Tokoh NU dijadikan Backdrop Dukungan, Seknas Jaringan Gusdurian : Merendahkan dan Tidak Bermartabat

0
363
Beredar foto acara dukungan salah satu Paslon Pilwali Surabaya. (Foto : Istimewa)

Surabaya NAWACITAPOST – Beredar foto acara dukungan untuk Calon Walikota dan Wakil Walikota Surabaya, Eri Cahyadi – Armuji yang sesuai informasi yang beredar, dukungan ini dilakukan di rumah salah satu pendukung ER-JI di daerah Juwingan oleh sebuah Komunitas. Namun yang menjadi janggal adalah gambar latar belakang pertemuan tersebut mencatut tokoh-tokoh NU seperti KH. Hasyim Ashari, KH. Abdul Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Abdul Wahab Hasbullah.

Menyikapi kabar tersebut, Senior Advisor Sekretariat Nasional (Seknas) Jaringan GUSDURIAN Dr. Zainul Hamdi menampik bila hal itu dilakukan oleh Jaringan Gusdurian, organisasi pengagum Gus Dur tempat Ia bernaung.

” Saya tegaskan, Jaringan GUSDURIAN 1000% Tak Berpolitik Praktis,” ujarnya via telpon, Jumat (16/10/20)

Menurutnya, sejak berdiri Jaringan GUSDURIAN dibawah binaan Alisiyah Wahid memang tidak berpolitik praktis apalagi mendukung salah satu Paslon Pilwali di Surabaya, ujar Dosen UINSA tersebut.

Inung panggilannya, menjelaskan memang ada beberapa Komunitas yang searah dengan Jaringan Gusdurian namun juga melakukan gerakan dalam hal politik, seperti Barikade Gus Dur dan GEMPUR (Gerakan Masyarakat Penyambung Perjuangan Gusdur). Terkait hal itu, Ia menyerahkan kembali kepada pihak-pihak yang bersangkutan.

Ditanya tentang pencatutan gambar tokoh-tokoh NU dalam upaya dukungan salah satu Paslon Pilkada, Inung menyatakan tidak setuju. ” Gak bener itu. Bagi saya itu hal yang merendahkan serta perilaku yang tidak bermartabat,” katanya.

Dalam hal ini Ia berpendapat, Instrumen official untuk merebut kekuasaan politik itu ya lewat parpol. Parpol akan mendayagunakan seluruh sumberdaya untuk menang. Sumberdaya itu salah satunya adalah diskursus agama sehingga terkadang mengkapitalisasi pengaruh tokoh-tokoh agama.
” Hal ini wajar, tapi tetap harus proporsional agar tidak sampai menciptakan politik identitas yang destruktif. Berpolitik juga perlu etika untuk tidak mencatut lembaga atau tokoh yang tidak ada sangkut pautnya,” Tandas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Sarjana NU Jawa Timur ini. (BNW)