Presiden Jokowi: Persahabatan Tokoh Bangsa M. Natsir dan Johanes Leimena Patut Dicontoh

0
54
Presiden Jokowi menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis Universitas Kristen Indonesia ke-65, di Lapangan Bola, Kampus UKI, Cawang, Jakarta Timur, Senin (15/10). (Foto: JAY/Humas)

Jakarta, NAWACITA– Mendekati kontestasi Demokrasi di Tahun 2019, Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat untuk meneladani persahabatan para tokoh nasional di awal kemerdekaan.

Dicontohkan Presiden Jokowi, Mohammad Natsir dan Johanes Leimena tetap menjunjung tinggi nilai-nilai berbangsa walaupun mempunyai perbedaan prinsip dalam beragama.

“Meskipun mereka berasal dari partai yang berbeda, Partai Kristen Indonesia dan Partai Masyumi, tetapi mereka sangat bersahabat, sangat bersaudara dalam visi kebangsaan, dan sahabat sejati dalam pergaulan sehari-hari,” kata Presiden Jokowi saat menyampaikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis Universitas Kristen Indonesia (UKI) ke-65, di Lapangan Bola, Kampus UKI, Cawang, Jakarta Timur, Senin (15/10) pagi.

Kedua tokoh ini pada saat itu tidak pernah mencela, tidak ada saling mencomooh, tidak ada saling memfitnah.

“Inilah keteladanan-keteladanan yang harus kita ambil, kita pakai,” ujarnya.

Sebagai negara yang besar dan kaya dengan berbagai budaya , suku, tradisi, adat dan bahasa. Bangsa Indonesia dipersatukan dalam satu kesatuan yaitu Pancasila

Sebelumnya Presiden Jokowi mengingatkan, bahwa negara kita ini negara besar, dengan perbedaan-perbedaan yang sangat banyak, perbedaan suku, agama, tradisi, adat, bahasa daerah, semuanya berbeda.

Diungkapkan Presiden, Indonesia  memiliki 714 suku, 1.100 lebih bahasa daerah, memiliki adat yang berbeda, memiliki tradisi yang berbeda. Presiden membandingkan dengan Singapura yang hanya memiliki 4 suku, atau Afganistan yang memiliki 7 suku.

“Negara mana yang memiliki perbedaan-perbedaan seperti yang tadi saya sampaikan, tidak ada,” tegas Presiden.

Oleh sebab itu, Presiden Jokowi berpesan jangan sampai karena pilihan Bupati, Wali kota, Gubernur, Presiden, kita menjadi seolah-olah sepertinya terbelah-belah, terpecah-pecah.

“Silakan mau pilih Bupati A, B, C dalam kontestasi politik di daerah, silakan. Silakan pilih Gubernur  A, B, atau C kalau kandidatnya 4, D. Pilih yang terbaik. Ada pilihan Presiden, A dan B, silakan pilih A atau B,” ujar Presiden seraya menambahkan, ini adalah kontestasi politik.

 

 

 

(Red: Bee, sumber Setkab)

Tinggalkan Balasan