Tidak Netral, Kades Sampangagung Mojokerto Dipenjara

0
78

Mojokerto NAWACITA – Akibat tidak menjaga netralitas sebagai aparat terkait Pilpres 2018, seorang Kepala Desa (Kades) di Kabupaten Mojokerto Jawa Timur dijebloskan ke penjara.

Suhartono, Kades Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, lantaran secara terang-terangan menunjukkan dukungannya terhadap Calon Wakil Presiden (cawapres) Sandiaga Uno.

Pantauan media di lokasi, Suhartono yang akrab dipanggil Nono ini dijemput dari rumahnya secara persuasif oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Penjemputan Nono juga dibantu anggota Polres Mojokerto. Nono pun tiba di kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto sekitar pukul 12.00 WIB, Rabu (19/12).

Hampir satu jam Nono diminta melengkapi administrasi dan pemeriksaan kesehatan di lantai dua kantor kejaksaan. Kades berpenampilan nyentrik ini lantas digelandang ke mobil tahanan untuk dikirim ke Lapas Klas IIB Mojokerto di Jalan Taman Siswa.

Kades ini akhirnya dijebloskan ke Lapas Klas IIB Mojokerto, dan terpaksa menjalani hukuman penjara selama 2 bulan, denda Rp 6 juta setelah divonis bersalah melakukan tindak pidana Pemilu. Ia menyatakan tidak mau mengajukan banding dengan vonis yang diterimanya.

Di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto, Suhartono mengungkapkan alasan mencabut upaya bandingnya.

“Saya hanya konsekuen saja. Saya gak mau bertele-tele. Intinya saya bertanggung jawab gitu aja,” katanya Rabu (19/12).

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kabupaten Mojokerto Rudy Hartono mengungkapkan, sesuai dengan vonis yang dibacakan majelis hakim Pengadilan Negeri Mojokerto pada Kamis (13/12), selain menjalan kurungan 2 bulan, Nono juga wajib membayar denda Rp 6 juta subsider 1 bulan kurungan.
“Kami melaksanakan putusan Pengadilan Negeri Mojokerto tanggal 13 Desember kemarin,” kata Rudy Hartono di Mojokerto, Rabu (19/12).

Rudi menjelaskan, Suhartono dinyatakan bersalah oleh Majelis Hakim PN Mojokerto karena terbukti melakukan tindak pidana Pemilu dengan mendukung Cawapres Sandiaga Uno. Rudy berharap perkara yang menjerat Nono menjadi pelajaran bagi Kades lainnya di Indonesia agar menjaga netralitas selama tahapan Pemilu 2019.

“Saya berharap ini menjadi pelajaran bagi seluruh Kades supaya bersikap netral,” terangnya.

Sebelumnya, dalam persidangan selama 7 hari di Pengadilan Negeri Mojokerto terungkap fakta Kades Nono terlibat aktif menyiapkan acara penyambuatan Sandiaga dan aktif di acara penyambutan tersebut.

Acara penyambutan Sandiaga ini diawali dengan rapat di rumah Suhartono, Jumat (19/10) yang melibatkan terdakwa, istrinya, Ketua Karang Taruna Desa Sampangagung Sunardi dan sejumlah warga lainnya. Usai pertemuan, esok harinya Sunardi memesan spanduk dan banner bertuliskan ucapan selamat datang dan dukungan untuk Sandiaga. Saksi juga memesan musik patrol untuk meramaikan acara penyambutan.

Suhartono lantas mendikte istrinya untuk mengirim pesan di grup whatsapp PKK Desa Sampangagung. Pesan tersebut berisi ajakan untuk hadir di acara penyambutan Sandiaga sekaligus janji akan memberi uang saku Rp 20 ribu bagi setiap ibu-ibu yang hadir.

Puncaknya, Suhartono kepergok Panwascam Kutorejo terlibat dalam kampanye Sandiaga Uno di Mojokerto pada hari Minggu (21/10/2018) lalu. Saat itu Nono bersama warganya mencegat rombongan Sandiaga yang akan berkampanye di Wisata Air Panas Padusan, Pacet. Penghadangan itu dilakukan di Jalan Desa Sampangagung.

Suhartono juga aktif di acara penyambutan Sandiaga. Dia memakai kemeja putih bertuliskan Sapa Prabowo. Dia lantas mendekati Sandiaga untuk berfoto. Terdakwa berfoto sembari mengacungkan dua jari.

Suhartono mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk menggelar acara penyambutan Sandiaga. Uang itu salah satunya dibagikan ke ibu-ibu yang datang dengan nilai Rp 20 ribu, Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu per orang.

Tinggalkan Balasan