Jakarta, NAWACITAPOST – Bicara mengenai sosok ini, tak bisa lepas oleh perjuangannya di TNI Angkatan darat, yaitu Moeldoko.

 

Mantan panglima TNI ini lahir di Kediri pada 8 Juli 1957. Ia adalah anak bungsu dari 12 bersaudara buah pernikahan pasangan Moestaman dan Masfuah.

Selama ini karier Moeldoko memang identik dengan pengabdiannya di TNI Angkatan Darat. Puncak kariernya di TNI AD adalah saat dia menjabat sebagai Kepala Staf TNI AD pada 20 Mei hingga 30 Agustus 2013. Setelah itu, Moeldoko kemudian ditunjuk presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk naik pangkat dan menjadi panglima TNI.

Alumnus Akabari angkatan 1981 ini menggantikan Laksamana Agus Suhartono saat ditunjuk sebagai orang nomor satu di TNI. Meski identik dengan pengabdiannya di TNI Angkatan Darat, ia tak lupa dengan pentingnya sebuah Pendidikan. Ayah dari 2 orang anak ini berhasil meraih gelar doktor program pasca sarjana Ilmu administrasi FISIP Universitas Indonesia.

Moeldoko dikenal sebagai sosok yang sangat berprestasi. Dari masa sekolah hingga menjalani karir militer ia memiliki banyak penghargaan, diantaranya Satya Lencana Kesetiaan delapan, enam belas dan 24 Tahun, Satya Lencana Santi Dharma, Satya Lencana Seroja, Tanda jasa dari PBB, bintang Kartika eka paksi naraya, ops timtim dan konga garuda 11-a.

Moeldoko sangat bersahaja ketika masa mudanya, ia sempat merasakan kehidupan prihatin sebelum menjadi sukses seperti sekarang. Moeldoko adalah anak dari seorang petani di desa sehingga sedari kecil ia berjuang dengan keterbatasan ekonominya untuk meriah cita-citanya. Kondisi ekonominya yang cukup terbatas tersebut membuatnya terpacu untuk bisa membanggakan sekaligus mengubah nasib kedua orang tuanya.

Berkat ketekunan dan kerja kerasnya, Moeldoko berhasil menembus ketatnya persaingan taruna TNI. Kesuksesan yang diperoleh Moeldoko tergolong tidak instan. Kehidupan sebelumnya benar-benar membuat Meoldoko tertempa dan semakin kuat.

Baca juga :  Moeldoko Menyambut Gembira Rencana Pemindahan Ibu Kota Baru Indonesia

Sewaktu masih hidup bersama orang tua, untuk makan sehari-hari pun cukup susah karena penghasilan orang tuanya yang tidak menentu. Moeldoko sering melakukan puasa Senin-Kamis sebagai sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Selain religius, Maldoko juga rajin dan cekatan sejak kecil.

Simak berita lainnya di Youtube NAWACITA TV

Sembari menjalankan tirakat, Moeldoko juga rutin membantu sang kakak mengangkat batu dan mengangkut pasir dari sungai. Kisah nya pun diabadikan dalam sebuah buku berjudul “Panglima TNI Moeldoko: Anak dusun yang jadi negarawan”.
Moeldoko bisa dikatakan merupakan anggota TNI yang karier-nya cukup melejit.

Setelah lulus dari Akmil, ia mulai menjabat sebagai Kasdam Jaya pada tahun 2008. Pada 2010, dia mengalami tiga kali rotasi jabatan dan kenaikan pangkat mulai dari Pangdiv 1/Kostrad pada Juni-Juli 2010, menjadi Pangdam 12/Tanjungpura pada Juli-Oktober 2010 dan Pangdam 3/Siliwangi pada Oktober 2010-Agustus 2011.

Tak sampai dua bulan, Moeldoko kemudian naik pangkat menjadi Letnan Jenderal. Kemudian, pada Februari 2013, ia ditunjuk menjadi Wakasad sebelum naik menjadi Kasad.

Kesuksean yang ia raih di dunia militer dilirik oleh Presiden Jokowi. Moeldoko akhirnya diangkat menjadi Staf kepresidenan Indonesia pada 17 Januari 2018.