Ternyata, ini Penduduk Asli Indonesia

0
1502
Sebetulnya dalam catatan sejarah pada awalnya Nusantara ini tidak bertuan. Semua penduduk adalah pendatang. Alias ngekos di Indonesia.
Ternyata, ini Penduduk Asli Indonesia

Jakarta, NAWACITA – Sebetulnya dalam catatan sejarah pada awalnya Nusantara ini tidak bertuan. Semua penduduk adalah pendatang. Alias ngekos di Indonesia. Tidak ada penduduk asli Indonesia. Kalau dilihat urutannya manusia modern di nusantara ini, pendatang pertama adalah suku melayu, Pendatang kedua adalah India, Pendatang ketiga adalah China (Tibet) , Pendatang keempat adalah Arab dan Semit ( Yahudi ). Kan aneh aja kalau china yang datang lebih dulu di nusantara ini dan setelah 400 tahun kemudian barulah datang orang Arab , dibilang Arab lebih asli dari China. Bahkan kalau mau jujur nenek moyang kita orang melayu berasal dari Yunan ( China selatan).

Baca Juga: Apakah INDONESIA?

Itulah dasarnya mengapa para pendiri negara kita menetapkan Bhineka Tunggal Ika, karena tidak ada satupun kita berhak mengclaim dia asli Indonesia. UU no. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia tidak melihat asal usul atau keturunan tetapi tempat kelahiran. Bahkan anak yang lahir di Indonesia walau kedua orang tuanya tidak jelas warga negara nya tetap diakui sebagai Warga negara Indonesia. Istilah pribumi dan non pribumi itu muncul di era kolonial Belanda sebagai bentuk dari politik adu domba. Dan anehnya setelah merdeka, istilah ini masih dipakai oleh sebagian orang.

Untuk lebih jelasnya saya uraikan secara singkat asal usul etnis yang ada di Indonesia. Tujuannya agar kita bijak menyikapi perbedaan. Jadi gimana ceritanya?

Pendatang pertama adalah Homo erectus yang melakukan migrasi panjang dari Afrika sekitar 1,8 juta tahun yang lalu. Homo erectus inilah penduduk yang paling lama tinggal di Nusantara yaitu sekitar 1,5 – 1,7 juta tahun! Mereka awalnya bermukim di Nusa Tenggara Timur, tepatnya Pulau Flores.

Pendatang kedua adalah Homo sapiens atau manusia modern juga berasal dari Afrika. Mereka datang dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung kira-kira 100 ribu tahun yang lalu, sedangkan gelombang kedua berlangsung kira-kira 50-70 ribu tahun yang lalu. Mereka dikenal dengan Suku Dani, Bauzi, Asmat, Amungme di Indonesia & Papua Nugini. Dari persebaran ini, diduga kuat bahwa hampir seluruh daerah Paparan Sunda dan Sahul (mencakup seluruh wilayah Indonesia) sempat dihuni oleh orang-orang berciri Melanosoid.

Baca Juga: Agnes Mo dan Nasionalisme

Pendatang ketiga adalah Homo sapiens, yaitu kelompok melayu-austronesia. Rumpun Austronesia ini merupakan rumpun yang sangat besar, mencakup suku Melayu, Formosan (Taiwan), Polynesia (Hawaii, Selandia Baru, dsb). Dari mana asalnya ? Semenjak tahun 2.000 SM sampai dengan tahun 500 SM (dari zaman batu Neolithikum hingga zaman Perunggu) telah terjadi migrasi penduduk purba dari wilayah Yunan (China Selatan) ke daerah-daerah di Asia bagian Selatan termasuk daerah kepulauan Indonesia. Perpindahan ini terjadi secara besar-besaran diperkirakan karena adanya suatu bencana alam hebat atau adanya perang antar suku bangsa.

Orang-orang Melayu yang datang ke Nusantara juga secara umum bisa dibagi dua: Melayu yang mager dan Melayu yang bukan meger. Melayu-melayu mager telah berhasil menciptakan masyarakat yang stabil sehingga sudah tidak diperlukan lagi mobilisasi penduduk. Keturunan Melayu golongan pertama ini bisa kita liat pada suku Nias di Pulau Nias dan suku Dayak di pedalaman Kalimantan, yang juga biasa disebut sebagai “Proto Melayu”.

Melayu yang bukan merger adalah golongan melayu yang karena alasan tertentu (misalnya: kondisi geografis, iklim, bencana, dll) merasa perlu untuk terus berpindah tempat sekaligus berinteraksi dengan kelompok lain di sekitarnya, sehingga memungkinkan adanya percampuran budaya, bahasa, serta gen. Keturunan Melayu yang mobile ini salah satunya adalah yang berasal dari suku Minangkabau, Jawa, Banjar, Bugis, Makassar, Bali, Lombok, Batak, Aceh, Madura, Minahasa, dan puluhan suku-suku lain yang kita kenal di Indonesia serta biasa disebut sebagai “Deutero Melayu”

Baca Juga: Jejak Nabi Sulaiman di Borobudur, Mungkinkah?

Pendatang keempat adalah Sino-Tibetan, Dravidian, dan etnis Semitic. Dalam periode kurang lebih seribu tahun setelah kedatangan etnis Melayu di Nusantara, peradaban dan kebudayaan Austronesia berkembang semakin kompleks dan mulai melakukan interaksi perdagangan dengan kebudayaan lainnya. Ternyata, interaksi perdagangan sekelompok masyarakat Austronesia di Nusantara ini berkembang menjadi sangat ramai. Sampai akhirnya Nusantara ini mengundang kedatangan banyak pedagang dari peradaban luar.

Ada tiga gelombang pendatang. Pertama orang dravida (India) memulai perjalanannya lebih dulu ke daerah Nusantara untuk berdagang sejak abad 1 masehi. Sedangkan kedua, pendatang Sino-Tibetan (China/Tionghoa) baru melakukan eksplorasi besar-besaran diperdagangan Nusantara sejak dinasti Han runtuh awal abad 3 masehi. Sementara ketiga, itu orang Semit ( arab dan Yahudi ) mulai pertama kali berdatangan ke pulau Sumatera untuk berdagang dan menyebarkan agama pada abad 7 Masehi.

Nah, sesama ngekos di nusantara ini, sebaiknya rukun sajalah. Engga usah merasa paling berhak satu sama lain. Pada akhirnya nilai kita di Indonesia ini bukan diukur paling kencang teriak nasioalisme, tetapi seberapa besar kita bermanfaatkan untuk negara dan bangsa.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)