Kepala BRIN paparkan tiga arah pembangunan Ekosistem Riset dan Inovasi Indonesia

0
278
FOTO : Laksana Tri Handoko

Jakarta, NAWACITAPOST – Dalam kapasitasnya sebagai Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Dr Laksana Tri Handoko, berpartisipasi pada program ‘Hot Economy’ yang ditayangkan oleh BeritaSatu TV, Senin (4/5). Diskusi yang dipandu presenter BeritaSatu TV Andra Lesmana, juga dihadiri Kepala Pusat Penelitian Inovasi dan Ekonomi Digital INDEF Nailul Huda.


Pada kesempatan itu, Laksana Tri Handoko mensosialisasikan Tiga Arahan Utama pembentukan BRIN yaitu:
1. Konsolidasi sumber daya (manusia, infrastruktur, anggaran iptek untuk meningkatkan critical mass, kapasitas dan kompetensi riset Indonesia untuk menghasilkan invensi dan inovasi sebagai pondasi utama Indonesia Maju 2045.
2. Menciptakan ekosistem riset sesuai standar global yang terbuka (inklusif) dan kolaboratif bagi semua pihak (akademisi, industry, komunikas, pemerintah).
3. Menciptakan pondasi ekonomi berbasis riset dan inovasi yang kuat, serta berkesinambungan dengan memfokuskan pada Digital Green Blue Economy (#digitalgreenblueeconomy)

BACA JUGA :  Kasatgas Imbau Kepala Daerah Ikuti Arahan Pusat Terkait Peniadaan Mudik

Riset dan Inovasi Kunci Pertumbuhan Ekonomi.
“Saat ini memang urgensi BRIN adalah segera meningkatkan riset dan inovasi, yang merupakan salah satu kunci untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tidak di ragukan lagi, bahwa penguasaan riset, teknologi dan penciptaan inovasi anak bangsa yang berkualitas, akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Melalui riset dan inovasi, BRIN ingin memberikan dampak ekonomi secara langsung kepada masyarakat Indonesia dan dunia, sehingga keberadaan BRIN akan dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang,” jelas Kepala BRIN.

BACA JUGA :  Waspadai Mutasi Virus Baru dari Sejumlah Negara dengan Disiplin Protokol Kesehatan

Manfaatkan keanekaragaman hayati untuk implementasi #digitalbluegreeeneconomy.
Kepala BRIN mengatakan Indonesia meyakini dapat mengejar ketertinggalan dari negara maju dalam bidang riset, inovasi, dan teknologi. Hal ini dikarenakan, Indonesia memiliki keunggulan sebagai negara dengan keanekaragaman hayati total (laut dan darat) terbesar kedua di dunia, setelah Brasil. Bahkan Indonesia memiliki ranking 1 untuk keanekaragaman hayati daratan. Oleh sebab itu, diperlukan riset dan teknologi yang lebih massive, agar Indonesia tetap memacu kecepatannya untuk penciptaan inovasi, sehingga dapat menyusul kemajuan riset dan inovasi dari negara-negara maju lainnya.
Keberadaan BRIN dirasa sangat tepat untuk melibatkan semua pihak dari kalangan akademisi, bisnis, pemerintah, pihak swasta maupun komunitas. Implementasi Digital, Blue, Green Economy akan mendukung inovasi anak bangsa yang lebih ramah lingkungan dan berkesinambungan, guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi, tidak saja di masa pandemi ini, tapi juga di masa yang akan dating.

