Awas!Narkoba Menyusup Anak Sekolah, Generasi Penerus Pun Korban

0
193
Diskusi Webinar yang diadakan PAMEO, Matra id, dan DPP GAMKI, Kamis (23/7/2020)

Jakarta, NAWACITAPOST-Kita sepakat bahwa Narkoba adalah musuh kita bersama.
Tak ada kata mencoba apalagi kompromi untuk obat yang berbahaya ini.

Para pengguna obat ini untuk pertengahan tahun 2020  saja sudah mencapai 3.7016.000 dengan usia terbesar 15 – 65 tahun, jelas Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN). Irjen. Pol Drs. Arman Dapari  yang disampaikan pada acara webinar Paguyuban Media Online (PAMEO) dan didukung Perkumpulan Multimedia Transformasi Indonesia (Matra ID) serta DPP GAMKI,  Kamis (23/7/2020).

Acara bertajuk  “Menyelamatkan Anak Bangsa dari Bahaya Narkoba”  Diadakan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tgl 23 Juli ini  dilaksanakan dalam format via aplikasi zoom meeting.

Bahkan penyalahgunaan narkoba ditemukan 76 zat psikoaktif (new psychoactive substances – NPS) yang beredar di Indonesia dari jumlah 892 Narkotika di dunia.

Korban Pemakai Narkoba

Perkembangan teknologi informasi ternyata juga ikut menyumbang angka penyalahgunaan narkoba—dalam hal ini pemasarannya.

“Adanya tren ancaman teknologi informasi (Cyber) terhadap penyalahgunaan narkoba, yakni, peredaran narkoba dilakukan melaui media sosial dan website. Peredaran narkoba dilakukan melalui jaringan internet tersembunyi yang sangat sulit dilacak.

Perkembangan teknologi akan menciptakan celah bagi pelaku kejahatan, memproduksi ataupun mengedarkan narkoba dengan lebih mudah, murah dan tidak terdeteksi,” ungkapnya

Arman Dapari, juga mengingatkan agar para orangtua dapat memberikan perhatian kepada anak-anak dari bahaya narkoba.
Maka tugas Orangtua kepada anak terkait bahaya Narkoba, memberikan waktu, memantau, dan mendidik Moral dan Spiritual.

BNN pun kata Dapari mempunyai tiga langkah penanggulangan masalah narkoba, yakni, Pencegahan, Pemberantasan, dan Rehabilitasi, pungkasnya.

Sedangkan mantan petinggi Polri yang saat ini menjabat Ketua Umum Badan Kerjasama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama, Mayjen Pol. (Purn) Drs. Putera Astaman, mendukung razia-razia penyalahgunaan narkoba di tempat-tempat hiburan yang dilakukan Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol. Drs. Arman Depari.

“Hal ini sangat perlu, tetapi jangan terbatas hanya kepada pengunjung tempat hiburan, harus juga dilakukan kepada pekerja, termasuk dilakukan kepada pemilik atau pengelola tempat hiburan,”pintanya.

Pendapat yang sama ditegaskan Praktisi hukum, juga pengajar di Universitas Buya Hamka (UHAMKA) Jakarta, Ramdhansyah Bakir, berpikir untuk memberikan  bahaya narkoba dalam kurikulum sekolah, sebagai upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Sarjana Kriminologi FISIP UI ini, memandang perlu pencegahan dilakukan dengan memperluas larangan merokok di tempat tempat yang berhubungan dengan anak selain di sekolah, seperti RPTRA, dan lain-lain.

Ramdhan mengingatkan agar semua memiliki tanggungjawab untuk melindungi anak-anak, dari peredaran narkoba yang disamarkan dalam bentuk makanan atau minuman, termasuk anak-anak jalanan perlu juga mendapat perlindungan, agar tidak menjadi konsumen dan pengedar narkoba.

Pria kandidat Doktor yang juga penggiat sosial kemasyarakatan ini menegaskan agar anak yang tersangkut kasus narkoba, sebagai korban, perlu adanya perlindungan untuk tidak diekspos media.

Hal senada disampaikan Helen Simarmata, dari DPP GAMKI, menyampaikan edukasi dan penyuluhan narkoba harus gencar dilakukan, terutama kepada orang tua, agar tanggap terhadap perubahan yang ditunjukkan oleh anaknya

“Era adaptasi kebiasaan baru (New Normal) menjadi titik awal, membangun kesadaran orang tua dan seluruh anggota keluarga, untuk menciptakan suasana harmonis dan saling mendukung serta menjaga satu sama lain,” ujar Dosen FISIPOL UKI.

Bagi Helen, dalam melakukan rehabilitasi anak harus melibatkan orangtuanya. Sebab anak sangat membutuhkan dukungan dan perhatian orangtuanya untuk menata kembali hidupnya.

Koordinator PAMEO Dedy Tambunan, mengemukakan tidak sedikit yang tersangkut dengan penyalahgunaan bahaya narkoba itu anak-anak yang beragama Kristen.
Maka diperlukan keterlibatan gereja, pendeta dalam hal ini untuk memberikan penyuluhan dan khotbah-khotbah yang mengingatkan bahaya dari penyalahgunaan narkoba.

Artis Pemakai Narkoba yang telah sembuh

Narkoba bisa ada dan hadir di rumah ibadah, sekolah, tempat kursus. kantor wakil rakyat, kantor pemerintah. Kalau diskotik jangan tanya.

Pemakai dan penggunanya ada dari artis atau selebriti, politisi, aktivis,  pengacara, pengusaha, penguasa, dan mungkin juga  yang taat agamapun bisa terjerat.

Sedangkan para pengedar pun menjelma sebagai penolong rakyat kecil. Namun itu hanya topeng dan sebuah bantuan haram.

Peran keterlibatan oknum aparat penegak hukum dalam peredaran barang haram sudah bukan rahasia umum lagi, sudah banyak pula mereka itu yang tertangkap dan mendekam dibalik jeruji.

Anehnya para pengedar narkoba, sebagian besar tidak pernah menggunakan barang haram tersebut. Ya, karena  mereka  tahu bahwa narkoba  adalah barang berbahaya dan merusak generasi penerus bangsa.

Makanya peran kita sebagai orang tua yang mengerti betul bahaya narkoba  harus  mampu mengatakan tidak dan tidak untuk narkoba.