Jenderal Andika Perkasa Marah, Jangan Seret Tentara Dalam Politik

0
716
KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa

Jakarta, NAWACITAPOST – KAMI yang digawangi mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo dengan jelas dalam pernyataan keberbagai media mendukung gerakan demo menolak Omnibus Law (8/10/2020 dan 13/10/2020). Demo itu berujung rusuh, dan 9 orang tokohnya ditangkap serta ditahan. Tak mau dibilang pengecut dan tidak bertanggung jawab. Gatot dan sejumlah pentolannya bertandang ke Bareskrim Mabes Polri. Tujuan utamanya menjenguk rekannya yang ditahan. Karena waktunya menjenguk bukan di jam yang tepat. Maka rombongan Gatot pun tak bisa bertemu dengan mereka yang ditahan. Jadi bukan karena ada intervensi dari Istana.

Baca Juga : Polri Bersinergi dengan Pemerintah, SKCK Pelajar Berdemo Tidak Diterbitkan

POLISI dibantu TNI sebagai aparat keamanan wajib menjaga keamanan dan kenyamanan setiap warga Indonesia dan warga asing lainnya. Apalagi berkaitan dengan aksi demo yang terjadi kemarin. Berujung rusuh dan anarkis. Sebagian aktor intelektualnya sudah ditangkap dan ditahan Polisi.

Demo itu juga sengaja membenturkan sesama anak bangsa, melalui pesan media sosial sengaja di sebar. Yang lebih tragis pesannya. Secara sengaja mereka membenturkan antara polisi dan tentara.

Secara tegas KSAD, Jenderal TNI Andika Perkasa ke tentara  bahwa tidak perlu fasilitasi dan bisa dipidana jika memberi bantuan kepada pendemo anarkis. Pesan ini jelas ditujukan kepada Gatot Nurmantyo walaupun tidak menyebut nama.

Bahkan menantu mantan Kepala BIN Jenderal TNI (Purn) A.M Hendropriyono mengucapkan ini dengan nada marah kepada mantan Jenderal TNI yang memanfaatkan tentara dalam aktivitas politik.

Demo Menolak Omnibus Law Berujung Anarkis

Jenderal Andika secara tegas mengingatkan agar anggotanya memahami dan taat pada aturan hukum, agar tidak perlu membantu demonstran atau perusuh. Jangan ada lagi kejadian anggota TNI yang memberi nasi bungkus atau air. Karena itu sudah masuk pada pelanggaran dan akan dikenai sanksi hukum.

Pernyataan Jenderal Andika ini menjadi kekuatan Jokowi membersihkan ‘musuh-musuhnya’. Sebab pendemo anarkis ini hanya memperalat aksinya. Tujuan sebenarnya menurunkan ayah Gibran Rakabuming Raka dari jabatan Presiden. Aksinya gagal, secara otomatis menurunkan Jokowi gagal total.

Yang didapat pendemo. Khususnya kelompok KAMI. Perpecahan internal semakin terjadi. Eggy Sudjana meminta pertanggungjawaban Gatot, terkait penangkapan aktivis kelompok ini. Sedangkan Gatot dikalangan jenderal tentara purnawirawan sudah mendapat nilai negatif.