PBF Keluhkan Pembayaran, RSCM Terancam kekurangan obat dan Alkes

37
1974

Jakarta, NAWACITA – Beberapa Pedagang Besar Farmasi (PBF) sebagai perusahaan penyuplai obat dan juga alat kesehatan sangat mengeluhkan kinerja keuangan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Kinerja keuangan sangat buruk dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ujar salah seorang kepala cabang PBF, terbukti untuk perusahaan kami saja masih ada piutang belum dibayar untuk pembelanjaan 2017 (>365hari) dan untuk tahun 2018 ini juga masih tersendat-sendat pembayarannya oleh RSCM.

Dari hasil pemantauan nawacita dilapangan ditemukan RSCM belum sepenuhnya melakukan pembayaran sesuai term of Payment (TOP) dari masing-masing PBF, dan hal ini ternyata sudah ditindaklanjuti oleh team PBF masing-masing baik dari kantor cabang maupun kantor pusat yang secara rutin dan berkala kunjungan sekaligus bertemu dan rapat dengan management RSCM membicarakan perihal pelunasan piutang yang sudah lama. Selalu keputusan yang didapat contohnya komitmen bayar sejumlah berapa, namun pada kenyataannya realisasinya jauh dari komitmen.

Ada dugaan kuat melemahnya kinerja keuangan RSCM sehingga pembayaran utang rekanan terganggu akibat klaim BPJS yang masih belum cair/lama cair, sehingga uang yang ada yakni hasil operasional digunakan untuk prioritas operasional Rumah sakit dan efeknya pembayaran kepada rekanan/PBF menjadi urutan berikutnya alias lama.

Besarnya jumlah tunggakan RSCM Kepada PBF bila ditotalkan diperkirakan lebih dari Seratus (100) Miliar Rupiah ini merupakan jumlah yang sangat besar sehingga hal ini harus ditindaklanjuti dengan serius ujar paguyuban PBF dijakarta yang selama ini sudah membahas rumah sakit yang masuk kategori bayar tidak lancar termasuk RSCM. Paguyuban PBF tersebut akan segera membuat surat yang intinya meminta direktur baru RSCM dr. Lies Dina Liastuti, Sp.JP(K), MARS yang telah dilantik oleh bu Menkes sebagai direktur baru RSCM pada Mei 2018 lalu untuk segera mengambil tindakan cepat sehingga pembayaran kepada PBF dapat dilunaskan dalam waktu dekat dan tidak sampai tutup tahun 2018.

Berikut TOP PBF yang melayani RSCM dan terkendala : APL, AAM, EPM, DNR, PPG, BSP, Tempo, IGM, Rajawali, KF, Merapi, dll

Paguyuban PBF melalui GP Farmasi DPD DKI berencana meminta kepastian dateline penyelesaian piutang RSCM dan bila tidak kemungkinan besar RSCM tidak akan disuplai (Hold) sehingga bisa berakibat pada pelayanan dan stok obat/alkes kosong di RSCM.

Semoga hal ini menjadi perhatian Direktur baru RSCM dan jajarannya serta kementrian Kesehatan Repuplik Indonesia yang telah menetapkan RSCM sebagai RS Pusat Rujukan Nasional yang seharusnya mendapat perhatian dan prioritas dalam pelayanan, pembangunan, support, dan juga prioritas dalam proses pencairan klaim BPJS agar operasional RSCM tidak terganggu.

(Red. Juan, Sumber Istimewa)

Comments are closed.