Nasdem Jadi Pilihan Puluhan Caleg Petahana Pindah Parpol

0
153

Jakarta NAWACITA – Tahun politik ini banyak caleg petahana berpindah partai untuk menjadi kendaraan menuju kursi legislatif. Salah satu lembaga survei mendata, Partai NasDem (Nasional Demokrat) menjadi tujuan favorit para caleg petahana untuk ‘bermigrasi’.

Tentang fenomena caleg pindah parpol tersebut, Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mencatat, Partai NasDem menerima 20 dari 31 caleg petahana yang pindah partai.

Peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS Arya Fernandes menilai, hal ini terjadi, kemungkinan karena NasDem dinilai memiliki komunikasi dan penawaran yang baik untuk para caleg.

“Sekitar 20 orang dari 31 caleg yang pindah itu tujuannya adalah Partai NasDem. Ini menunjukkan bahwa bagaimana kemampuan NasDem melakukan proses rekruitmen terutama pada caleg-caleg petahana,” kata Arya di Jakarta, Selasa (15/1).

Arya menjelaskan, proses rekruitmen yang dimaksud adalah adanya tawaran daerah pemilihan (dapil) tetap, nomor urut caleg tetap atau bahkan naik, atau dari sisi publikasi yang mungkin dianggap lebih menjanjikan bagi caleg.

Selain proses rekruitmen, Arya juga menilai, keinginan mendapat nomor urut lebih baik, juga menjadi motivasi para caleg petahana hijrah dari partai lama. Alasan lain,
jika dilihat dari sisi dapil, partai menerima caleg yang pindah lantaran menginginkan perolehan kursi di dapil asal caleg tersebut.

“Dari sisi motivasi partai, sebagian besar partai memang menarik caleg-caleg petahana tersebut adalah karena mereka menyadari bahwa di dapil tersebut mereka tidak punya kursi. Tujuan partai menerima caleg-caleg itu adalah pertama, karena mereka ingin mendapatkan kursi baru, kedua ingin menambah perolehan kursi,” paparnya.

Dengan alasan tersebut, Arya menilai NasDem sebagai partai yang cerdik. NasDem disebutnya mampu ‘membajak’ caleg-caleg petahana yang sudah siap tempur sehingga tidak perlu lagi bekerja keras.

“Karena caleg petahana itu sudah punya pengalaman, sudah punya basis massa, sudah punya pemilih yang jelas, sudah punya jaringan. Paket komplit lah. Keuntungannya bagi partai, tentu mereka berharap ada penambahan suara, apalagi 20 (dapil) itu 11 (dapilnya) mereka nggak punya kursi, 9-nya NasDem udah punya kursi. Jadi mereka ingin tambah lagi kursinya. Jadi memang itu mungkin cara yang dilihat oleh NasDem. Mereka ‘bajak’ caleg-caleg yang udah ‘jadi’, jadi mereka nggak perlu dari awal lagi kerjanya,” sebutnya.

Amunisi caleg yang bermigrasi ke NasDem, menurut Arya, akan punya daya dongkrak untuk menaikkan elektabilitas partai pimpinan Surya Paloh itu. Pasalnya, caleg-caleg yang pindah ke NasDem dinilai sudah memiliki basis massa yang kuat di dapil masing-masing.

“Dugaan saya akan ada (elektabilitas), karena caleg ini punya pengalaman memobilisasi massa, punya pengalaman politik, punya jam terbang. Tapi seberapa besar efeknya ke NasDem itu yang kita belum tahu. Yang jelas ada, karena ini ‘barang’ sudah jadi. Ibarat barang bagus ini tinggal di-maintain dengan baik aja,” pungkasnya.

Berdasarkan data CSIS, NasDem menerima paling banyak caleg pindahan, yaitu 6 dari Hanura, 5 dari Gerindra, 3 dari Demokrat, 2 dari PKB, 2 dari PAN, dan 2 dari PPP, dengan total 20 caleg. Sementara itu, Hanura menjadi partai yang paling banyak kehilangan caleg petahana yang pindah, yaitu 6 ke NasDem dan 1 caleg ke PAN.

Sebaliknya, Aarya menilai, Partai Hanura menjadi partai yang paling banyak kehilangan caleg yang pindah.

“Partai yang banyak caleg-calegnya pindah itu berasal dari Partai Hanura, itu sebanyak 7. Padahal kalau kita lihat, kursi Partai Hanura di DPR itu hanya 16. Dari 16 kursi Partai Hanura di DPR, hampir setengahnya itu pindah partai lain. Anda bisa bayangkan bagaimana partai ini bertahan, bertahan untuk bisa mendapatkan kursi lagi di DPR,” ujar Arya.

Menurut Arya, motivasi caleg untuk pindah partai salah satunya dipengaruhi adanya konflik internal di partai yang lama, seperti yang terjadi di Partai Hanura atau PPP.

“Misalnya Hanura, terjadi konflik yang tidak berkesudahan antara fraksinya OSO dan fraksinya Suding, dan Suding sekarang pindah ke PAN di dapil yang sama. Pola yang sama juga terjadi di PPP, akibat ada konflik internal, kemudian beberapa caleg menyeberang ke partai lain. Konflik antara fraksi Romahurmuziy dengan fraksinya Jan Fariz,” jelas Arya.