Rabu, 3 Juni 2026

Profil Jenderal Moeldoko

Photo Author
Ahmad, Nawacita Post
- Selasa, 7 Maret 2023 | 10:40 WIB

Jakarta, NAWACITApost.com - Nama Jenderal (Purn) Moeldoko semakin dikenal publik setelah diangkat menjadi Panglima TNI. Kini, ia duduk sebagai Kepala Staf Presiden (KSP) untuk menggantikan Teten Masduki, sejak 2018 silam.

Lalu siapakah sebenarnya sosok Moeldoko?


-


Bila ditarik jauh ke belakang, Moeldoko terlahir dari keluarga dan lingkungan yang sederhana. Orang tuanya, merupakan seorang petani. Hal itu diakuinya, saat menghadiri haul akbar di Masjid Istiqlal, Jakarta belum lama ini.

Moeldoko kecil juga sering bermalam di langgar atau mushola Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri, Kediri, Jawa Timur. Ia biasa datang ke mushola menjelang magrib untuk beribadah, dan pulang ke rumah saat fajar tiba. Setelah itu, orang tua Moeldoko mengajaknya bekerja di sawah.

"Saya dulu anak dari kampung, hidup di langgar. Saya tidur di situ jam 5 sore, sampai dengan setelah sholat subuh pagi. Saya diajak orang tua ke sawah," kata Moeldoko.

Pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, 8 Juli 1957 silam ini, merupakan anak bungsu dari 12 bersaudara. Namun, empat saudara Moeldoko meninggal dunia saat ia masih kecil. Delapan bersaudara yang masih dia jumpai, terdiri dari lima laki-laki dan tiga perempuan.

Sang ayah, Moestaman, adalah petani. Sedangkan, ibunda Moeldoko, Masfuah adalah seorang ibu rumah tangga. Selain bertani, sang ayah juga menjadi Jagabaya alias perangkat keamanan di desanya.

Dalam situasi paling sulit, isi buah mangga atau pelok dalam bahasa Jawa menjadi santapan pengganti nasi. Namun, bukan berarti tak ada cerita gembira di masa kecilnya. Kelayapan di kebun tebu bersama teman-teman atau bermain di sungai adalah kegembiraan bagi mantan Panglima TNI ini.

Tantangan hidup selama remaja, menjadi satu fragmen penting bagi Moeldoko. Saat duduk di bangku SMA, ia harus berangkat ke sekolah yang berjarak sekitar 35 kilometer dari rumahnya. Waktu itu, Moeldoko kerap "menumpang" angkutan umum, alias naik tanpa membayar.

"Ya saking nggak punya duit," kata dia.

Roda Nasib Berputar


Moeldoko menyelesaikan sekolah SD dan SMP di Kediri, sedangkan SMA-nya di Jombang. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan militer di Akademi Militer (Akmil) di Magelang.

Pada usia 24 tahun, ditulis dalam akun facebooknya, Moeldoko menyelesaikannya dan berhasil menjadi lulusan terbaik pada tahun 1981 dengan dianugerahi Bintang Adhi Makayasa. Perubahan besar terjadi saat Moeldoko menempuh pendidikan militer.

Setidaknya, saat itu hidup dirasa membaik karena dia bisa makan tiga kali sehari. "Begitu saya masuk ke Magelang, saya (berpikir), 'Wah kok enak ya. Makan teratur, belajar teratur, pakaian semua ada. Dikasih uang saku, lagi.' Bagi saya, itu sudah di surga," ujar Moeldoko.

Moeldoko mengawali karir sebagai Komandan Peleton di Yonif Linud 700 Kodam VII/Wirabuana. Berbagai tugas dia emban dengan penuh semangat dan disiplin. Termasuk, saat operasi Seroja Timor-Timur dan penugasan lainnya seperti ke Singapura, Jepang, Irak-Kuwait, Amerika Serikat, dan Kanada.

Karier Moeldoko bisa dibilang tidak pernah berhenti menanjak. Setelah menjabat sebagai Kasdam Jaya tahun 2008, ia bahkan sempat mengalami tiga kali rotasi jabatan dan kenaikan pangkat pada tahun tahun 2010-2011.

Ia mulai menduduki jabatan Panglima Divisi 1/Kostrad, Panglima III/Siliwangi, hingga dipercaya sebagai Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas). Karirnya terus meroket, dua tahun kemudian dengan cepat menduduki Wakil Kepala Staf AD hingga dipercaya sebagai Kepala Staf TNI AD (KSAD) tahun pada 22 Mei 2013.

Puncak karirnya di militer makin cemerlang setelah menjadi KSAD. Menginjak usia 56 tahun, Moeldoko ditetapkan sebagai Panglima TNI oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Di tengah kesibukannya di dunia militer, dia tidak melupakan pentingnya pendidikan. Dia terus mengasah intelektualnya di perguruan tinggi hingga gelar tertinggi. Dalam usia 57 tahun, ia berhasil mendapatkan gelar doktor Ilmu Administrasi Negara di Universitas Indonesia dengan nilai sangat memuaskan.

