Kongres ke- V PDI Perjuangan: Saat “Banteng” dan “Bintang” tak lagi Mesra

152
772

Jakarta, NAWACITA – Kehadiran Presiden Jokowi dan beberapa tokoh Nasional dalam Kongres ke- V PDIP di Grand Inna Bali Beach berlangsung meriah. Tokoh yang hadir diantaranya Maaruf Amin, Jusuf Kalla, Susi Pudjiastuti, Prabowo Subianto, Ahok, Yasonna dan beberapa tokoh lain dari Partai Besar seperti Nasdem dan Golkar. (8/9/2019)

Kongres ke V ini menjadi momentum yang dilihat oleh beberapa pengamat sebagai bentuk rekonsiliasi politik nasional. Kehadiran tokoh-tokoh dari partai yang berkompetisi dalam kontestasi demokrasi 17 Juni 2019 yang lalu, menunjukkan sebuah situasi yang berbanding terbalik dengan statement yang beredar di publik akhir-akhir ini.

Kongres ke V PDI Perjuangan ini kembali meneguhkan Megawati Soekarno Putri menjadi Ketua Umum untuk periode berikutnya. Terlepas bahwa muncul beberapa pertanyaan menyangkut regenerasi stagnan dalam kepemimpinan, itu sah-sah saja.

Hal ini sangat jelas dengan pernyataan Politikus senior PDI Perjuangan Yasonna yang mengatakan bahwa regenerasi sedang berjalan dalam tahapan-tahapan tertentu. Tetap ada pembinaan-pembinaan itu. Saat ini, figur ini, figur ketum sebagai alat pemersatu dengan pengalaman yang matang.

Hal yang menarik ketika dalam kongres ke-V ini adalah kedatangan Prabowo Subianto. Seolah sedang mengulang nostalgia masa lalu, Megawati menyambut hangat Prabowo yang juga pernah menjadi tandemnya dalam pemilu 2009. Megawati bahkan sempat mencandai Prabowo tentang kesiapan bertarung lagi dalam pemilu 2024.

Ini tentu menjadi sebuah peristiwa langka yang mungkin bagi sebagian orang sebagai pencitraan. Sengitnya persaingan dalam pemilu beberapa bulan yang lalu, membuat sebagian orang berpikir bahwa Prabowo kemungkinan tidak hadir dalam gaweannya PDI Perjuangan. Tapi, hal itu terbantahkan dengan diadakannya pertemuan antara dua tokoh tersebut beberapa waktu kemarin dan sempat viral dengan tagar politik nasi goreng.

Inilah politik. Politik itu dinamis. Filosofi dalam politik adalah bahwa hanya satu yang pasti, yakni bahwa segala sesuatunya tidak pasti. Ketakpastian inilah yang membuat dinamika politik menjadi seru dan menarik untuk terus diikuti. Namun, perlu juga diwanti-wanti agar jangan sampai esensi dari politik itu sendiri kabur karena slogan perubahan yang terus berjalan.

Kongres ke V PDI Perjuangan di Bali, boleh juga dibilang sebagai pertemuan rekonsiliasi. Mengapa saya tekankan demikian, karena peristiwa ini menghadirkan seluruh unsur penting yang menjadi stakeholder dalam struktur pemerintahan. Dan inilah tanda kedewasaan PDI Perjuangan yang sudah teruji Nasionalismenya.

Terlepas bahwa sebagian orang tidak hadir dalam kongres ini, SBY misalnya. Tentu sudah memiliki alasan tersendiri, apakah diundang tapi tidak hadir atau memang tidak ada sama sekali undangan. Penasaran juga, kenapa Prabowo diundang sedangkan SBY tidak. Padahal sebelumnya Demokrat sudah memberi tanda akan merapat ke partai koalisi saat Jokowi sudah dipastikan menang Pilpres 2019.

Ternyata, setelah diklarifikasi tentang hal itu, Sekjen PDIP Hasto menjawab secara d iplomatis bahwa PDIP hanya mengundang partai koalisi saja ke acara Kongresnya. Oh, begitu. Tapi, jika demikian dapat dipastikan bahwa Partai Gerindra juga partai  koalisi karena pemimpinnya diundang. Mungkin jawaban sebenarnya adalah Megawati sudah gak ‘simpati’ sama tokoh partai berlambang ‘bintang’ itu.

Publik semua tahu bahwa sebelum pencalonan Capres dan Cawapres 2019, SBY termasuk yang paling getol melakukan manuver lobby ala marketing ke Jokowi agar AHY bisa jadi Cawapres. Tetapi Jokowi menolak dengan alasan tertentu (klo mau tahu langsung tanya Jokowi saja hehehe). Penolakan Jokowi ini akhirnya membuat tokoh partai ‘Bintang’ itu ‘mengambek’. Ia menyuruh kadernya dalam posisi abu-abu menentukan sikap, ibarat tak laki, tak juga perempuan. Hal inilah yang akhirnya membuat gejolak di internal Partai Demokrat sendiri dengan terbelahnya kader yang pro dan kontra. Padahal Jokowi sudah mengisyaratkan bahwa kalau SBY mau koalisi, kursi Menteri akan disediakan untuk AHY.

Kabarnya pada waktu itu SBY sudah setuju. Mereka berjabat tangan, meski Megawati meragukan komitmen SBY. Dia sangat kenal siapa SBY. Eh, benar juga. Tidak lama habis ketemu Jokowi, SBY meluncur ketemu Prabowo dan menawarkan AHY menjadi Cawapres Prabowo.

Disini Mega dikabarkan marah besar. “Tuh kan, apa gua bilang ?? Orang ini gak bisa dipercaya !!” Sejak itu Mega tidak membolehkan Demokrat masuk koalisi. Padahal beberapa menit sebelum pengumuman KH Ma’ruf Amin sebagai Cawapres Jokowi, dikabarkan utusan SBY datang ke restoran Pelataran, tetapi Mega mengatakan, “Sekali nehi, tetap nehi !!”

Mega lebih senang dengan gaya Prabowo. Jelas dan tegas. Kawan ya kawan, lawan ya lawan. SBY gak bisa dijaga, sangat oportunis. Dan ketika Jokowi sudah jelas jadi pemenang, Demokrat pun merapat. Tentu dengan harapan AHY bisa jadi Menteri.

Itulah kenapa bagi PDIP, pintu koalisi dengan Demokrat seperti tertutup. Lagian suara Demokrat juga kecil, cuman 9,4 persen. Kurang bergengsi dibandingkan Gerindra yang 13,6 persen.

Kongres V PDI Perjuangan menegaskan posisi  Partai  berlambang “Banteng” itu kurang akur dengan “Bintang” yang dinahkodai SBY, yang pada akhirnya membuat Banteng jadi Bintang yang sesungguhnya.

Menjadi pertanyaan, akanlah hal ini tetap berlanjut dalam kontestasi demokrasi yang digelar dalam 5 tahun lagi?

Comments are closed.