Wira Gea, Pemulung dan Tukang Semir Sepatu yang jadi Pelatih Tinju

35
1754
Wira Gea, Pemulung dan Tukang Semir Sepatu yang jadi Pelatih Tinju
Wira Gea, Pemulung dan Tukang Semir Sepatu yang jadi Pelatih Tinju

Jakarta, NAWACITA – Perjalanan hidup seseorang terkadang ibarat roda yang terus berputar atau ibarat pejalan kaki yang menaiki anak tangga menuju keketinggian. Konsep ini semua tergantung dari keyakinan dan dari sudut pandang mana kita melihatnya.  Sama halnya dengan perjalanan seorang bocah bernama Markus Gea (biasa dipanggil Wira Gea) yang berkunjung dan menceritakan kisahnya  dengan awak Nawacitapost di Jakarta (16/8/2019).

Gelandangan dan Tukang Semir Sepatu

Wira Gea merupakan seorang bocah ingusan yang pada tahun 1981 (sekitar umur 12 tahun) secara tidak sengaja ikut sebuah kapal penumpang menuju Sibolga. Bocah kelahiran Idanoi, Desa Hilihambawa, Kota Gunung Sitoli tahun 1979 ini memulai kisah perjuangan dan pahitnya kehidupan dari sini. Sesampai di Sibolga, Wira tak lantas menyesali kehidupannya yang serba terbatas. Ia mulai berinisiatif mencari cara bagaimana bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan di tanah rantau. Selain tidak memiliki saudara tempat berbagi, Wira kecil juga tak memiliki tempat tetap untuk sekedar berteduh.

Dia memulung dan mengais rezeki dengan memungut barang-barang bekas di jalanan dan tempat sampah untuk dijual ke tukang botot untuk sekedar mengisi perut (amada talu) yang selalu meminta jatah.  Dari perjuangannya sebagai pemulung, Wira menyisihkan penghasilannya dan membeli alat semir untuk menambah kegiatannya.

Bagi Wira kecil, memulung dan menjadi tukang semir sepatu merupakan cara terbaik untuk bertahan hidup dibanding harus mencuri atau mencopet. Tidur di emperan toko dan halte merupakan hal biasa baginya. Dalam lubuk hatinya, tersisip komitmen dan semangat untuk berubah menjadi lebih baik.

Kerasnya hidup di jalanan, berselisih dengan sesama pemulung dalam memperbutkan barang bekas adalah hal yang biasa dia alami setiap saatnya. Sebagai tukang semir sepatu, Wira kecil menawarkan jasanya kepada setiap pengunjung kedai atau rumah makan di daerah Sibolga.

Capek dan jenuh selalu menghantui manakala tidak ada satupun orang yang mau menggunakan jasanya. Hingga suatu waktu, Wira merasa kesal dan menyiramkan air di wajah seorang Bapak calon pelanggannya. Anehnya, Bapak tersebut tidak marah, malah tersenyum dan memanggil Wira layaknya seorang anak.

“Dek, sini kau. Kalau kamu suka berkelahi, silahkan datang dan hubungi saya” kata bapak itu sambil menyerahkan sebuah kartu nama dan nomor telpon. Wira dengan langkah ketakutan dan gemetar mengambil kartu itu sambil cepat-cepat ngeloyor pergi.

Kemudian, Wira mengetahui bahwa Bapak itu bernama  Erjhon dan seorang pelatih tinju amatir di sebuah sasana, tempat pelatihan tinju di Kota Lampung.

Karena mulai tak sanggup dengan kondisi yang ada, Wira remaja akhirnya memulai petualangan dengan merantau di Kota Medan dan Aceh selama beberapa tahun. Hingga pada akhirnya, di tahun 1990, Wira teringat akan Pak Erjhon yang dulu ia pernah siram wajahnya.

Merintis karier di dunia Tinju

Berbekal kartu nama lusuh yang tetap tersimpan di dompetnya, Wira memberanikan diri untuk menelpon Pak Erjon. Saat itu Pak Erjhon masih aktif menjadi pelatih tinju untuk remaja, termasuk mempersiapkan kontingen cabang olahraga tinju di Provinsi Lampung. Lantas, Pak Erjhon meminta Wira untuk datang ke Lampung dan berlatih tinju disana.