Pensiun dari TNI bukanlah akhir karirnya. Dua tahun lepas dari tugas kemiliteran, pada 17 Januari 2018, purnawirawan jenderal bintang empat ini diangkat oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai kepala Staf Kepresidenan menggantikan Teten Masduki.

Kekayaan


-


Sumber kekayaan Moeldoko diperoleh dari berbagai aset yang dimilikinya. Harta kekayaan tersebut mencakup tanah dan bangunan yang tersebar di Bogor, Jakarta, Pasuruan, dan Surabaya.

Dikutip dari Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di situs web resmi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Moeldoko terakhir kali melaporkan harta kekayaannya pada 30 Maret 2020. Dari data tersebut diketahui Moeldoko memiliki harta kekayaan sebesar Rp46,1 miliar.

Harta tersebut berkurang Rp 3 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp49,5 miliar. Hal itu berdasarkan LHKPN terakhir yang dilaporkan pada 31 Desember 2019. Meski demikian, Moeldoko disebut-sebut sebagai juragan tanah.

Main Film


Moeldoko rupanya pernah ikut andil dalam pembuatan film. Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini, diketahui pernah berakting di film pendek Woko Channel.

Woko Channel adalah channel YouTube parodi asal Kediri yang sukses menghibur penonton hingga saat ini. Moeldoko tampil di episode ke 63 YouTube Woko Channel.

Ternyata Moeldoko menjalani peran sebagai seorang petani bernama Kang Moel. Mantan Panglima TNI ini diceritakan tengah sibuk bekerja di tengah sawah.

Mengutip film terbaru Woko Channel itu, saat akting Moeldoko tampil dengan outfit layaknya petani. Moeldoko berkaos biru muda lengkap dengan topi warna hitamnya.

Ada adegan lucu yang dijalani Moeldoko seperti genre film di Woko Channel. Moeldoko harus beradu akting dan berdialog dengan Galino alias Pak No yang khas dengan gurauan berbahasa Jawa.

Pendidikan



  • Akabri (1981)

  • Kursus Dasar Kecabangan Infanteri

  • Kursus Dasar Para

  • Susjurpa Jumpmaster

  • Sus Bahasa Inggris

  • Sus Kasi Ops

  • Suslapa-1 Inf

  • Suslapa Inf

  • Seskoad (1995)

  • Sesko TNI (2001)

  • Susdanrem

  • Susstrat Perang Semesta

  • PPRA XLII Lemhannas (2008)

  • S-1 Universitas Terbuka

  • S-2 Universitas Indonesia

  • S-3 Universitas Indonesia


Karir



  • Danton Yonif Linud 700/BS Kodam VII/Wirabuana Kodam VII/Wirabuana (1981)

  • Danki A Yonif Linud 700/BS Kodam VII/Wirabuana Kodam VII/Wirabuana (1983)

  • Kasi Operasi Yonif Linud 700/BS Kodam VII/Wirabuana Kodam VII/Wirabuana

  • Perwira Operasi Kodim 1408/BS Makassar Kodim 1408/BS Makassar

  • Wakil Komandan Yonif 202/Tajimalela Yonif 202/Tajimalela

  • Kasi Teritorial Brigif-1 PAM IK/JS Brigif-1 PAM IK/JS

  • Komandan Yonif 201/Jaya Yudha Komandan Yonif 201/Jaya Yudha (1995)

  • Komandan Kodim 0501 Jakarta Pusat Kodim 0501 Jakarta Pusat (1996)

  • Sespri Wakasad TNI AD (1998)

  • Pabandya-3 Ops PB-IV/Sopsad Pabandya-3 Ops PB-IV/Sopsad

  • Komandan Brigif-1/Jaya Sakti Brigif-1/Jaya Sakti (1999)

  • Asops Kasdam VI/Tanjungpura Kasdam VI/Tanjungpura

  • Dirbindiklat Pussenif Pussenif

  • Komandan Rindam VI/Tanjungpura Rindam VI/Tanjungpura (2005)

  • Komandan Korem 141/Toddopuli Bone Komandan Korem 141/Toddopuli Bone (2006)

  • Pa Ahli Kasad Bidang Ekonomi Pa Ahli Kasad Bidang Ekonomi (2007)

  • Direktur Doktrin Kodiklat TNI AD TNI AD (2008)

  • Kasdam Jaya Kasdam Jaya (2008)

  • Panglima Divisi Infanteri 1/Kostrad TNI AD (2010)

  • Panglima Kodam XII/Tanjungpura Kodam XII/Tanjungpura (2010)

  • Panglima Kodam III/Siliwangi Kodam III/Siliwangi (2010)

  • Wakil Gubernur Lemhannas Lemhannas (2011)

  • Wakasad TNI AD (2013)

  • KSAD TNI AD (2013)

  • TNI Panglima (2013-2015)

  • Kepala Staf Kepresidenan Indonesia (2018)

  • Kepala Staf Kepresidenan Indonesia (2019-2024)

Editor: Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

Musancab PDIP, Target Kembalikan 15 Kursi Dewan

Minggu, 10 Mei 2026 | 18:39 WIB