Jakarta, NAWACITAPOST – Karier Listyo Sigit di kepolisian hingga kini akhirnya menempati posisi puncak, terbilang cepat untuk rekan seangkatannya. Listyo Sigit lahir di Ambon, Maluku pada 5 Mei 1969. Ia merupakan alumni Akademi Kepolisian angkatan 1991.

Simak berita lainnya di Youtube NAWACITA TV

Selepas dari Akpol, Listyo Sigit bertugas di Polres Tangerang dengan pangkat Letnan Dua atau Ipda dalam bahasa kepolisian. Tak lama, ia dipindah menjadi Kapolres Sukoharjo pada 2010 lalu menjadi Wakil Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Semarang.

Pada 2011, Listyo Sigit menjabat sebagai Kapolresta Solo. Saat itu, Jokowi masih menjadi Wali Kota Solo. Kemudian, pada 2012, saat Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta, Listyo Sigit dirotasi ke Jakarta untuk menjabat sebagai Asubdit II Dit Tipdum Bareskrim Polri.

Setelah itu, Listyo Sigit Prabowo bertugas di Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Tenggara. Hubungan Listyo Sigit dengan Jokowi kembali dekat saat Jokowi menjabat Presiden RI dimana Listyo Sigit menjadi ajudannya pada 2014. Listyo Sigit kemudian menjabat sebagai Kapolda Banten pada 2016, Kadiv Propam pada 2018, dan Kabareskrim pada 2019.

Ipda Joko Agus Prawono yang pernah menjadi ajudan Listyo Sigit semasa menjabat Kapolresta Solo, membeberkan sepak terjang Listyo Sigit. Di masa itu, Listyo Sigit punya slogan loyalitas tanpa batas. Perwira Pertama (Pama) yang saat ini menjabat sebagai Kanit Provost Polresta Solo ini menuturkan, Listyo merupakan sosok pemimpin yang santun, berwibawa, dan tegas. Bahkan ia merupakan pemimpin yang tak sungkan memberikan apresiasi kepada anggotanya yang dianggap layak.

Sekecil kedisiplanan masuk dan bertugas saja pun, Listyo sering memberikan apresiasi, baik secara langsung maupun saat apel. Bentuk loyalitas yang diberikan Listyo tidak hanya diberikan kepada internal satuan, namun juga ketika melayani masyarakat Kota Solo.

Baca juga :  Sebagai Putra Asli Kubu Raya, Adriansyah Siap Maju Dipilkada Kubu Raya 2024

Listyo merupakan pribadi yang tidak kenal capek. Bagaimana tidak, hampir 24 jam digunakan Listyo untuk menjamin keamanan dan kenyamanan Kota Bengawan saat menjabat sebagai Kapolresta Solo. Ipda Joko Agus Prawono yang pernah menjadi Ajudan Listyo mengatakan ia merupakan orang yang sangat disiplin soal waktu. Ketika sedang tidak ada agenda rapat, listyo bahkan akan di kantor sampai jam pulang. Bapak kapolri ini juga dikenal orang yang pekerja keras.

Ipda Joko kembali menceritakan ketika Listyo pulang ke rumah, ia akan melanjutkan patrol untuk menjaga kondisi kota solo dari bahaya. Jika Solo belum tidur, maka Listyo Sigit Prabowo pun belum tidur.

Tidak hanya soal kepribadian saat menjabat di dunia kepolisian, prestasi yang diraih juga patut diperhitungkan. Yaitu ada kasus penyerangan Novel Baswedan. Tak lama setelah dilantik, Listyo langsung sigap menyelesaikan kasus ini yang sudah mangkrak selama 2 setengah tahun. Dua pelaku tersebut merupakan seorang anggota polri, Rahmat Kadir dan Rony Bugis.

Di bawah kepemimpinan Komjen Listyo Sigit Prabowo, Bareskrim juga mengusut kasus pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru senilai Rp 1,7 triliun lewat letter of credit (L/C) fiktif dengan tersangka Maria Pauline Lumowa.

Kasus selanjutnya yang ditangani Komjen Listyo Sigit Prabowo adalah terkait pelarian narapidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali, Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra. Pada Juni 2020, Djoko Tjandra sempat masuk ke Indonesia dan membuat e-KTP hingga mengajukan permohonan peninjauan kembali (PK) ke PN Jaksel. Hal itu pun membuat heboh karena Djoko Tjandra kala itu berstatus sebagai buronan. Akhirnya, Djoko Tjandra ditangkap di Malaysia pada 30 Juli 2020 setelah buron selama 11 tahun. Komjen Listyo Sigit Prabowo dan tim menjemput langsung Djoko Tjandra untuk dibawa ke Tanah Air. Setelah Djoko Tjandra tertangkap, pengusutan kasus oleh Bareskrim terkait pelarian buron kelas kakap itu masih berlanjut.

Baca juga :  SP2HP dan e-PPNS Dilaunching, Jaminan Akuntabilitas Polri ke Masyarakat

Total, Bareskrim menangani dua kasus. Pertama, kasus surat jalan palsu yang digunakan dalam pelarian Djoko Tjandra. Kedua, kasus dugaan korupsi terkait penghapusan red notice di Interpol atas nama Djoko Tjandra. Dua jenderal polisi juga ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim dalam kasus tersebut. Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte menyandang status tersangka di kasus red notice karena diduga menerima suap dari Djoko Tjandra. Lalu, mantan Karo Korwas PPNS Bareskrim Polri Brigjen (Pol) Prasetijo Utomo menjadi tersangka di kedua kasus yang ditangani Bareskrim.

Sama seperti Napoleon, Prasetijo diduga menerima uang dari Djoko Tjandra terkait kasus red notice. Sementara, di kasus lainnya, Prasetijo yang berperan menerbitkan surat jalan palsu untuk pelarian Djoko Tjandra tersebut. Ketika masih menjadi Kapolresta Solo, ia juga pernah menangani kasus bom gereja kepunton Bersama Jokowi yang masih menjadi walikota Solo. Mereka Bersama menenenangkan situasi dan menjenguk keluarga di rumah sakit.

Kedekatan dengan Jokowi serta pestasinya yang ia capai di dunia kepolisian membuat Listyo diangkat menjadi Kapolri pada 16 Desember 2019 menggantikan idham aziz.

Ketika menjabat sebagai kapolri, ia membuat 16 program transformasi menuju polri yang presisi, yaitu penataan kelembagaan, perubahan system dan metode organisasi, menjadikan polri yang unggul di era police 4.0, perubahan teknologi kepolisian modern di era police 4.0, pemanatapan kinerja pemeliharaan kamtibnas, peningkatan kinerja penegak hukum, pemantapan dukungan polri dalam penanganan covid-19, pemulihan ekonomi nasional, menjamin keamanan program prioritas nasional, penguatan penanganan konflik social, peningkatan kualitas pelayanan public polri, mewujudkan pelayanan public polri yang terintegrasi, pemantapan komunikasi public, pengawasan pemimpin terhadap setiap kegiatan, penguatan fungsi pengawasan dan pengawasan oleh masayarakat pencari keadilan.

Baca juga :  Ditlantas Polda Banten Beri Imbauan Larangan Mudik Melalui Patroli