Anies Baswedan saat memakai baju Cheongsam

Anies seorang yang sangat ambisius. Ia mirip dengan Soeharto. Berwajah senyum. Bibir keduanya selalu terhias senyum. Namun di balik senyum keduanya, terpatri jiwa yang sangat ambisius nan sadis. Soeharto berwajah senyum (smiling face), menyimpan ambisius maha dahsyat. Kisah Supersmar yang masih misteri itu adalah contohnya.

Benarkah Soekarno memberikan Supersmar kepada Soeharto? Hingga kini, naskah asli Supersmar itu masih penuh misteri. Sesudah 57 tahun, misteri Supersmar masih belum tersibak. Sejarah mencatat, Soeharto sukses menjadi Presiden berkat Supersmar itu. Jika dugaan sebagian publik benar bahwa Supersmar itu dirancang sendiri oleh Soeharto, itu terkait erat dengan ambisinya menjadi Presiden.

Di balik wajahnya yang senyum, Soeharto tercatat sebagai seorang yang tega membiarkan Soekarno sekarat hingga akhir hayatnya. Soeharto juga menjadi dalang operasi pembantian ratusan ribu pengikut yang ia sebut PKI dari tahun 1965-1966. Ambisi Soeharto untuk tetap menjadi Presiden, tak mempan dengan gelar Bapak pembangunan yang digulirkan oleh Jenderal Murtopo 1981.

Tujuan gelar bapak pembangunan itu sebenarnya adalah agar Soeharto yang sudah 15 tahun menjadi Presiden hingga 1981, turun dan tidak mencalonkan diri lagi di pemilu berikutnya. Namun Jenderal Murtopo salah besar. Soeharto mengambil medali penghargaan dari MPR di tahun 1983 dengan senyum khasnya dan ia tetap menjadi Presiden hingga 15 tahun kemudian.

Anies mirip sekali dengan Soeharto. Anies dikenal sebagai sosok yang senyum. Namun di balik senyum Anies itu, tersimpan juga ambisius maha dahsyat. Seperti yang dituturkan oleh Gunawan Muhammad (pendiri Koran Tempo), Anies adalah seorang yang ambisius. Kisah intrik perebutan rektor Universitas Paramadina adalah contohnya. Anies berhasil menyingkirkan Yudi Latif yang dijagokan kala itu. Padahal dari beberapa kali pemilihan di senat nama Anies sama sekali belum muncul.

Baca juga :  Kutuk Serangan Tokoh Agama di Tangerang dan Makassar, DPR Minta Polri Tangkap Pelakunya

Daya magis Anies yang ditopang ambisinya, berhasil memikat pasangan Jokowi-Kalla. Tak tanggung-tangung. Anies berhasil dijadikan sebagai jubir pemenangan Jokowi-Kalla. Ketika Jokowi menang, Anies diganjar sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat menjadi menteri, ambisi Anies menggunakan jabatannya untuk promosi diri di dunia internasional. Tak tanggung-tanggung. Dana sebesar 146 miliar ludes tak berbekas dengan kedok proyek Fankfurt book fair 2015. Akibatnya, Anies direshufle dari kabinet oleh Jokowi di tahun 2016.

Di Pilkada 2017, Anies dimajukan oleh Jusuf Kalla (JK) menjadi calon gubernur DKI Jakarta. Anies yang namanya tidak popular kala itu dan menggondol gelar menteri pecatan, tiba-tiba diorbitkan menjadi kandidat gubernur DKI Jakarta. Gelagat JK untuk memakai politik identitas demi memuluskan jalan Anies sudah tercium sebelumnya. JK yakin, dengan bantuan politik identitas, Anies akan menang melawan Ahok.

Jika seandainya Ahok tidak terpeleset soal ucapan Almaidah, ia tetap akan diserang dengan politik identitas yang massif. FPI dan kelompok-kelompok sejenisnya sudah mulai demo dengan semboyan haram memilih pemimpin kafir jauh-jauh hari sebelum Ahok terpeleset ucapannya.

Dan benar saja. Ahok yang terpeleset soal Almaidah, didemo habis-habisan. Politik identitas membara. Anies dan Sandi menggunakan masjid untuk mengalahkan Ahok. Demi ambisinya, Aniespun rela larut dalam politisasi agama. Iapun mendatangi markas FPI dan bertemu Rizieq. Ia menerima kelompok-kelompok 212 dengan senang hati. Dana-dana hibah dari APBD DKI dikucurkan kepada berbagai ormas pendukungnya.

Anies pun menyatu dengan kelompok intoleran. Ketika ia pada akhirnya memenangi Pilkada DKI Jakarta lewat politisasi agama, ia bangga dan tak pernah mengecam kelompok pendukungnya yang overdosis rasial. Bagi Anies, siapapun dan kelompok manapun asalkan mendukungnya, ia akan terima. Ia juga tak sungkan bersilat lidah soal programnya dan meninabobokan masyarakat demi ambisinya.

