Baca Juga : Pemilik Rumah Kesal, Rekening PDAM Belum Lunas Dibayar DPC GMNI Gunungsitoli
Calon yang diusung partai ini adalah pasangan Lakhomizaro Zebua-Sowa'a Laoli atau disebut Laso. Laso adalah calon dari Petahana dan mau kedua kalinya dia akan berlaga dan bertarung lagi.
Pasangan Laso yang didukung Herman Jaya Harefa
September 2020 adalah batas penerimaan calon pilkada harus masuk ke kantor KPU Daerah Kota ini.
Kabarnya pasangan calon ini punya lawan tangguh yaitu pasangan Martinus Lase dan Hadirat ST Gea atau disebut MaHir yang sudah final di tetapkan Partai Demokrat Kota Gunungsitoli, bahkan dukungan Mahir diperkuat juga oleh ketetapan Partai Demokrat Sumatera Utara.
Namun entah mengapa? Tiba-tiba suara orang nomor satu Partai Demokrat (PD) kota ini, Herman Jaya Harefa berubah haluan.
Pemanggilan dirinya ke kantor pusat PD dan menemui Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Andi Arief jadi alasanya.
Padahal sekelas Andi Arief tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk menentukan daerah itu calonnya A atau B, tetapi Andi hanya mendengar dan menetapkan saja, sedangkan yang mengusulkan adalah daerah dalam hal ini Herman.
Apalagi yang dibangun oleh AHY sebagai nakhoda Demokrat adalah suara dari daerah. Sebab daerahlah yang paling tahu siapa calon yang layak diusung sebagai calon. Jadi tidak mungkin DPP PD langsung menunjuk Laso, harus ada usulan dulu dari demokrat gunungsitoli. Sepertinya Herman mengusulkan pasangan Laso.
Padahal PD dalam Pilkada ini hanya butuh 1 kursi saja. Sebenarnya mudah saja diganti saja calon nomor satu atau calon nomor dua diberikan ke partai lain. Lagi-lagi alasannya partai lain sudah merapat ke pasangan Laso. Jika Herman mau melobi partai lain untuk dijadikan wakil dari PD.
-
Sebelum Herman jadi ketua PD kota ini, Martinus Lase pernah menjabat posisi yang diduduki Herman . Aroma tak sedap dan liar mulai bergulir.
Mengapa Herman tak mau berjuang atau mendekati partai lain minimal yang punya satu kursi, PKB misalnya? atau jika mungkin Gerindra yang punya 3 kursi. Atau lebih ekstrim lagi tukar tempat, misalnya Gerinda di calon nomor satu dan Demokrat nomor 2.
Lebih aneh lagi pernyataan wakil ketua DPRD dari Demokrat ini mengatakan kemungkinan bisa berubah. Padahal Ketika bertemu Bappilu PD pusat di Jakarta Herman menerima dan melaksanakan keputusan partai besutan SBY ini.
Begitu tiba di Gunungsitoli kalimat dari mulutnya yang bermuatan politis mulai keluar. Seperti bisa berubah dukunganya, kita harus menerima karena ini untuk kepentingan Partai.
Nampaknya Herman ingin meredam suara kader Demokrat yang telah kadung mendukung dan mengusung pasangan Mahir.
Padahal kita tahu bersama AHY sudah ‘ditolak’ masuk kabinet Jokowi apalagi mendekat ke PDI Perjuangan.
Memang politik serba kemungkinan dalam menit-menit akhir bisa berubah. Namun etika harus dikedepankan. Seharusnya Herman mencoba dalam tetes darah penghabisan untuk melobi dan mendekat ke partai lainnya. Bukankah Martinus Lase ini pernah jadi Walikota di Gunungsitoli?
Jika 9 partai di Kotamadya Gunungsitoliimerapat ke pasangan Laso yang didukung kuat PDI Perjuangan. Maka dugaan melawan kotak kosong bisa terjadi. Sebaliknya ini bisa dihindari jika Herman sungguh-sungguh, melobi dan mendekat ke partai lain.