Tampillah Apa Adanya, Bukan karena Adanya Apa?

2
207
Jadi...kalau ingin mendapatkan the truth maka tampillah apa adanya..jangan gunakan topeng; rumah mewah, mobil mewah, pakaian mewah, dan segala aksesori bermerek yang seakan pribadi kita berhubungan dengan merek barang yang kita gunakan.
Tampillah Apa Adanya, Bukan karena Adanya Apa?

Jakarta, NAWACITA – Pada suatu waktu saya bertemu dengan relasi dalam pembicaraan business. Relasi ini usianya diatas saya. Saya butuh kemitraan secara strategis dalam membangun proyek. Tanpa basa basi, awal pertemuan dia sudah menyerang saya dengan bahasa terkesan melecehkan saya. Bukan hanya business plan yang dilecehkan tapi juga back ground saya dipertanyakan. Walau begitu saya tetap tenang mendengar semua kata katanya. Tak ada sedikitpun saya marah. Karena memang yang disampaikannya secara logika benar.

Baca Juga: Percakapan Singkat Babo dan Netizen soal Izin FPI

Disamping itu saya senang bahwa dia berkata keras karena dia sudah membaca business plan saya dan dia bersikap dengan itu. Namun menjelang akhir pertemuan dia melirik pada jam tangan saya. Seketika raut wajahnya berubah dan gaya bicaranya berubah..seakan dia sudah melupakan kata katanya.

Usai pertemuan, direksi saya senang. Tapi saya tidak. Saya tegaskan bahwa 30 menit pertama bicaranya adalah the truth. Itu yang harus kita perhatikan dan kembali ke dia lagi setelah kita bisa menjawab semua keraguannya. Soal menit terakhir kata katanya, lupakan saja. Mengapa ? karena dia melirik jam tangan saya. Saya tidak mau dia kehilangan objecifitasnya hanya karena dia melihat apa yang saya pakai. Saya butuh dia sebagai mitra bukan sebagai lender yang harus saya sembah dengan penampilan, yang kadang menipu. Setelah itu jam tangan itu saya jual dalam lelang terbatas.

Apa yang saya suka di rumah bersama istri? karena saya merasa kembali sebagai putra dari ibu saya. Saya tidak perlu menyembunyikan apapun di hadapan istri. Saya telanjang lahir batin di hadapannya. Dia bisa seenaknya melarang saya mengambil barang di rak super market karena tahu saya gambang tergoda dengan kemasan. Dia juga bisa menegur keras saya bila terlambat makan, karena dia tahu saya kadang lupa makan kalau asyik kerja. Dia juga bisa menegur keras saya untuk hal yang sederhana. Namun dari sikapnya yang terbuka dan tidak melihat topeng pada diri saya, tanpa disadari diapun telah berperan merubah pribadi saya lebih baik.

Baca Juga: Ternyata, ini Penduduk Asli Indonesia

Jadi…kalau ingin mendapatkan the truth maka tampillah apa adanya..jangan gunakan topeng; rumah mewah, mobil mewah, pakaian mewah, dan segala aksesori bermerek yang seakan pribadi kita berhubungan dengan merek barang yang kita gunakan. Hanya orang lemah yang bergantung kepada benda, karena manusia itu cukuplah Tuhan sebagai penilai dan penentu, dan juga tempat bergantung.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.