Terkait Sidang Gugatan Perdata di Gunungsitoli, Christian Zebua Pilih Pilkada Nias

0
1227
Gugatan Sudirman Telaumbanua Terhadap CZ, PN Gunungsitoli Gelar Sidang Lapangan

Jakarta, NAWACITAPOST- Christian Zebua adalah lulusan Akademi Militer angkatan 1980. Berbagai karier militernya pernah di dijalaninya. Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) periode 2008 -2010. Kemudian 2012 – 2014 sebagai Pangdam XVII/Cendrawasih. Setelah itu ditarik sebagai staf khusus Kasad 2014 -2015. Serta pensiun sebagai tentara dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal (Mayjen) TNI (Purn) pada tahun 2015. Berarti sudah 35 tahun mengabdi sebagai tentara.

Baca Juga : Pasangan Pendatang Baru Pilkada 2020 Kepulauan Nias Diprediksi Sulit Menang

Pria kelahiran Gunungsitoli ini setelah sebagai warga sipil mendaftar menjadi kader partai Nasdem. Ketika Pilkada 2020 ini bergulir, suami dari Deli Asnawati Mendrofa mencoba peruntungan dengan mengikuti sebagai calon Pilkada bukan di tempat kelahirannya, Gunungsitoli melainkan kabupaten Nias. Padahal Gunungsitoli pun menggelar Pilkada juga.

Dari jumlah kursi DPRD Kabupaten Nias sebanyak 25. Pasangan Christian Zebua-AKBP Purn Anofuli Lase baru mendapat 4 kursi, yaitu 3 dari Nasdem dan 1 dari Perindo. Padahal dukungan minimal adalah 5 kursi untuk diajukan sebagai pasangan calon dari unsur partai politik.

Pertanyaanya apakah tindakan Christian Zebua salah dengan maju sebagai Pilkada Nias bukan Gunungsitoli? Jawabnya tidak. Secara aturan tidak ada yang dilanggar. Namun mungkin secara etika politik dan kepantasan, agaknya langkah ayah dari dr. Andani Zebu, Maranatha Zebua, S.E, dan Satria Zebua kurang elok.

Secara kepangkatan militer seharusnya anak dari mantan Panitera Pengadilan Gungungsitoli, Faogonasokhi Zebua ini lebih tepat bertarung di Pilkada Provinsi. Jika pun mau ikut Pilkada sebaiknya di tanah kelahiran yang membesarkannya. Atau apakah merasa tidak ada putra putri kelahiran Kabupaten Nias yang pantas jadi orang nomor satu di Kabupaten Nias?

Kalau demikian bisa saja prinsip pemilih Kabupaten Nias berkata tidak mungkin lebih peduli membangun kampung orang lain dari pada kampung sendiri. Atau tidak mungkin orang yang bukan berasal dari kabupaten Nias lebih peduli membangun Kabupaten Nias. Sekali lagi penjelasan ini bukan terkait peraturan atau menghalangi hak seseorang dipilih dan memilih. Hal ini hanya terkait etika dan kepantasan saja.

Selain soal Pilkada Nias, Christian Zebua juga seperti diberitakan Sergaponline dengan judul berita Sidang Perdana Gugatan Sudirman vs Mayjen (Purn) Christian Zebua, Digelar.

Pengadilan Negeri Gunungsitoli, Selasa 2 Juni 2020  menggelar sidang perdata dengan penggugat Sudirman Telaumbanua terhadap Mayjen (Purn) Christian Zebua sebagai tergugat I dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Nias sebagai tergugat II, dengan agenda sidang mediasi.

Sidang perdana yang digelar diruang sidang PN Gunungsitoli  pukul 12.15 wib, dipimpin oleh Agus Komarudin, SH sebagai Hakim Ketua.

Kedatangan penggugat di pengadilan tanpa didampingi penasehat hukum, sementara tergugat I. Christian Zebua dalam persidangan diwakili penasehat hukumnya (PH) dan Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Nias sebagai tergugat II juga turut hadir.

Dari hasil sidang yang digelar, Ketua Majelis Hakim memberikan waktu selama 30 hari kepada para pihak untuk melakukan mediasi. Apabila dalam waktu tersebut tidak juga menemui titik kesepakatan maka sidang akan dilanjutkan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Entah ini benar atau tidak atau hanya sekedar kabar biasa saja. Mungkin Christian Zebua tidak mau maju di Pilkada tanah kelahirannya karena adanya sidang perdana gugatan atau sudah ada calon lain di Pilkada Gunungsitoli. Bisa jadi juga, jika dirinya memaksakan maju Pilkada di tanah kelahirannya maka akan mempengaruhi  jumlah pemilihnya (menyusut). Mungkin itu pertimbangannya juga.