BACA JUGA :  Sejumlah Indikator Penanganan Membaik, Pemerintah Kembali Perpanjang dan Perluas PPKM Mikro

Konsolidasi Sumber Daya (Manusia, Infrastruktur, Anggaran Iptek) dalam BRIN.
Sebelum BRIN dibentuk, sangat dirasakan bahwa sumber daya untuk mendukung riset, teknologi dan inovasi, tersebar di penjuru Indonesia. Dengan RD budget per GDP 0.25 % dan tersebarnya sumber daya manusia, infrastruktur dan anggaran secara acak, maka akan sulit menkonsolidasikan Program=program Riset Inovasi Nasional (PRIN) untuk mendukung Indonesia Emas di 2045. Oleh sebab itu, pembentukan BRIN saat ini di rasa sangat tepat dari segi timing dan momentum, karena jika tidak pernah di mulai, maka riset dan inovasi Indonesia akan semakin terlambat untuk berpacu landas (take off) menuju negara berbasis inovasi.

“Kami targetkan untuk bisa melakukan konsolidasi secepat-cepatnya untuk mendorong inovasi di semua lini dan mendorong Indonesia bisa bergeser ke ekonomi berbasis inovasi (innovation based Economy), melalui konsep _digital blue green economy,. Diharapkan keterlibatan masyarakat dan efesiensi sumberdaya secara berkelanjutan, dapat mencapai tujuan tersebut. Jika memiliki ekosistem riset yang kuat dan menghasilkan inovasi yang mampu memberikan peningkatan kompetensi dari beberapa produk inovasi, maka BRIN akan menjadi fundamental ekonomi Indonesia dengan fokus dan berbasis pada sumberdaya lokal,” terang Laksana Tri Handoko (LTH).

Lebih lanjut LTH mendorong peran dan keterlibatan swasta dan juga komunitas, dalam mendanai serta melakukan riset dan inovasi penelitian dan pengembangan, sehingga ekosistem penelitian dan pengembangan di Indonesia semakin terbangun.
Kepala BRIN berharap BRIN dapat menjadi fasilitator dan enabler yang bertanggung jawab melakukan konsolidasi dengan berbagai penelitian dan pengembangan (litbang). Jika selama ini pihak swasta menganggap bahwa keikutsertaan dalam riset dan inovasi adalah high risk, sekarang BRIN dapat melakukan sharing sumberdaya (antara lain SDM, Infrastruktur dan fasilitas riset dan inovasi), sehingga inovasi-inovasi anak bangsa yang dihasilkan akan memenuhi kebutuhan masyarakat, dan lebih massive lagi untuk di implementasikan dan digunakan oleh masyarakat Indonesia dan dunia.

“Dari Indonesian Gross Expenditure on Research and Development (GERD) diperkirakan anggaran riset pemerintah pusat baru mencapai 0,25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Oleh karena itu BRIN akan merancang formula dan solusi agar riset tidak lagi tumpang tindih, less bureaucracy, dan diharapkan akhirnya Indonesia akan dapat memiliki anggaran GERD yang lebih baik lagi.

Saat ini dari 0.25%, 80% di danai oleh Pemerintah dan hanya sekitar 20% yang didanai oleh pihak swasta/komunitas. Di negara-negara maju, angka ini terbalik. Pihak swasta dan komunitas sangat berperan untuk memajukan riset dan inovasinya. Jadi pembentukan BRIN akan mengarah kepada perbaikan anggaran riset dan inovasi, dan sekaligus juga mendukung terciptanya inovasi atau kebaruaan yang lebih massive. Yang perlu diingat adalah inovasi tidak hanya di miliki oleh periset, perekayasa, inovaator yang berada di lingkungan BRIN; akan tetapi inovasi (kebaruan penciptaan dan idea) bisa dimiliki setiap individu, perseorangan, maupun kelompok swasta dan komunitas. Nach, dengan bekerja sama di masa depan, semua pihak yang terlibat dapat berkolaborasi dengan lebih baik lagi, dengan memanfaatkan BRIN sebagai enabler untuk perkembangan riset dan inovasi, guna mendongkrak Indonesia (yang saat ini berada dalam kelompok Upper Middle Country) kedalam kelompok Negara Maju, sekaligus menyongsong Indonesia Emas di 2045,” jelas LTH.

Biro Kerjasama dan Kompublik
Badan Riset dan Inovasi Nasional