Jiwasraya yang tak Menjiwai, Modal Minus Rp 24 Triliun

15
176
Jakarta, NAWACITA - PR yang sangat besar yang harus di hadapi oleh Eric adalah masalah PT. Asuransi Jiwasraya, yang merupakan salah satu BUMN di bidang jasa keuangan (AJ).
Jiwasraya yang tak Menjiwai, Modal Minus Rp 24 Triliun

Jakarta, NAWACITA – PR yang sangat besar yang harus di hadapi oleh Eric adalah masalah PT. Asuransi Jiwasraya, yang merupakan salah satu BUMN di bidang jasa keuangan (AJ). Mengapa AJ sampai terbelit keuangan yang serius dan terancam bangkrut.? Saya akan jelaskan secara ringkas agar jelas duduk persoalannya dan selanjutnya terserah anda menilai. Mungkin ada diantara anda yang jadi perserta AJ.

Baca Juga: Selingkuh Profesional (BPJS, Dokter dan Farmasi)

Tidak ada perusahaan asuransi di dunia ini yang bangkrut. Mengapa ? karena dia menjamin resiko yang 99% aman. Aman bukan hanya karena produk nya yang terukur, tetapi juga skema re-insurance sudah established. Semua ongkos atas polis dibebankan kepada nasabah. Praktis premi yang didapat adalah uang mudah, yang bisa terus bertambah seiring semakin banyaknya orang paranoid akan resiko dan ketidak pastian masa depan, untuk membeli polis. Lantas ada apa dengan Jiwasraya sebenarnya? Mari perhatikan uraian di bawah ini.

Karena seni berkompetisi. Pemasaran asuransi tidak lagi menjual polisi secara konvensional tetapi juga menawarkan premi asuransi gratis lewat produk investasi. Namanya Unit link. Yang merupakan produk asuransi yang menggabungkan layanan asuransi dan investasi sekaligus. Saya tidak pernah tergoda dengan istilah gratis. Itu hanya alat marketing. Mana ada produk kapitalis gratis. Ya kan. Itu sama dengan harga diskon di mall, sebetulnya harga sudah dinaikan dulu sebelumnya dan kemudian diturunkan. Jadi tidak ada sebetulnya diskon. Itu hanya seni menjual.

Baca Juga: Jokowi: Revaluasi Asset BUMN, Intinya ROMBAK!

Jadi gimana skema Produk link itu ? Katanlah, anda berniat membeli produk link untuk sarana investasi dan sekaligus asuransi yang katanya gratis. Dari uang yang anda tanam pada unit link itu akan diambil terlebih dahulu untuk biaya asuransi ( cost of insurance ), biaya polis, biaya akuisisi : biaya yang berkaitan dengan pelayanan selama anda masih aktif, komisi agent termasuk bonus bagi agent yang berprestasi, biaya medical check up, biaya pembatalan polisi. Kemudian, biaya investasi, seperti biaya switchin -biaya untuk perpindahan dana kelolaan- biaya pengelolaan, dan biaya top-up atau dana tambahan untuk investasi. Semua itu diambil dari dana yang anda keluarkan untuk produk link?

Tentu biayanya cukup besar. Mengapa ? karena prduk link memang mata rantainya panjang. Anda harus melewati agent, perusahaan asuransi dan kemudian barulah manager investasi. Kalau investasi itu menghasilkan yield yang lebih besar dari biaya asuransi maka anda dibebaskan membayar biaya biaya itu, bahkan anda akan dapat yield atau imbal hasil. Tapi kalau investasi tidak berhasil maka uang yang anda tanam akan berkurang, bahkan bisa hilang. Jadi sebetulnya bagi perusahaan asuransi tidak ada resiko atas produk link ini. Yang pasti, jualan polis laku, dan komisi yield atas investasi juga dapat, kalau memang sukses program investasinya. Kalau gagal , perusahaan asuransi engga ada resiko. Sampai disini paham ya.

Baca Juga: Buta Hukum, Siapa Bilang Negara Sita Harta First Travel?

