Politikus PKB: Neno Warisman Jadikan Agama Alat Politik

10
113

Jakarta NAWACITA – Aksi aktifis Neno Warisman yang membaca doa pada acara Munajat 212 di Monas dinilai sebagai contoh menjadikan agama untuk kepentingan politik.

Wakil Ketua TKN Jokowi-KH Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding, mengatakan puisi yang diucapkan Neno Warisman dalam acara Munajat 212 itu tidak pantas disebut sebagai doa.

Dalam keterangan tertulisnya Karding mengatakan dirinya
menilai, puisi itu cuma orasi politik yang bersifat pragmatis berkedok agama.

“Pilihan diksi dalam ucapannya tampak sekali dibuat untuk menggiring opini publik. Seolah-olah hanya merekalah kelompok yang menyembah Allah. Sedangkan kelompok lain yang berseberangan bukan penyembah Allah. Pertanyaan saya, dari mana Neno bisa mengambil kesimpulan itu? Apa ukurannya sampai ia bisa mengatakan jika pihaknya kalah maka tak akan ada lagi yang menyembah Allah?” kata Karding, Sabtu (23/2/2019).

Neno, menurut Karding, adalah contoh paling gamblang yang menjadikan agama untuk tujuan politik. Padahal, kata Karding, Jokowi-KH Ma’ruf Amin juga banyak didukung oleh umat Islam, terutama para ulama dan santri.

“Neno adalah contoh paling gamblang bagaimana agama dijadikan kedok untuk tujuan politik. Ia menafikan kenyataan bahwa Pak Jokowi-Ma’ruf didukung oleh begitu banyak kiai, santri pondok pesantren, umat Islam yang juga menjalankan salat, zakat, haji, dan berbagai kelompok lintas agama. Apa Neno merasa cuma dia dan kelompoknya yang menjalankan ibadah?” Karding mempertanyakan.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menjelaskan dirinya paham bahwa seorang umat beragama tidak bisa melepaskan ketentuan-ketentuan yang telah diatur Tuhan dalam menjalankan aktivitas, termasuk saat berpolitik.

Tapi menjadikan nama Tuhan untuk tujuan politik seraya menggiring opini, menurut dia, seolah lawan politiknya tidak menyembah Tuhan jelas merupakan hal yang menggelikan.

“Apa Neno mengira bahwa surga dan Tuhan hanya untuk kelompok mereka?” ucapnya.

Karding juga tidak setuju jika ada yang menganggap Neno terlalu fanatik agama. Sebab, kata Karding, orang yang fanatik agama berarti ia mengerti betul tentang nilai-nilai esensial yang diajarkan agama.

“Seperti menghargai, menghormati, dan menjaga perasaan sesama manusia. Bukan mengklaim seolah kelompoknya yang paling benar dan yang lain salah,” katanya.

“Bagi saya, Neno sedang terjerat dalam fanatisme politik. Ucapannya bukan saja mendiskreditkan kelompok yang berlainan politik dengannya, tapi bahkan juga berani mendikte dan mengancam Tuhan,” tambahnya.