Dipecat PAN, Amien Rais Gelandangan Politik

0
1323

Jakarta,NAWACITAPOST-Awal orde reformasi bergulir orang ini mengklaim dirinya adalah tokoh reformasi. Kemudian hasil reformasi salah satunya melahirkan puluhan partai politik.

Baca Juga : Maman Imanulhaq: Partai PAN dan Partai PKS Tidak Jelas

Partai Amanat Nasional (PAN) pun salah satu lahir dari orde ini. dan pendirinya bukan hanya Amien Rais, ada yang lain seperti Albert Hasibuan, Goenawan Mohammad, Abdilah Toha, dan Toety Heraty. Selanjutnya dia menjadikan dirinya sebagai koordinator pendiri PAN dan Ketua Umum, sampai akhirnya menghantar dia menjadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Disinilah peran yang dipaksakan mulai sedikit kelihatan, ketika pemilihan presiden masih menggunakan format melalui MPR. Dia bak menjelma sebagai orang yang berjasa mengantar Gus Dur sebagai Presiden, gumamnya. Namun saat itu juga dia merobek-robek demokrasi akal sehat, yang selama ini dia koarkan dan kobarkan.

Partai pemenang pemilu PDI Perjuangan yang harusnya menjadi Presiden, dengan akal bulusnya dia tukar sebagai wakilnya Gus Dur.

Caranya dengan melempar isu perempuan yang tak layak menjadi nomor satu di republik ini. Pikirnya dengan Gus Dur Presiden maka dia bisa leluasa dan mempengaruhi ayahnya Yeny Wahid.

Ternyata, harapan dia bertepuk sebalah tangan. Gus Dur tak bisa diajak kompromi. Menitipkan orang masuk di kabinet atau jabatan negara lainnya adalah perannya juga. Namun tak ditanggapi oleh Gus Dur. Kecewa dan marah berkecamuk menghinggapinya.

Isu penggulingan Gus Dur pun dia gulirkan. Kasus Bulog Gate dan Bunei Gate di jadikan isu oleh ayah Hanum Rais kepada suami Shinta Nur Wahid. DPR yang diketuai Akbar Tanjung akhirnya menggelar sidang paripurna.

Ujung dari sidang itu DPR mengusulkan kepada MPR untuk mernggelar juga sidang paripurna dengan agenda utama mengganti atau menjatuhkan Gus Dur Sebagai Presiden.

Amien Rais lah yang mengusulkan dan mengetuk palu sidang istimewa yang juga sebagai Ketua MPR berandil besar dalam lengsernya Gus Dur.

Sikapnya pun tak berubah, malahan menjadi-jadi. Meningkat arahnya ketika Jokowi ditetapkan sebagai calon presiden. Berjanji dan bersumpah, jika mantan Gubernur Jakarta jadi Presiden, maka dia akan jalan kaki dari Yogyakarta ke Jakarta. Janji tinggal janji, sampai hari ini tidak terealisasi janjinya. Tepatnya itu hanya omong doang atau omdo saja.

Semakin liar pernyataannya. Isu partai setan dan partai agama dilontarkan padahal dia pernah memimpin lembaga keumatan terbesar di Indonesia dan menyandang Gurubesar. Pokoknya politik identitas yang bermuatan SARA kental dimainkan oleh orang ini. Segala cara digunakan, pokoknya yang tak sepaham dengannya dianggap musuh.

Tragisnya, ketika kongres PAN 2020 di Kendari yang melahirkan kepengurusan yang sama yaitu Zulkifli Hasan yang juga besannya terpilih menjadi Ketua umum, sedangkan calon yang diusung kalah dalam kongres itu.

Tak terima dia, kemudian berkoar-koar tak karuan, katanya dia diusir oleh partai yang dia dirikan. Sudah nampak jelas bahwa kedewasaan politik dia masih belum matang dan dewasa, jika dilihat dari umbarannya ke media mungkin juga media sosial yang seolah-olah dizalimi.

Tapi tipe orang seperti ini adalah orang yang paginya A sorenya bisa berkata B alias tidak bisa dipegang pendiriannya. Berarti benar ramalan Gus Dur bahwa Amien Rais akan menjadi gelandangan politik dalam hidupunya.