Dengan segala keterbatasan, Wira akhirnya menyanggupi permintaan tersebut dengan meminjam uang dari temannya sebagai ongkos Bus menuju Lampung. Sesampai disana, Wira dicerca oleh pertanyaan oleh Pak Erjhon, apakah dia mau berlatih tinju dan mau menjadi petinju. Dengan tegas Wira menyanggupi dan mengatakan bersedia.

Akhirnya, Wira langsung disuruh fight di sasana dengan salah seorang murid Pak Erjhon. Alhasil, Wira mengalami babak belur di seluruh badan dan wajahnya.

Pengalaman tersebut tidak mematahkan semangat Wira. Melalui latihan keras dan disiplin yang tinggi, Wira mencoba yang terbaik yang ia bisa lakukan. Setelah melihat perkembangannya yang pesat dalam latihan, Wira akhirnya dibolehkan bersama atlet tinju lain mengikuti turnamen di lampung dan beberapa kota lain di Indonesia.

Menjadi Petinju Profesional

Perjuangan tidak mengkhianati hasil. Sesuai dengan namanya, Wira (Pejuang) mulai menorehkan prestasi di bidang tinju di daerah hingga Asia Tenggara. Prestasi pertama Wira di bidang tinju, ia dapatkan dengan mendapatkan Medali Perunggu pada Kejurnas Tinju Junior di Lampung pada tahun 1996.

Wira tidak lantas berpuas diri dengan hasil dan prestasi yang ia dapatkan. Ia selalu giat berlatih dan terus mempelajari tekni baru dalam dunia tinju. Pada tahun 1997, Wira kemudian diikutkan dalam turnamen yang sama di Manado. Disana, Wira berhasil menggondol Medali Perak.

Berkat kepiawaiannya dalam dunia tinju, Wira akhirnya diundang  dan mendapat tawaran untuk menjadi atlet tinju profesional. Salah satunya adalah KONI Bekasi yang tertarik dengan bakat tinju Wira.

Setelah mengiyakan dan bergabung dengan atlet tinju Kota Bekasi pada tahun 1998, Wira diberi kesempatan untuk mengikuti Kejurnas Tinju mewakili kontingen Kota Bekasi, Jawa Barat dengan mempersembahkan Medali Emas. Kebanggaan KONI Kota Bekasi, menjadikan Wira untuk berkomitmen dan memfokuskan diri pada dunia tinju Profesional.

Antara tahun 1999-2000, Wira sudah aktif dan selalu menjadi utusan untuk mewakili Kota Bekasi dalam setiap event Kejurnas Tinju Profesional. Hingga pada akhirnya, di tahun 2001, Wira menjadi Juara Tinju kelas WBC Asia Pasifik yang digelar di Thailand, dan termasuk peringkat 10 besar Juara Tinju kelas WBA.

Mendapat penghargaan menjadi PNS

Berkat prestasinya yang luar biasa. Wira akhirnya mendapatkan penghargaan dan honor tetap dari Pemda (KONI) Bekasi untuk menunjang latihan dan aktivitasnya sebagai atlet tinju. Tak berhenti disitu, Wira yang membanggakan dan membuat harum nama Kota Bekasi di dunia tinju Profesional, akhirnya mendapat berkat berlimpah dengan pengangkatannya menjadi ASN (PNS) Kota Bekasi dan dilantik pada tahun 2008.

Wira merasa bahwa ilmu tinjunya perlu untuk dibagikan kepada generasi muda Indonesia. Pada tahun 2002, Wira memutuskan untuk tidak ikut bertarung dalam Kejurnas dan memfokuskan diri untuk melatih anak-anak muda di Kota Bekasi.

Menjadi Pelatih Tinju

Sejak tahun 2002, setelah mendapatkan beberapa penghargaan bergengsi di tingkat daerah dan nasional, Wira bersama Frangky Mowoka pemilik Sasana Esalalan Boxing Champ, Jati Asih, Kota Bekasi, melakukan kerjasama untuk melatih anak-anak muda usia 10-16 tahun menjadi petinju Profesional.

Karena keterbatan dana dan operasional, akhirnya pada tahun 2012, Sasana Esalalan Boxing Champ tutup dan tidak menerima murid lagi.

Namun, darah per “Wira” yang mengalir dalam darahnya, Wira berusaha  dan mencoba mencari cara bagaimana agar Sasana tersebut bisa diaktifkan kembali. Berkat kegigihannya, Wira akhirnya meminta bantuan dan bekerjasama dengan KONI Bekasi mengaktifkan kembali Sasana tersebut. Mulai tahun 2013 sampai sekarang, Wira menangani dan bertanggunjawab pada seluruh operasinal di Sasana tersebut.

