Bukan Sistem tetapi Mental

40
428
Jakarta, NAWACITA - Ada SMS “When the world is ready to fall on your little shoulders, And when you're feeling lonely and small, You need somebody there
Bukan Sistem tetapi Mental

Jakarta, NAWACITA – Ada SMS “When the world is ready to fall on your little shoulders, And when you’re feeling lonely and small, You need somebody there ..” saya tersenyum. Dia selalu begitu bila ingin bertemu dengan saya. Petikan lagu you are only lonely adalah ciri khasnya untuk mengingatkan kepada saya bahwa dia tidak sendirian. Dia sahabat saya. Sehebat apapun rezim itu, pada akhirnya mereka akan jatuh. Demikian katanya mengawali ketika kami bertemu untuk minum kopi di Robot Cafe. Apa penyebabnya? Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Harvard’s Center for Public Leadership bahwa krisis ekonomi di Amerika dan kemudian merambat ke Eropa serta dunia karena akibat dari krisis kepemimpinan.

Baca Juga: Jokowi: Revaluasi Asset BUMN, Intinya ROMBAK!

Seluruh lembaga trias politica yang tergabung dalam sistem demokrasi mengalami demoralisasi kepemimpinan. Albert Hirschman mengatakan dalam esainya, Against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discourse: ketika politik mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri atau golongan, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri. Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu, sikap yang katanya tak diakui dan dianggap penting oleh ideologi resmi kapitalisme.

Kini memang terbukti: Pasar yang hanya mengakui bahwa rakus itu bagus seperti yang dikumandangkan oleh risalah macam The Virtue of Greed dan In Defense of Greed pada akhirnya terguncang oleh skandal Enron, Madoff, Lehman Brothers. Begitupula ketika Soeharto, SBY diujung kekuasaannya terungkap yang lama ditutupi dan akhirnya rupiah terpuruk dengan harga ikut pula melambung memenggal pendapatan para buruh, petani miskin.

Kebingungan terjadi, ketika para elite politik terbelah sikapnya paska Pilpres. Menurut teman itu bahwa sekarang kita meributkan mengenai apakah UU Pemilu langsung atau tidak langsung?. Setiap periode apabila ada masalah maka kita selalu menyalahkan UU. Padahal ini tidak ada hubungannya dengan UU. Ini berhubungan dengan akhlak. Apakah belum cukup bukti bahwa ini semua karena demoralisasi pemimpim, yang ditandai kesibukan duniawi sebatas ritual agama dan politik, yang apapun dimanfaatkan untuk memuaskan kerakusan.

Baca Juga: Kilang BBM Mulai Dibangun, Mafia Migas Dead

Apapun sistem baik asalkan semua pihak yang menjalankannya berakhlak baik. Inilah yang sering dilupakan oleh kita, dan anehnya para elite politik selalu menggunakan alasan sistem untuk mengaburkan kesalahan akibat demoralisasi politik. Imâm al-Ghazâlî dalam kitab Al-Arba´în fî Ushûl al-Dîn menjelaskan bahwa jiwa seseorang yang sudah terbiasa merasakan kenikmatan berbuat jahat maka dapat dipastikan akan sulit untuk bisa berbuat baik. Apalagi karena harta dan kekuasaan membuat dia terus mendapatkan kemudahan melakukan perbuatan maksiat itu.

Betul kata Jokowi , kita tidak perlu revolusi yang bernuansa politik. Itu sudah cukup. Dunia luar akan selalu brengsek dan itu tidak akan bisa diselesaikan dengan perbaikan sistem. Apapun itu. Kecuali hanya dengan perbaikan akhlak. Ya perbaikan akhlak, dalam bahasa mesranya, revolusi mental. Jadi sudah saatnya siapapun kita ,khususnya para elite politik harus mulai mau menNOLkan dirinya dan kemudian melakukan revolusi mental melalui perbaikan Akhlak.

Yakinlah bila ini menjadi upaya kolektif maka kebaikan, kebenaran dan keadilan akan menjadi bagian yang menghiasi kehidupan berbangsa dan bernegara, apapun sistemnya! Kalau tidak maka masa depan bangsa ini seperti lentingan Bob Dylan dalam lagu ballada Blowing in the Wind: How many times must a man turn his head/and pretend that he just doesn’t see/How many ears must one have/before he can hear people cry/How many deaths will it take till he knows/that too many people have died.

Erizeli (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.