Menristek/Kepala BRIN Dorong Ekonomi Sirkular dalam Kegiatan Riset dan Inovasi

0
230

Bekasi, NAWACITAPOST– Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro melakukan kunjungan kerja meninjau fasilitas produksi milik PT Bio Konversi Indonesia (PT BKI), yang merupakan produsen dari pupuk hayati/organik cair Biokonversi dan Bionature, berlokasi di Desa Cikiwul, Kecamatan Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, Rabu (03/03).

Menristek/Kepala BRIN menyampaikan salah satu topik utama dalam kegiatan pengembangan riset dan inovasi terkait pembangunan rendah karbon adalah *ekonomi sirkular*. Menurut Menteri Bambang sebagai seorang ekonom, kebanyakan akan selalu berpegangan kepada fungsi produksi, dimana begitu output didapat maka itu menjadi menjadi hasil akhir tanpa memperhatikan bahwa dari input ke output (proses produksi) pasti menghasilkan limbah yang tidak berguna dan hal tersebut tidak dihitung sebagai residu yang sebenarnya bisa dihitung sebagai input yang produktif.

“Di sinilah *ekonomi sirkular* penting diperkenalkan, di mana dari ekonomi linier (buat, gunakan, buang) menjadi sirkuler ( _restoratif_ dan _regeneratif_), sehingga limbah yang muncul harus bisa diolah kembali. Jadi limbah yang tadinya menjadi residu, harus kita kembalikan menjadi input untuk kemudian diolah lagi menjadi output,” jelas Menristek/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro.

PT Bio Konversi Indonesia (PT BKI) sendiri merupakan produsen pupuk organik hayati cair dengan merk dagang “Biokonversi” yang telah mengolah 150 ton sampah setiap harinya dan telah menyerap 150 tenaga kerja lokal. Formula dan teknologi produksi pupuk organik hayati cair PT BKI merupakan hasil riset dan pengembangan dari anak bangsa yang peduli akan kesejahteraan petani, masalah sampah di perkotaan dan kelestarian lingkungan. Melalui inovasi ini sampah organik perkotaan diubah menjadi pupuk organik ramah lingkungan dalam skala ekonomi yang cukup besar.

“Kita mendukung inovasi ini karena bagi saya ini adalah inovasi ekonomi sirkular, yang melahirkan alternatif kebutuhan pupuk di Indonesia, kita adalah negara yang perlu mengoptimalkan sektor pertaniannya. Di sisi lain berbicara konteks yang lebih besar yaitu harga, yang memungkinkan untuk mengurangi subsidi pupuk selama ini, meskipun harga berkurang bukan berarti kualitas juga berkurang jadi harus sama bahkan lebih baik,” ujar Menteri Bambang.

Teknologi produksi pupuk Biokonversi telah dipatenkan pada Ditjen HAKI Kementerian KUMHAM RI, dan telah mendapat pengakuan mutu baik dari lembaga sertifikasi organik lokal (LESOS), maupun internasional yaitu _Control Union_ di Belanda. Pupuk organik hayati cair Biokonversi telah digunakan di lebih 23 provinsi di Indonesia, dan telah diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman. Menurut Menteri Bambang inovasi ini dapat menjadi dukungan akan salah satu program Prioritas Riset Nasional (PRN) Kemenristek/BRIN yaitu Ketahanan Pangan. Penggunaan pupuk hayati yang ternyata berperan besar untuk menghasilkan tanaman yang subur dan sumber makanan bergizi, yang nantinya diharapkan dapat berkontribusi menanggulangi masalah _stunting_ atau kekurangan asupan gizi.

*PLTSa Solusi Pemanfaatan Sampah sebagai Sumber Listrik*

Selanjutnya, masih dalam kunjungan kerja di Bekasi Menristek/Kepala BRIN juga meninjau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih di Bantar Gebang yang merupkan _pilot project_ hasil kerjasama Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak MoU pada tahun 2017. Menteri Bambang mengatakan hadirnya PLTSa Merah Putih diharapkan dapat memecah permasalahan pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang, yang merupakan tempat pembuangan akhir untuk DKI Jakarta dan Kota Bekasi.

“Kami sangat mengapresiasi upaya Pemprov DKI Jakarta yang telah melakukan kerja sama dengan BPPT dalam menanggulangi tumpukan sampah yang ada di Bantar Gebang ini. Hal ini sesuai dengan konsep kita dalam mengatasi dan mitigasi perubahan iklim. Dimana pengolahan sampah menjadi energi listrik bisa dikategorikan sebagai *ekonomi sirkular*, yaitu proses produksi yang tidak pernah berhenti dan berupaya menghasilkan _zero waste_. Dimana dulu sampah hanya menjadi sampah saja atau _waste to waste_, maka sekarang juga dapat menjadi energi atau _waste to energy_,” jelas Menteri Bambang.

Menteri Bambang menambahkan, hal ini merupakan contoh baik dari sinergi _​triple helix_ antara pemerintah, akademisi, dan industri dalam menghasilkan inovasi untuk menjawab masalah bangsa. Ke depan Kemenristek/BRIN dan BPPT berusaha untuk dapat membuat lebih banyak PLTSa di berbagai daerah di Indonesia untuk mengurangi masalah sampah yang ada. Menteri Bambang berharap semua pihak dapat bekerja sama untuk menanggulangi permasalahan sampah ini.

Cara kerja PLTSa adalah dengan membawa panas pada gas buang hasil pembakaran sampah yang kemudian digunakan untuk mengonversi air dalam boiler menjadi _steam_. _Steam_ yang dihasilkan digunakan untuk memutar turbin yang selanjutnya akan menghasilkan energi listrik. Sebagian besar peralatan yang digunakan merupakan produksi dalam negeri. Dimana terdiri dari 4 (empat) peralatan utama yaitu _bunker_ yang terbuat dari _concrete_ dilengkapi dengan _platform_ dan _crane_; ruang bakar yang dilengkapi _boiler system reciprocating grate_ yang didesain dapat membakar sampah dengan suhu di atas 9500 °C sehingga meminimalisir munculnya gas buang yang mencemari lingkungan; sistem pengendali polusi, dan unit _steam_ turbin pembangkit listrik.

Dengan kapasitas 100 ton sampah per hari PLTSa Bantar Gebang dapat menghasilkan energi listrik sebesar 731,1 kWh. Sejak Februari hingga Oktober 2020, PLTSa Bantar Gebang telah membakar sebanyak 8.190 ton sampah dan telah menghasilkan energi listrik sebanyak 583,95 MWh atau sekitar 110 kWh per ton sampah.

Turut hadir mendampingi dalam kunjungan ini Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Berkelanjutan/Plt. Deputi Bidang Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristek/BRIN Ismunandar, Staf Ahli Bidang Kelembagaan dan Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kemenristek/BRIN Erry Ricardo Nurzal, Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Kemenristek/BRIN Danang Rizki Ginanjar, Staf Khusus Menteri Bidang Pendanaan dan Investasi Kemenristek/BRIN Ekoputro Adijayanto, jajaran pimpinan PT Bio Konversi Indonesia, Kennedy Simandjuntak selaku pemegang paten proses biokonversi, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPPT Yudi Anantasena, dan Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Syaripudin.

Dwi Rizqa Ananda, Ade Pradipta, Moh. Rif’an Jauhari, Masluhin Hajaz
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional