Kecam Tragedi Bom Makassar, Rektor Unesa Ajak Semua untuk Tidak Menyebarkan Informasi yang Meresahkan

0
126

Surabaya NAWACITAPOST – Seluruh Civitas Academica Unesa memberikan tanggapan terkait tragedi Bom di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan yang terjadi pada Minggu (28/3/2021). Rektor Unesa mewakili semua keluarga besar Unesa menyampaikan rasa prihatinnya atas tragedi tersebut. Hal itu disampaikan Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes saat memberikan sambutannya dalam acara Pengukuhan Guru Besar dan Tasyakuran Prestasi Unesa pada Senin (29/3/2021).

Pria yang disapa Cak Hasan itu menyampaikan bahwa keluarga besar mengecam segala bentuk teror bom. Dia melanjutkan, apapun alasannya, apapun motifnya tindakan yang mengancam jiwa dan raga orang lain adalah tindakan yang tidak bisa dimaafkan dan dibiarkan tumbuh di tengah masyarakat Indonesia.

“Tragedi ini cukup menyayat hati seluruh bangsa Indonesia, termasuk keluarga besar Unesa. Semoga ini adalah kejadian terakhir dan kita sebangsa dan setanah air bisa hidup damai dan bersatu dalam ukhuwah dan rasa nasionalisme,” ucapnya lantang.

Di depan para Guru Besar, Civitas Academica Unesa dan tamu undangan yang hadir, Nurhasan mengimbau semuanya agar tidak terpengaruh atau terpancing dengan informasi yang belum jelas asal muasal dan sumbernya. Dia juga menekankan agar seluruh pihak tidak menyebarkan informasi yang meresahkan, baik berupa video, gambar maupun dalam bentuk berita. “Dengan kejadian seperti ini, justru kita harus mengambil peran untuk saling menguatkan dan mendamaikan satu sama lain,” teganya.

Nurhasan menambahkan bahwa seluruh Rektor di bawah naungan Majelis Rektor PTN, termasuk Unesa mengeluarkan delapan pernyataan sikap khusus terhadap tragedi Bom tersebut. “Saya Rektor Unesa menyampaikan rasa prihatin dan berbelasungkawa serta duka yang mendalam kepada seluruh korban. Semoga tetap tabah dan diberikan kesabaran,” ujarnya. “Setiap perguruan tinggi, termasuk Unesa berkomitmen untuk tidak memberikan ruang bagi berkembanganya ajaran-ajaran kekerasan atau radikalisme di kampus,” pungkasnya. (HMS/BNW)