Mungkinkah Garuda bisa Terbang dengan Separuh Sayap?

1
269
Jakarta, NAWACITA - Selama seminggu kita disuguhi berita dari media massa dan sosial media, semua tertuju kepada Garuda. Yang dibahas dan dibacarakan adalah tentang sosok dirut Garuda yang terlibat dalam penyeludupan moge berserta sparepart nya.
Mungkinkah Garuda bisa Terbang dengan Separuh Sayap?

Jakarta, NAWACITA – Selama seminggu kita disuguhi berita dari media massa dan sosial media, semua tertuju kepada Garuda. Yang dibahas dan dibacarakan adalah tentang sosok dirut Garuda yang terlibat dalam penyeludupan moge berserta sparepart nya. Sudah bisa ditebak , AA dikuliti oleh nitizen. Bukan saja soal kebijakannya tetapi juga soal pribadinya. Saya tidak mau terlibat membahas soal pribadi AA. Karena informasi yang saya terima, masih bersifat bias. Dan lagi engga penting amat membahas soal AA. Dia itu hanya profesional yang bagaikan dash diatas tungku. Kapan saja bisa dibuang keluar.

Baca Juga: Jokowi Benahi BUMN

Saya lebih suka masalah skandal penyelundupan Moge ini dijadikan momentum untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap Garuda. Karena masalah Garuda ini sudah ada sejak era Soeharto. Pembelian pesawat dilakukan dengan Mark up dan sumbernya dari utang. Jadi sebelum beroperasi pesawat itu, sudah berpotensi gagal bayar utang. Jumlah pesawat yang dimiliki Garuda adalah enam unit Airbus 330 dan enam unit Bombardier CRJ-1000. Karena kondisi keuangan udah ilegible untuk tarik utang beli pesawat, maka ditempuh jalur shadow banking yaitu leasing. Dari total 132 unit pesawat yang dioperasikan sebanyak 91% adalah sewa.

Anehnya, biaya sewa pesawat yang dikeluarkan lebih tinggi 1,5 hingga 2 kali lipat dibandingkan dengan maskapai pesaing lain di kawasan Asia Pasifik. Selain biaya leasing, Garuda masih diwajibkan menyetor biaya tambahan kepada lessor dengan jumlah yang tidak sedikit. Setiap tahun, Garuda harus membayar US$150 juta—US$200 juta dalam bentuk cadangan untuk biaya pemeliharaan pesawat atau Rp. 8 miliar perhari. Singkatnya 25% biaya operasional habis untuk biaya leasing ini. Belum lagi biaya avtur mencapai 30% dari biaya operasional. Sisanya untuk bayar utang dan bunga. Utang Garuda mencapai Rp. 43 triliun dan modal hanya Rp. 13 triliun. Benar benar berat cash flow Garuda.

Memang lebih besar pasak dari tiang. Struktur permodal tidak sehat. Pernah dilakukan restruktur permodalan dengan melepas saham lewat bursa. Tetapi tidak significant nilainya untuk mengatasi utang. Berharap nilai saham meningkat di bursa sehingga bisa sebagai trigger melakukan refinancing lewat penerbitan bond. Tetapi nilai saham malah terus turun sejak awal IPO. Agar cash flow terus jalan lewat berhutang, Garuda terpaksa mendapatkan jaminan dari Bank BUMN untuk menerbitkan bond. Itu karena collateral tidak cukup sebagai jaminan. Kalau Garuda gagal bayar maka Bank BUMN harus bailout. Konyolkan.

Baca Juga: Garuda Indonesia Merugi, Utang 49 Triliun

Selama gonjang ganjing soal skandal Direktur Garuda, saya tidak mendengar pernyataan dari Menteri BUMN sebagai pemegang saham Garuda langkah taktis dan strategis menyelamatkan Garuda dari resiko gagal bayar. Apakah masih menerapkan cara lama?. Minta Bank BUMN menjamin lagi ? Atau apa? Padahal ini momentum yang paling tepat agar DPR mau menyetujui langkah strategis Menteri BUMN untuk memperbaiki keuangan Garuda. Apakah Garuda tetap dimiliki mayoritas RI ataukah dilepas semua kepada swasta.

Saya dengar kabar, bahwa Erick telah menunjuk team handal untuk mempelajari masalah Garuda. Team ini akan memberikan rekomendasi kepada Menteri BUMN dan Menteri Keuangan. Harus ada keputusan. Terlambat , maka Garuda semakin terpuruk, dan bukan tidak mungkin nasibnya akan sama dengan Merpati. Saya engga mau ikutan budaya nyeletuk. Saya hanya tunggu hari hari kedepan, apa yang akan pemerintah lakukan terhadap Garuda. Kalau hanya ganti direksi tanpa dukungan konkrit mengatasi keuangan Garuda dan restruktur bisnis, maka itu hanya buying time. Saya harus ikhlaskan secuil saham Garuda yang saya pegang, and say good bye.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.