dan meninggalnya Senin 20 September 2021. Pelakunya untuk sementara belum ditangkap atau ditahan,” jelasnya.

Sementara itu Pengamat Hukum Hasaziduhu Moho kerap disapa Ama Citra, ketika dihubungi nawacitapost.com, Jumat (24/9/2021)  menyatakan :  Pertama  Perbuatan para pelaku dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang terencana, alasannya :  Didahului oleh cekcok antara para pelaku dan korban,   para pelaku berusaha untuk menunggu korban dari persembunyiannya dan setelah ketahuan, di kejar, dianiaya dan dipasung sampai meninggal, dan  melakukan penganiayaan terhadap orang yang diduga sakit (kurang ingatan).

Kedua  Kepala Desa tidak ada usaha untuk mencegah dan melerai penganiayaan yang sedang terjadi, karenanya tindakan Kades tersebut dapat diduga, melakukan pembiaran terhadap perbuatan pidana dan tidak memberi pertolongan terhadap orang yang patut ditolong.

Perbuatan para pelaku memenuhi unsur Pasal 55 KUHP Jo. 340 KUHP  (ancaman hukuman mati, seumur hidup atau 20 tahun penjara) atau Pasal 55 KUHP Jo. Pasal 351 ayat 3 KUHP (ancaman hukuman 7 tahun penjara).  Pasal 353 ayat 3 (ancaman 9 tahun penjara), sementara  Kades dapat memenuhi Pasal 531 KUHP (ancaman 3 bulan kurungan), pungkas Ama Citra.