Debat Capres Kedua, Jokowi Diharap Tidak Gunakan Singkatan Awam bagi Publik

22
208

Jakarta NAWACITA – Penggunaan singkatan-singkatan yang digunakan dalam perdebatan calon presiden cukup menjadi perhatian oleh capres nomor urut 02, Prabowo Subianto.

Meskipun diyakini bahwa pada Debat Capres kedua Minggu (17/2) nanti malam Prabowo bisa rileks, namun calon wakil presiden Sandiaga Uno berharap capres Jokowi tidak menggunakan singkatan-singkatan yang awam dikenl publik, seperti terjadi pada Debat Pilpres tahun 2014 lalu.

Sandiaga mengatakan, dirinya ingin dalam perdebatan, gagasan dan pesan yang disampaikan kedua capres bisa dipahami masyarakat.

“Singkatan itu timbul di 2014 dan di waktu (Debat Pilgub) 2017 juga. Saya sampaikan bahwa singkatan-singkatan tersebut nanti diklarifikasi saja, jangan kita tanyakan sebagai bentuk hafalan,” kata Sandiaga, kemarin.

Menurut Sandi, mayoritas masyarakat Indonesia tidak mengerti singkatan-singkatan yang digunakan saat itu.

“Karena kita inginnya bahwa singkatan-singkatan tersebut juga dimengerti oleh masyarakat, karena mayoritas masyarakat Indonesia enggak mengerti singkatan-singkatan itu,” sambungnya.

Ia juga memastikan, Prabowo akan menyampaikan gagasannya secara gamblang tanpa singkatan yang awam didengar publik. Dalam debat Prabowo akan fokus pada gagasan ekonomi yang berkaitan dengan tema debat.

“Jadi ini bukan mengenai hafal-hafalan tetapi lebih bagaimana gagasan besar Pak Prabowo yang berbeda dengan Jokowi berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, bagaimana membangun swasembada pangan energi, lapangan kerja, harga bahan pokok terjangkau,” tuturnya.

Sebelum debat, kata Sandi, Prabowo menggelar simulasi debat di kediamannya, bersama tim Badan Pemenangan Nasional. Dalam simulasi, Sandi akan berperan sebagai Jokowi.

“Kemarin kalau kita lagi simulasi dia banyak ketawa ketawa, terus saya bilang bapak sudah ngerti semuanya. Saya hanya ingin menambahkan data data terakhir dan tentunya saya berperan sebagai Pak Jokowi begitu yang memberikan pertanyaan kepada beliau dan nampaknya beliau siap,” paparnya.

Sebelumnya Tim BPN sempat memaksa capres 02 untuk menghafal ratusan singkatan jelang debat kedua pada Minggu pekan ini.

“Mengenai persiapan tim Prabowo-Sandi, kami agak memaksa Prabowo agar menghafal singkatan-singkatan. Namun Pak Prabowo enggan,” kata Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, Haryyadin Mahardika.

Ia beralasan, persiapan itu dilakukan untuk meminimalisir kejadian didebat 2014 lalu, saat Jokowi bertanya kepada Prabowo dan ketum Partai Gerindra itu bingung terkait singkatan dalam pertanyaan Jokowi.

“Dulu kan Pak Jokowi (debat 2014) pernah bertanya ada singkatannya. Makanya kami perlu fokus persiapan itu,” tutur dia.

Namun, ujar Haryyadin, persiapan menghafal ratusan singkatan itu ditolak mentah-mentah oleh Prabowo.

“Pak Prabowo enggak mau (menghafal), padahal kita sediakan ini ada ratusan singkatan. Beliau yakin Pak Jokowi nggak begitu lagi, sudah jadi negarawan dulu kan belum,” terang dia.

Diketahui, pada debat Pilpres 2014 silam, capres Jokowi melontarkan pertanyaan kepada rivalnya Prabowo Subianto soal peranan TPID. Prabowo yang bukan berlatar birokrat lantas kelabakan.

“Singkatan TPID itu apa?” tanya Prabowo. “TPID adalah Tim Pemantauan dan Pengendalian Inflasi Daerah,” jelas Jokowi.

Mendapat penjelasan seperti itu, Prabowo jujur mengakui tidak menguasai banyak singkatan ekonomi. Sejurus kemudian, dia merespon bahwa fungsi TPID harus dijalankan oleh kepala daerah. “Manajemennya kepala daerah masing-masing,” katanya.

Comments are closed.