Ketum PPNI : Mari Peringati 12 Mei, Menengok Jasa Garda Terdepan

3
516
Foto : Ketua Umum DPP PPNI, Harif Fadhilah

Jakarta, NAWACITAPOST – Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) memimpin peringatan 12 Mei sebagai Hari Perawat Internasional (International Nurses Day). Melalui organisir dan koordinasi dari Ketua Umum DPP PPNI, Harif Fadhilah. Setiap tahunnya dilaksanakan mulai dari tingkat pusat, wilayah hingga komisariat atau instansi pelayanan kesehatan dan institusi pendidikan keperawatan di seluruh Indonesia. Harif mengatakan kepada jurnalis Nawacitapost, Selasa 12 Mei 2020. Namun, tahun 2020 menjadi tahun sangat berbeda. Bisa dibilang juga tahun istimewa. Para ahli medis menjadi garda terdepan. Menangani kesehatan masyarakat. Terlebih seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan sebagai Tahun Perawat dan Bidan (The Year of the Nurse and Midwife). Sekaligus juga ditetapkan ke 200 peringatan kelahiran Nightingale. Merupakan sosok pelopor perawat modern.

Foto : Ketum DPP PPNI, Harif Fadhilah

Sisi lain, Dewan Perawat Internasional (International Council of Nurses / ICN) merupakan federasi lebih dari 130 asosiasi perawat nasional, mewakili lebih dari 20 juta perawat di seluruh dunia. Mengangkat tema Hari Pahlawan Internasional 2020 yaitu Perawat : Suara untuk Memimpin – Merawat Dunia untuk Kesehatan (Nurses : A Voice to Lead – Nursing the World to Health). Menunjukkan perlakuan perawat adalah pusat dalam menangani berbagai tantangan kesehatan.

BACA JUGA: Sekjend HIMNI Apresiasi Pelaksanaan Bansos DPC Bengkalis

Harif menambahkan. PPNI bersama seluruh Perawat Indonesia dan jaringannya tersebar di 34 Provinsi, 514 Kabupaten/Kota, 5759 Komisariat, 4 Perwakilan Luar Negeri (Kuwait, Qatar, UEA, dan Arab Saudi), Kolegium, dan Ikatan-Himpunan seminat. Bekerja tak kenal lelah untuk memberikan perawatan dan perhatian yang dibutuhkan orang, kapanpun dan dimanapun membutuhkannya. Peran profesional ditunjukan oleh segenap perawat Indonesia. Menghadapi pandemi yang mengancam kesehatan dan keselamatan. Bahkan sedikitnya sampai dengan 11 Mei 2020 terdapat 11 Anggota PPNI yang meninggal. Hasil swab atau pemeriksaan PCR (Polymerase Chain Reaction) positif.

Foto : Ketum DPP PPNI, Harif Fadhilah

Kemudian dikatakan. PPNI terus dan tetap aktif membantu mengatasi sejumlah persoalan yang dialami Perawat. Menyediakan APD, menghimpun donasi dan mendistribusikan kepada Perawat yang membutuhkan. Mengadvokasi berbagai pihak untuk memberikan perlindungan. Menyediakan lingkungan kerja yang aman bagi Perawat. Memfasilitasi mobilisasi bantuan dan relawan. Menggalang kerjasama dalam mengupayakan ahli waris sejawat yang meninggal karena Covid-19. Demi untuk mendapatkan manfaat asuransi jiwa dan lainnya.

BACA JUGA: Yasonna : Perppu, Keselamatan Rakyat adalah Hukum Tertinggi

Lanjutnya, mencatat ada sejumlah persoalan yang langsung menyentuh sejawat Perawat selama wabah terjadi di Indonesia. Minimnya Alat Pelindung Diri (APD) untuk Perawat dan tenaga kesehatan lain yang langsung berhadapan dengan pasien Covid-19. Stigma kepada Perawat yang memang sungguh tidak dapat dielakkan. Cukup memilukan. Dikatakan sebagai pembawa virus dan agen penularan, penolakan terhadap Perawat di lingkungan rumah indekos, bahkan penolakan hingga liang lahat (dilokasi pemakaman) terhadap jenazah Perawat yang meninggal karena Covid-19. Sebenarnya merupakan sejumlah permasalahan yang kontraproduktif bagi upaya perang melawan Covid-19. Memang sebuah risiko besar yang dialami oleh keluarga dari garda terdepan. Konsekuensi terburuk membayangi orang yang disayangi dan dikasihi.

Foto : Ketum DPP PPNI, Harif Fadhilah

Harif melanjutkan. Mengapresiasi atas salah satu video penghormatan terakhir untuk tenaga medis. Video yang dibuat oleh Tim Medis RSPAD Gatot Subroto untuk jenazah Sugiarto yang tengah dibawa dengan ambulans ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sempat viral pula di media sosial (medsos). Bisa dilihat bahwa Sugiarto menjadi sosok yang akan dikenal oleh rekan sejawatnya maupun keluarga. Memang tidak ada yang bisa menyangka berujung pada kematian dari Covid 19. Sungguh miris melihat isak tangis yang mengalir deras. Perlu diketahui memang sebelum kepergian, Sugiarto merupakan Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Diduga terpapar virus Corona Covid 19 dari pasien yang dirawatnya. Mengingatkan kepada semua bahwa 12 Mei menjadi momen penting dan berarti. Menengok jasa para garda terdepan. (Ayu Yulia Yang)

BACA JUGA: Bukan Saatnya Lagi, Takut dan Khawatir akan Rampok?

 

Comments are closed.