Sekarang , kembali kepada Jiwasraya. Produk yang dijual oleh Jiwasraya itu adalah produk link, yang dikemas dalam bentuk saving plan. Yang hebatnya, saving plan ini sangat mudah menjebak minat orang. Yang ragu dengan produk link, menjadi yakin. Caranya ? Produk ini disalurkan melalui dan ditawarkan oleh bank sebagai agen kepada nasabah bank yang disebut saluran bancaassurance. Bank itu tingkat trust nya sangat tinggi. Semua percaya, walau tahu bank tidak bertanggung jawab atas resiko investasi itu. Apalagi di iming imingkan dengan pendapatan diatas bunga bank. Dengan model pemasaran seperti ini , tentu banyak orang mudah percaya membeli produk ini.

Dalam hal kasus Jiwasraya, design dan cover produk link itu memang atasnama Jiwasraya. Tapi yang melakuan akad dan membuka invoice kepada nasabah bukan Jiwasraya tetapi anak perusahaan yang tidak ada kaitan kepemilikan dengan Jiwasraya. Mengapa? karena secara hukum perusahaan asurasi tidak dibenarkan melakukan dualisme bisnis. Uang yang terkumpul dari penjualan produk link itu di investasikan ke berbagai portfolio investasi. Yang bertindak sebagai manager investasi adalah perusahaan yang mendapat izin dari OJK. Bukan Jiwasraya.

Nah kalau ternyata program investasi itu gagal, apakah Jiwasraya harus bertanggung jawab? Ya, tidak. yang bertanggung jawab adalah perusahaan yang melakukan akad dan juga yang bertindak sebagai manager investasi. Lantas masalahnya ada apa dengan Jiwasraya? , yang sampai harus minta bailout dari pemerintah. Kan aneh. Yang menghamili si Badu, kenapa Amir yang tanggung jawab. Mikir???

Baca Juga: Bukan Sistem tetapi Mental

Saya kawatir , kasus Jiwasraya ini akan mirip dengan kasus Century, yang melibatkan PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia. Sebetulnya Bank century hanya alat marketing dari penjualan reksadana PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia. Uang nasabah lebih banyak masuk ke produk reksadana PT Antaboga Delta Sekuritas Indonesia, dan ternyata itu bisnis ponzy. Tekor. Uang habis. Mengapa bank Century harus tanggung jawab atas kerugian investasi Pt. Antaboga dan akhirnya pemerintah harus bailout. Kan engga ada kaitannya secara hukum antara Antaboga dengan Bank Century. Tapi yang terjadi adalah pemerintah bailout melalui LPS. Yang menghamili Badu, tapi yang bertanggung jawab Amir. Kan bego.

Pada Kamis (8/11/2019), Jiwasraya menyatakan kepada DPR membutuhkan dana mencapai Rp 32,98 triliun. Ini demi memperbaiki permodalan Jiwasraya sesuai ketentuan minimal yang diatur Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau risk based capital (RBC) sebesar 120%. Saya tidak tahu. Apakah kondisi neraca itu karena Jiwasraya telah melakukan bailout atau masih dalam kewajiban tertunda ( outstanding liabilities). Kalau sudah di bailout oleh Jiwasraya maka kisah skandal Century terulang lagi. Saya dapat simpulkan bahwa bailout ini lebih buruk , lebih fraud dibandingkan Century. Kalau Century nilainya Rp. 12 triliun, tapi ini Rp. 32 triliun.

Kalau belum dilakukan bailout atau masih outstading, maka pemerintah harus hati hati dan bersikap tegas sesuai hukum saja. Soal korban nasabah yang invest di produk saving plan, engga usah dipikirkan. Toh mereka selama ini sudah untung. Kalau sekarang rugi itu resiko mereka. Tidak ada investasi pasti untung. Semua tahu aturan itu. Kan engga bisa, waktu pacaran euforia. tetapi pas hamil minta orang lain tanggung jawab. Itu mah derita elo.

Erizeli JB (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.