Juni adalah pelajar kelas VI MI Daarul Aitam Palembang. Juni mengatakan pada, Selasa (6/10/2020). Sebenarnya punya handphone, tapi sudah rusak. Jadi setiap hari ya itu tadi, belajarnya pinjam punya teman.
Kisah perjuangan Juni untuk bisa memperoleh handphone demi mengikuti pembelajaran di sekolah, viral di sosial media. Tepatnya saat Juni berkeliling konter di salah satu pusat perbelanjaan dengan membawa uang Rp 300 ribu hasil menabung dari berjualan tisu di lampu merah. Saat itu Juni berujar kepada salah seorang penjaga konter bahwa ia sangat butuh handphone untuk belajar. Berikut bunyi postingan tersebut menceritakan permohonan Juni kepada penjaga konter ; Tolong saya bu, saya mau ngerjain tugas, saya masih mau sekolah, saya masih mau masuk SMP nanti.
Cerita haru Juni itu diposting oleh ketua komunitas S3 Palembang, Yulisna Dewi (41) di akun Facebooknya. Juni saat itu ia sudah berkeliling ke berbagai konter untuk bisa mendapat handphone seharga Rp 300 ribu sesuai hasil tabungannya. Namun tidak ada yang ia dapat karena handphone android yang ditemuinya dijual dengan harga paling murah Rp 500 ribu. Jadi tidak ada handphone yang di beli. Sudah tanya-tanya sama yang jaga konter, tapi tidak ada yang jual (handphone) dengan harga segitu (Rp.300 ribu).
Baca Juga : FSGI : Dalam UU Ciptaker Pendidikan Sebagai Komoditas yang Diperdagangkan
Rupanya, seorang penjaga konter menaruh iba melihat perjuangan Juni demi bisa belajar. Penjaga konter tersebut ternyata mengenal ketua komunitas S3 dan menceritakan perjuangan Juni. Sehingga pelajar itu bisa dapat bantuan handphone yang merupakan salah satu program dari komunitas tersebut.
Dirinya sama sekali tidak menyangka akan mendapat bantuan itu. Juni mengaku begitu senang karena saat ini sudah bisa belajar dengan tenang tanpa harus merasa gelisah lagi lantaran sebelumnya selalu meminjam handphone orang lain. Iya, senang sekali.
Sejak berusia 7 tahun, Juni mengaku sudah terbiasa berjualan 3 bungkus tisu seharga Rp. 10 ribu di lampu merah jalan-jalan protokol kota Palembang. Tak hanya itu, bila sedang ada waktu luang, ia juga kerap memungut barang-barang bekas di jalan yang kemudian dijual kepada pengepul. Kegiatan itu dilakukan untuk menambah penghasilan ibunya yang juga merupakan seorang pemulung barang bekas. Jual tisu pindah-pindah tempat. Kadang di lampu merah Jalan Rajawali, kadang di Simpang Charitas. Tapi juga kadang ke Jalan di Sematang Borang. Hampir setiap hari, Juni bersama teman-temannya berjualan tisu di lampu merah dari pukul 16.00 sampai 19.00.
Waktu itu dipilih karena tidak menganggu jadwal sekolah dan memang merupakan saat ramai karena banyak orang yang pulang kerja. Mereka pergi ke tempat tujuan berjualan dengan menaiki angkot. Kemudian saat hendak pulang, biasanya bocah-bocah tersebut lebih memilih untuk jalan kaki sampai ke rumah masing-masing. Lumayan dapat penghasilannya, setiap hari kadang bisa bawa untung Rp 50 ribu. Uangnya ada yang di simpan sendiri, ada juga yang dikasih ke ibu. Jadi memang benar-benar menabung sedikit demi sedikit supaya bisa beli handphone. Tapi sekarang alhamdulillah sudah dapat handphonenya.
Kebahagian serupa juga dirasakan Masri (53), ibu kandung Juni. Masri mengaku sangat bahagia sekaligus lantaran putrinya tersebut bisa mendapat bantuan handphone yang akan digunakan untuk belajar. Sebab dengan keterbatasan ekonomi yang dialaminya, Masri mengaku hanya bisa pasrah melihat perjuangan putrinya yang berjuang demi bisa melanjutkan sekolah. Karena dia biasanya datang sendiri ke sekolah cuma untuk kumpul PR. Kadang ke sekolah kalau dia lagi minta ditemani. Sedangkan teman-temannya yang lain kumpul tugas melalui handphone
semua. Masri berharap Juni bisa terus melanjutkan sekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi. Ya, pastinya berharap dia bisa terus sekolah dan jadi orang sukses.
Sementara itu, ketua komunitas sedekah seribu sehari (S3) Palembang, Yulisna Dewi (41) mengatakan. Program bagi-bagi handphone bagi pelajar yang membutuhkan, adalah salah satu dari program dari sekian banyak program dalam komunitas yang ia naungi. Setidaknya sudah ada sekitar 20 handphone yang dibagikan komunitas tersebut sejak pembelajaran dengan sistem daring mulai diterapkan di sekolah. Semenjak anak-anak susah belajar dengan handphone, timbul inisiatif untuk membuat gerakan. Jadi buka donasi handphone-handphone mati total, kemudian di service. Soalnya kalau kasih handphone baru, pasti harganya mahal. Jadi berinisiatif seperti itu. Dan alhamdulillah ada yang mau bekerjasama. Bisa service handphone-handphone rusak itu sampai hidup kembali. Tanpa dibayar, cuma beli alat saja. Dari itu, kegiatan ini bisa berjalan.
Keluar dari kesulitan para pelajar di masa pandemi seperti saat ini. Alhamdulillah, bantuan yang disalurkan murni donasi dari para anggota. Tidak berharap pada pemerintah ataupun instansi-instansi. Anggota S3 juga berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari ibu rumah tangga, dokter, dosen, pengacara bahkan kuli bangunan, tukang becak juga ada yang menjadi bagian dari komunitas untuk memberi perhatian kepada mereka-mereka yang membutuhkan.