Saat ini, murid-murid tinju binaan Wira terdiri dari laki-laki dan perempuan yang berasal dari berbagai Kota di Indonesia, termasuk dari Kepulauan Nias. Saat ini, Wira sudah memiliki Murid sebanyak 30 orang (17 orang laki-laki dan 13 Orang perempuan).

Mengharumkan nama Kota Bekasi

Murid-murid binaan Wira di Kota Bekasi banyak yang sudah mencetak prestasi di tingkat nasional dan regional (Daerah, Kejurnas, PON hingga Sea Games). Wira bersama murid binaannya, rutin tiap tahunnya aktif mengikuti kejurda Kota Bekasi dan kejurnas. Saat ini, Wira sedang mempersiapkan timnya untuk mengikuti PON Provinsi Jawa Barat dan Popnas. Adapun altet-atlet tinjunya yang ikut PON Jabat adalah Hildawaty, Alvian Teleng dan Jot Horizon. Sementara untuk peserta Popnas, Wira sudah mempersiapkan 3 nama yakni Ayu Pramestika, Gabriel Mende dan Javier Surati. Semua atlet binaannya ini, mewakili Kota Bekasi.

Bapak 3 anak dari pernikahannya dengan gadis Nias bermarga Zalukhu ini, merasa bahwa pengabdian di dunia tinju merupakan anugerah Tuhan yang terbaik.

Bahkan sampai saat ini, dia masih berpikir bagaimana caranya untuk mengabdikan diri dan memberikan seluruh ilmunya kepada Generasi Muda di Kepulauan Nias sebagai tempat kelahirannya.

Pada tahun 2018, Wira mengirimkan atletnya untuk mewakili Kota Gunungsitoli (Wilayah 4)  untuk bertanding di Medan pada event kejuaraan Tinju daerah. Muridnya, Waruwu dan Hulu mendapat Medali Perunggu pada Turnamen tersebut.

Saat ditanya, bagaimana perkembangan kerjasama dengan Pemda (KONI) Kota Gunung Sitoli terkait dengan kegiatan dan kelanjutan kegiatan tersebut, Wira tidak bicara banyak. Wira hanya mengatakan bahwa kendala Dana dan Operasional menjadi alasan dan tantangan untuk itu. Walaupun sampai saat ini, Wira masih berharap bahwa Pemda Gunungsitoli memberi perhatian pada bidang olahraga tinju ini.

Mimpi yang terus menggema

Putra Kebanggan Kepulauan Nias ini berharap bahwa ke depannya, ia bisa memberi yang terbaik bagi daerahnya sebagai bentuk pengabdian. Namun, ia butuh support untuk mewujudkan mimpinya itu. Wira mengatakan bahwa olahraga tinju merupakan olahraga yang ideal untuk membina kekuatan fisik dan mental.

Dia juga dengan tegas mengatakan keyakinannya dengan mengatakan bahwa mereka yang sudah berlatih tinju adalah mereka yang mampu menahan diri dan mengontrol emosional berhadapan dengan kenyataan hidup yang keras di tengah hidup bersosial.

Melalui dunia tinju profesional, Wira bermimpi untuk melatih generasi yang kuat dan tangguh berhadapan dengan realitas kehidupan. Ia juga mengatakan bahwa keikutsertaan generasi muda Indonesia dalam olahraga bina fisik dan mental ini, sangat membantu meminimalisir tindak kejahatan dan kekerasan. Bukan tanpa alasan Wira mengatakan itu, tapi berdasarkan pengalaman bertahun-tahun di dunia tinju, beliau sudah merasakan bagaimana dia lebih dewasa menyikapi persoalan gesekan sosial yang ada.

Di akhir wawancara, Wira tetap menunjukkan semangat yang terus menggelora melalui ekspresi wajah dan matanya yang berbinar. Dia juga menyelipkan pesan untuk Pemda Bekasi dan juga Kota Gunungsitoli untuk memberi perhatian pada olahraga tinju di daerah dan mendorong generasi muda untuk menjadi lebih baik kedepannya.

Ya’ahowu Bung Wira Gea, tetaplah jadi per’WIRA’.

Comments are closed.