Trade Expo Indonesia 2018 Diwarnai Produk Hasil Kerajinan Narapidana

0
42
Tengah; Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita saat melihat stand Dirjen Lapas Kemenkumham di Trade Expo Indonesia 2018, Tangerang.

 

Tangerang, NAWACITA– Produk Unggulan Narapidana ikut dalam Trade Expo Indonesia Tahun 2018 yang akan diselenggarakan pada tanggal 24- 28 Oktober 2018 di Indonesia Convention Exhibition Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten.

Kegiatan ini merupakan salah satu komitmen dan konsistensi yang ditunjukkan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pemasyarakatan dalam mensosialisasikan program pembinaan kemandirian Narapidana kepada masyarakat.

“Saya berharap dengan ikut sertanya Ditjen PAS dalam acara ini akan bisa mempublikasikan program pembinaan kemandirian Narapidana kepada masyarakat baik di dalam maupun luar negeri,” kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Sri Puguh Budi Utami melalui rilis yang dikirimkan kepada Nawacitapost, Rabu (24/10).

Dirinya menuturkan bahwa kegiatan ini akan menjadi sarana strategis bagi Ditjen Pemasyarakatan untuk mempromosikan produk unggulan Narapidana dan berharap ada investor yang menanam modalnya.

“Ini kali kedua kita ikut serta di Trade Expo Indonesia. Promosi dan sosialisasi dari kita tantunya akan lebih baik dari tahun sebelumnya”, kata Utami.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi, Harun Sulianto, mengatakan produk-produk unggulan Narapidana yang ditampilkan dalam Trade Expo Indonesia 2018 seperti kursi rotan sintetis dari Lapas Narkotika Cirebon, ayunan rotan sintetis dari Lapas Kelas I Cirebon.

Kemudian furniture dari Lapas Porong, batik dari Lapas Semarang, Lapas Narkotika Nusakambangan dan Lapas Cipinang, tas batik dari LPP Semarang, hiasan tiga dimensi dari LPP Jakarta, penebah dari LPP Malang, kopi Jeera dan kerajinan kulit dari Rutan Cipinang, tikar kayu dari Lapas Pontianak, kerajinan cukli dari Bapas Nusa Tenggara Barat, tas anyaman dari LPP Mataram.

Ada pula kerajinan kayu dari Lapas Banyuwangi, agenda tapis dan kerudung tapis dari LPP Lampung, kalung batik dari LPP Yogyakarta, sarung soft ball dari Lapas Ambarawa, kaligrafi dari Lapas Madiun, lukisan getah nyatu dari Rutan Palangkaraya, kaos residivis dari eks Narapidana Lapas Banceuy, batik dari Rutan Sumenep, meja akar dari Lapas Kembang Kuning Nusakambanga, serta Bola Kaki dari Lapas Kelas I Cirebon.

“Lapas Industri harus dibangkitkan kembali mengingat persaingan regional yang diharapkan dengan Lapas sebagai sentra industri dapat menyokong produktivitas masyarakat sekitar sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya khususnya Narapidana. Hal tersebut dapat menggerakan sekaligus memperkuat ekonomi bangsa dengan adanya kegiatan di Lapas dan Rutan produktif di Indonesia,” tuturnya.

Kegiatan tersebut merupakan partisipasi aktif Pemasyarakatan dalam membangun perekonomian bangsa melalui hasil karya Narapidana menuju Lapas produktif yang memproduksi hasil karya Narapidana yang dapat bersaing di pasar nasional maupun internasional yang telah terbukti dengan adanya produksi dari lapas yang sudah di impor ke luar negeri.

 

(Red: Hulu)

Tinggalkan Balasan