Protkes Ketat di Tatap Muka, Tim Pemenangan Eri Cahyadi Full Power di Medsos

0
230
Ketua Tim PSI untuk Pemenangan Eri Cahyadi , Erick Komala S.H., bersama Eri Cahyadi Calon Walikota Surabaya

Surabaya NAWACITAPOST – Masa kampanye pilkada Surabaya 2020 sudah berjalan setengah babak, tim kampanye kedua paslon juga bergerak masif ke seluruh wilayah kota Surabaya. Namun, ada juga kekuatiran beberapa warga Surabaya atas resiko penyebaran covid-19. Ada warga yang kuatir acara-acara kampanye justru akan menimbulkan cluster baru, terlebih ada kandidat pilwali yang pernah terpapar virus Covid-19.

Ketua Tim PSI untuk Pemenangan Eri Cahyadi , Erick Komala S.H., mengatakan bahwa memang resiko penyebaran covid-19 besar bila tidak menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. “Kampanye tatap muka yang diadakan oleh PSI menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat.” lanjutnya.

Pantauan di lapangan, di pintu masuk lokasi kampanye PSI terlihat ada tempat cuci tangan, hand sanitizer, masker medis, thermogun, dan faceshield. Panitia pun semua lengkap memakai masker dan faceshield.

“Penerapan protokol kesehatan yg ketat ini kami lakukan untuk memberikan rasa aman warga yang mau datang mendengarkan paparan visi-misi Mas Eri” ungkap Erick.

Selain penerapan protokol kesehatan di lokasi, Erik juga mengatakan bahwa semua juru kampanye PSI melakukan rapid test dan test PCR secara rutin dan hasilnya selalu negatif. “Jadi, bukan sekedar pernyataan keterangan sembuh dari dokter ya, tapi hasil test negatif. Jangan sampai juru kampanye menjadi super spreader di masa pandemi ini.” Tegasnya.

Kampanye melalui media online pun gencar dilakukan terutama melalui akun sosial media. PSI merupakan partai anak muda yang memanfaatkan sosial media  sejak pemilu legislatif 2019.

“Sosial media adalah salah satu kekuatan utama PSI dalam berkampanye, begitu pula dalam kampanye kali ini kami juga full power di sosial media.” terang Erick, politisi PSI yang juga seorang advokat.

Menurutnya, tantangan kampanye di sosial media adalah berita-berita hoax, disinformasi, serta framing dukungan dengan memotong penyataan tokoh. Hal ini menurut Erick selalu terjadi dalam masa kampanye baik pileg, pilkada maupun pilpres.

“Dalam kampanye di sosial media saat pemilu apapun, selalu ada aja yang memberikan disinformasi, ada tokoh mendukung padahal sebenarnya sebagai rohaniawan selalu netral. Nah disinformasi seperti ini lah yang merugikan masyarakat. Ini masa kampanye loh, seharusnya mendapatkan informasi yang benar dan detail tentang calon maupun program2nya” pungkas ketua Tim pemenangan pemilu PSI ini. (*)