Apakah INDONESIA?

1
124
Sebelum Proklamasi kemerdekaan, nama Indonesia sebagai bangsa belum ada. Ketika itu di nusantara ini berkuasa beberapa kerajaan atau kesultanan.
Apakah INDONESIA?

Jakarta, NAWACITA – Sebelum Proklamasi kemerdekaan, nama Indonesia sebagai bangsa belum ada. Ketika itu di nusantara ini berkuasa beberapa kerajaan atau kesultanan. Masing masing kesultanan atau kerajaan itu punya nama sendiri sebagai negara. Ketika era Kolonial sebetulnya bukanlah sepenuhnya Belanda menjajah tetapi lebih kepada legitimasi kerajaan kepada Belanda untuk mengelola sumber daya Alam. Ada bagi bagi untung antara kerajaan dan Belanda. Walau faktanya akhirnya peran Belanda sangat luas sampai hak menetapkan pajak dan memungut pajak, tapi lagi lagi itu memang bagian dari hak konsesi yang belanda dapat dari kerajaan.

Baca Juga: Agnes Mo dan Nasionalisme

Nama Indonesia kali pertama diperkenalkan oleh George Samuel Windsor Earl pada tahun 1847. Ini bukan berkaitan nama negara atau bangsa tapi nama etnis. Dalam artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations, Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (“nesos” dalam bahasa Yunani berarti “pulau”). Menurutnya yang cocok itu bukan Indunesia tapi Malayunesia. Mengapa ? sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu. Jadi Papua dan NTT, Timor Timur tidak termasuk sebagai Indunesia.

Kemudian, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago, dia menghilangkan “u” pada indunesia , menjadi Indonesia. Kalau Earl menyebut Indunesia dengan pendekatan etnografi tetapi menolaknya dan mendukung “Malayunesian”. Tapi Logan menyebut nama Indonesia dengan pendekatan geografis murni. Jadi “Indonesia” itu hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia. Ya nama Indonesia bukan nama Negara atau kerajaan.

Tahun 1920an paham kebangsaan atau nasionalisme sedang hit di Eropa. Saat itu para pelajar Indonesia yang tinggal di Eropa seperti M. Hatta. Tan Malaka, Sjahrir, dan lain lain juga ikut gandrung terhadap paham nasionalisme. Tahun 1925 Tan Malaka menulis ” Naar de Republiek Indonesia ( Menuju Republik Indonesia ). Inilah kali pertama buku tentang Politik kebangsaan ditulis secara terpelajar. Karena Tan Malaka sudah menyebut nama Indonesia sebagai sebuah bangsa dan akan menjadi Republik. Pendekatan Tan bukan kepada etnis tetapi geographi. Bukuk Tan ini jadi inspirasi bagi kaum pergerakan kala itu, khususnya kaum terpelajar. Tahun 1928 keluarlah sumpah Pemuda tentang tanah air, bangsa, dan bahasa adalah satu, yaitu Indonesia.

Baca Juga: Jejak Nabi Sulaiman di Borobudur, Mungkinkah?

Jadi kalau kita bicara Indonesia, itu bukan soal etnis, apalagi soal agama. Tetapi tentang geographis. Pancasila itu harus diakui sebagai bagian dari politik kebangsaan ala Indonesia yang beragam etnis, suku dan agama. Nah nilai nilai kebangsaan itu di bingkai dalam Pancasila. Sementara politik kebangsaan itu tertuang dalam UUD dan UU. Kalau orang masih saja bicara tentang perbedaan suku, etnis dan agama, sebetulnya dia tidak paham hakikat dari nasionalisme.

Bagaimanapun bicara Indonesia tidak seharusnya melupakan nama Tan Malaka yang kali pertama memperkenalkan konsep Indonesia dalam politik kebangsaan. Mungkin kalau Tan tidak pernah menulis tentang Indonesia, buku berjudul”Indonesia Vrije ( Indonesia merdeka) tidak akan pernah ditulis oleh Muhammad Hatta pada tahun 1928. Dan tidak mungkin Soekarno pada tahun 1933 menulis ” menuju Indoensia Merdeka”. Karena baik Hatta maupun Soekarno terinspirasi dari tulisan Tan Malaka. Tapi sejarah menenggelamkan Tan Malaka, hanya karena paham komunisme nya. Itulah Indonesia! Engkau ku banggakan.

Erizeli Jely Bandaro (Pecinta Kebijaksanaan)

Comments are closed.