Waspada Propaganda Khilafah di Indonesia

0
552

Jakarta, NAWACITAPOST- Masih ingat dengan Hizbut Tahir Indonesia disingkat HTI. Organisasi ini sudah dibubarkan karena menganut paham khilafah.

Baca Juga : Khilafah Berulah, Jokowi Akan ‘Gigit’ Sendiri

Khilafah adalah paham yang berusaha memaksakan kehendak kepada semua orang untuk mendirikan negara atas dasar agama tertentu.

Walaupun organisasi ini sudah bubar bukan berarti pahamnya juga bubar dan ikut dikubur. Mereka kerap terlihat disosial media, bahkan di beberapa aksi bendera HTI masih tetap berkibar dimana-mana.

Dengan propaganda mereka terus tebarkan. Arahnya cuma mengajak umat beragama  mayoritas untuk mau bergabung dengan barisan mereka.Tujuannya sudah bisa ditebak menyudutkan dan menjelekan pemerintah dengan tuduhan yang tidak masuk akal

Mereka ini walaupun kerap melakukan kekerasan. Namun juga pintar mengobral dan mengumbar kata dengan memainkan logika berpikir kepada pembacanya. Dan itu dilakukan para pendakwah.

Seperti disampaikan Edi Jatmiko dalam tulisannya di Baliekspress 26 Desember 2019 yang menyatakan bahwa postingan dari pendakwah Ust Felix Siauw tentang “Mayoritas rasa Minoritas” dalam postingannya tersebut dirinya membuat perbandingan-perbandingan yang tak logis mengenai umat Islam dan umat beragama lainnya. Dia ingin menggambarkan bahwa p umat Islam sebagai yang mayoritas sering dianak tirikan oleh pemerintah.

Teknik propaganda tersebut kata Edy sering digunakan oleh pendakwah seperti Felix Siauw dan pendukungnya, teknik tersebut dikenal sebagai metode cherry picking yaitu permainan argumen yang menekankan pada kasus atau data individual yang dipandangnya dapat mengkonfirmasi suatu posisi.

Pada saat yang bersamaan, Ia juga menghiraukan bagian signifikan dari kasus atau data terkait yang berseberangan dengan posisi tersebut.

Singkatnya, dirinya hanya mengambil data yang cocok untuk kepentingannya dengan mengabaikan keseluruhan data. Oleh karena itu, seringkali kesimpulan yang diambil mengandung kesesatan logika.

Hal tersebut diolah dan dimainkan oleh para propaganda khilafah untuk menyesatkan pikiran pembacanya agar mendukung perjuangannya yakni mendirikan khilafah di Indonesia.

Dan itu menular kepada para pengikutnya yang mulai berani mengambil sikap untuk memusuhi pemerintah dan masyarakat yang dianggap tak sepaham.

Padahal kita tahu bersama bahwa Indonesia itu bukan milik satu agama dan satu suku ataupun satu golongan tertentu. Dasar pijakan kita membangun Indonesia adalah karena Bhineka Tunggal Ika yang dilandasi Pancasila

Perbedaan adalah modal dari bangsa ini yang setiap tanggal 17 Agustus kita merayakan ulang tahun kemerdekaannya. Saat menjelang kemerdekaan ini kita seharusnya sadar dan bangkit karena kita berbeda untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Jelas dan terang benderang bahwa paham pro radikal atau yang berbau khilafah tidak ada lagi tempat di bumi pertiwi, dan mereka ini sudah jelas tidak bisa diajak membangun bangsa. Baginya merekalah yang benar dan sah di republik ini.

Sekali lagi jika paham khilafah berupa propaganda dipaksakan, potensinya adalah benturan yang bisa menimbulkan perpecahan dan sepertinya itulah yang diharapkan mereka. Bukankah mereka ini suka mengadu domba dan memecah belah sesama anak bangsa?

Sejarah kita Indonesia pernah mengalami peristiwa pemberontakan dalam negeri yang banyak memakan korban jiwa banyak. Pemberontakan DI/TII, PKI Madiun, PKI 1965 serta pemberontakan lainnya. Toh pemberontakan itu berhasil kita rontokan berkat hadirnya Bhineka Tunggal Ika yang dimiliki dalam jiwa sanubari kita.

Sudah sangat jelas bukan? Bahwa Ideologi khilafah selain terlarang merupakan gerakan yang dapat mengancam kedaulatan NKRI, dan sudah tepat pemerintah berhak melarang dan membubarkannya.