Baca Juga : Secara Tegas, Presiden Jokowi Minta Dihentikan Agresi Israel Kepada Palestina
Di Palestina ada warga beragama Kristen, dan Yahudi. Jumlahnya memang minoritas. Sementara Islam banyak. Demikian di Israel, penduduk beragama Islam ada, bahkan urutannya setelah orang Yahudi yang 75 persen, justru Kristen urutan ketiga.
Berbagai pengamat Timur Tengah sepakat, bahwa konflik Palestina dan Israel bukan menyangkut Agama antara Islam Vs Kristen. Melainkan ada aspek kewilayahan, dan dua agama tersebut sepertinya terjebak dalam konflik kepentingan.
Terkait serangan kedua belah pihak ; Hamas (Palestina jalur Gaza) menyerang dengan roket dan Israel menggempurnya melalui serangan udara. Di Pihak Palestina ada korban jiwa mencapai ratusan termasuk anak-anak, demikian pula pihak Israel ada korban jiwa puluhan termasuk anak-anak.
Menurut Hamas, Israel yang mengusir penduduk Palestina di tanah wilayahnya. Sementara Israel menyebut Hamas yang melancarkan serangan duluan dengan ribuan roket ke Israel. Siapa yang benar dan salah duluan, janganlah kita memposisikan diri sebagai hakim.
Namun perlulah kita merujuk pada peristiwa 28 tahun lalu, sebenarnya pemimpin Palestina Kharismatik (alm) Yaser Arafat (kelompok Fatah) dan Shimon Peres (Israel) Tahun 1993 telah bersepakat berdamai.
Melahirkan perjanjian perdamaian Oslo pertama, diperkuat Oslo 2 Tahun 1994 bertema sama. Hasil dari perjanjian damai itu, Keduanya mendapat Nobel perdamaian. Boleh dibilang aksi kedua negara berdamai sudah dilakukan secara baik dan benar.
Lalu, kenapa sekarang masih ada konflik terjadi. Ternyata yang berdamai dengan Israel kelompok Fatah. Padahal di Palestina ada kelompok satu lagi namanya HAMAS. Dalam dokumen resminya yang sempat beredar dan dipublikasikan terbatas. HAMAS jelas-jelas menolak berdamai dengan Israel. Jadi perdamaian Oslo 1 dan 2, bagi HAMAS tidak berefek dan dianggap tidak ada.
Terkait (alm) Yaser Arafat, istrinya penganut Kristen Koptik yang taat. Dan Arafat menghormatinya, bahkan mengantar dan menunggu istrinya di pintu Gereja.
Jadi perlu dipertegas, bahwa konflik Palestina - Israel, bukan terkait agama (Kristen -Islam). Kedua agama itu terjebak dan digunakan oleh kelompok kepentingan yang tak bertanggung jawab untuk tujuan memperkeruh suasana.