Baca juga :  Hadapi Pilpres 2019, Jokowi Sudah Punya Nama Cawapresnya

Ambisi Anies berikutnya adalah menjadi RI-1. Selama menjadi gubernur 2017, ia memoles balik dirinya agar kembali dikenal sebagai sosok pluralis sebagaimana ia dikenal di Universitas Paramadina dulunya. Ia paham untuk bisa menjadi RI-1, harus merangkul kubu nasionalis. Untuk merangkul kubu nasionalis, maka harus berpura-pura sok nasionalis, toleran dan plularis.

Anies yang sudah terlanjur berbau kelompok radikalis tampil habis-habisan memainkan political gimmick (tipu daya). Ia datangi vihara dan rela memakai baju Cheongsam. Ia juga datangi dan meresmikan gereja baru di berbagai tempat. Ia menampilkan dirinya sebagai tokoh pluralis.

Sejalan dengan usaha Anies memoles dirinya menjadi pluralis sejati, Eep Syaifulloh Fatah, konsultan politiknya, habis-habisan memoles Anies sebagai tokoh nasionalis. Gerakan menjadikan Anies menjadi tokoh nasionalis-pluralis agar bisa menjadi presiden, dirancang sejak tahun 2020.

Nasdem di bawah Komando Surya Paloh terus memobilisasi dukungan dan membentuk persepsi masyarakat bahwa Anies adalah seorang tokoh nasionalis. Selama Anies jadi Gubernur DKI Jakarta, sedapat mungkin tidak ada pergolakan sentimen agama. Tujuannya adalah demi ambisi besar menjadi Presiden.

Bahaya Anies jika menjadi Presiden

Sama seperti SBY dengan motto ‘seribu kawan dan nol musuh’ saat berkuasa, Anies akan membiarkan kelompok-kelompok intoleran tumbuh besar. Karena mereka aman, maka mereka berusaha untuk tidak mengganggu Anies sampai mereka memiliki kekuatan besar untuk merubah negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi negara khilafah. Pada saat yang sama, Anies merangkul kelompok nasionalis.

Selama 10 tahun SBY  memerintah dengan cengkeraman PKS, kelompok-kelompok intoleran tumbuh bagaikan jamur. Oleh karena SBY tidak mengusik mereka, mereka pun tidak mengganggu SBY dan menunggu sampai kekuatan mereka cukup kuat. Lalu apa yang kemudian terjadi?

Menjelang berakhirnya kekuasaan SBY di tahun 2013, kelompok khilafah unjuk gigi. Mereka terang-terangan menggaungkan negara khilafah. TVRI yang kala itu sudah disusupi pendukung khilafah, menyiarkan Muktamar Khilafah 2013. Jika saja Prabowo yang mereka dukung menang di pilpres 2014, maka kelompok ini terus membesar dan memiliki kekuatan di tahun 2024 untuk mengubah platform NKRI.

Baca juga :  LSP Kemendagri Sertifikasi Jafung Pengawas Pemerintahan Ahli Utama

Ketika Joko Widodo dari kelompok nasionalis tulen yang didukung partai nasionalis PDIP naik ke puncak kekuasaan, maka mau tidak mau berhadapan dengan kelompok-kelompok yang menginginkan negara khilafah ini yang sudah membesar. Terjadilah pertarungan sengit. Narasi-narasi dari kelompok khilafah dengan tagline ‘PKI’ terus-menerus menyerang kubu nasionalis. Munculah istilah cebong dan kampret dan terakhir istilah kadrun. Namun kekuatan nasionalis pendukung NKRI masih memiliki kekuatan di atas 50 persen suara.

Di tahun 2024, kubu nasionalis akan berhadapan kembali  dengan kubu khilafah. Jika Ganjar Pranowo dari kubu nasionalis menang, maka kekuatan khilafah akan semakin menyusut. Namun sebaliknya jika Anies Baswedan menang, sudah pasti kekuatan khilafah kembali tumbuh. Mereka di bawah lindungan Anies akan secara diam-diam mengumpulkan kekuatan hingga akhirnya melebihi kekuatan nasionalis. Pada saat itu NKRI akan tamat.

Lalu bagaiman kalau Prabowo menang? Garis politik Prabowo bisa berubah-ubah. Tidak ada jaminan bahwa Prabowo akan kembali menguatkan kubu nasionalis. Alasannya Prabowo di PIlada DKI dan PIlpres 2014 dan 2019 sangat dekat dengan kubu khilafah. Bisa saja dengan hitung-hitungan politik, Prabowo malah lebih dekat lagi dengan kubu khilafah.

Hal yang perlu diwaspadai adalah political gimmick Annies dan Baswedan dan konsultan politiknya yang memoles Anies Baswedan menjadi tokoh nasionalis. Padahal sesudah menang dan berhasil menjadi RI-1, ia akan membesarkan kelompok-kelompok khilafah hingga memiliki kekuatan yang sulit dikalahkan oleh kubu nasionalis. Akankah demikian?

Salam Nawacitapost,
Asaaro Lahagu